Raih double Scudetto-Supercoppa pertama sejak 1990, Antonio Conte justru menolak disebut penguasa baru Italia. Padahal, Napoli berhasil menahbiskan diri sebagai raja Supercoppa Italiana usai menaklukkan Bologna dengan skor meyakinkan 2-0 di Riyadh, Arab Saudi, Selasa (23/12) dini hari WIB.
Semarak.co – Kemenangan mengesankan ini menjadi tonggak sejarah baru bagi Partenopei, yang untuk pertama kalinya sejak 1990 sukses mengawinkan gelar Scudetto dengan trofi Supercoppa dalam satu musim yang sama.
David Neres muncul sebagai pahlawan tak terbantahkan. Dalam pertandingan yang berlangsung ketat dan seru, Neres sukses memborong dua gol kemenangan, menegaskan dominasi Napoli di ajang ini meski harus tampil tanpa sejumlah pilar utama.
Laga final yang mempertemukan juara liga dan pemenang piala domestik ini berlangsung sengit di babak pertama. Bologna, yang melaju ke final setelah menyingkirkan Inter Milan lewat adu penalti, sempat memberikan perlawanan alot.
Namun, kualitas individu pemain Napoli dan kecerdikan taktik Conte menjadi pembeda. Absennya nama-nama besar, Kevin De Bruyne dan Andre Frank Zambo Anguissa tidak menghalangi laju Napoli untuk mengangkat trofi pertama mereka musim ini di bawah asuhan Conte.
Di sisi lain, kekalahan ini menjadi pil yang amat sangat pahit bagi tim berjuluk Vincenzo Italiano dan pasukannya yang berharap mengukir sejarah bagi tim papan tengah Serie A Bologna dalam partisipasi perdana mereka di piala Supercoppa.
Kesalahan fatal di lini belakang yang berujung pada gol kedua Napoli menjadi momen penentu yang meruntuhkan semangat juang Rossoblu. Meski kalah, Bologna tetap mendapatkan apresiasi atas perjalanan luar biasa mereka.
Dengan pasukan Bologna berhasil melintasi proses pertandingan babak penyisihan yang lumayan berat dan mampu menembus final saja, sudah sebuah pencapaian yang membuktikan kebangkitan klub bersejarah tersebut.
Neres menjadi sosok sentral dalam kemenangan Napoli malam itu lewat aksi individu nan memukau. Pemain asal Brasil tersebut memecah kebuntuan di menit ke-37, menerima bola dari lemparan ke dalam sebelum mengecoh bek lawan.
Berhasil mengecoh bek lawan yang kalah duel, ia lalu melepaskan tembakan melengkung kaki kiri yang indah dari luar kotak penalti, bersarang di pojok atas gawang Bologna tanpa bisa dijangkau maksimal oleh kiper.
Tidak berhenti di situ, Neres kembali mencatatkan namanya di papan skor pada babak kedua untuk mengunci kemenangan. Ia memanfaatkan kelengahan kiper Bologna, Federico Ravaglia, yang melakukan kesalahan fatal saat mencoba membangun serangan dari belakang.
Dengan cerdik, sang ‘Brazillian brilian’ David Neres berhasil mencuri bola kemudian dengan refleks mencungkilnya melewati penjaga gawang Bologna dari sudut sempit, sebuah penyelesaian akhir yang tenang dan mematikan.
Performa gemilang ini mendapatkan pujian khusus dari sang pelatih, Conte, yang mengakui kualitas individu Neres namun tetap menekankan kerja tim. “Gol pertama adalah momen magis dari seorang individu, tetapi peluang lainnya semua dipersiapkan dengan menganalisis cara menyulitkan Bologna,” ucapnya.
Dua gol ini menasbihkan Neres sebagai bintang utama final dan membuktikan kedalaman skuad Napoli. Meski tanpa De Bruyne dan Anguissa, Neres mampu memikul beban serangan dan memberikan trofi bagi Partenopei. Ini adalah bukti rekrutan baru Napoli mampu beradaptasi cepat dan memberikan dampak instan di laga krusial.
Kebangkitan Duo “Buangan” MU
Selain Neres, sorotan juga tertuju pada performa impresif Rasmus Hojlund dan Scott McTominay, dua pemain yang menemukan kembali performa terbaiknya di salah satu kompetisi terbaik di dunia, Serie A Italia.
Hojlund menunjukkan etos kerja luar biasa dengan pergerakan tanpa bolanya yang terus meneror pertahanan Bologna, sementara McTominay menjadi dinamo lini tengah yang tak kenal lelah, bahkan nyaris mencetak gol lewat tendangan voli akrobatik.
Conte pasang badan membela kedua pemain ini dari kritik masa lalu mereka saat masih di Manchester United. Dengan nada menyindir, Conte berkata: “Semua orang dulu mengatakan Rasmus tidak bermain di Manchester, begitu juga McTominay, jadi mengapa? Tanyakan pada diri Anda sendiri beberapa pertanyaan di sana. Staf dan saya memiliki pekerjaan yang harus dilakukan, ada alasan kami ada di sini.”
Transformasi ini menjadi bukti tangan dingin Conte dalam memoles potensi pemain yang sempat meredup. Di Napoli, klub yang pernah dihuni megabintang Maradona, McTominay diberi kebebasan untuk merangsek ke kotak penalti, peran yang sangat ia nikmati.
Sementara Hojlund, meski tidak mencetak gol di partai final yang berlangsung sangat ketat, menegangkan dan seru, berperan krusial dalam membuka ruang bagi Neres dan rekan-rekannya melalui pergerakan cerdasnya.
Keberhasilan integrasi duo eks-Setan Merah ini memberikan dimensi baru bagi permainan Napoli. Absennya pilar lini tengah lama tidak terlalu terasa berkat kontribusi fisik dan taktik yang mereka peragakan sangat prima.
Antonio Conte, eks pelatih kepala Tottenham Hotspurs musim lalu, berhasil membuktikan bahwa dengan sistem yang tepat, pemain yang dianggap “gagal” di satu klub bisa membawa angin segar dan menjadi juara di klub lain.
Bagi Bologna, final ini menyisakan penyesalan mendalam akibat kesalahan sendiri di lini pertahanan. Gol kedua Napoli yang dicetak Neres bermula dari blunder kiper Ravaglia yang gagal mengoper bola dengan baik kepada Jhon Lucumi.
Kesalahan elementer dalam build-up play di pertandingan ini harus dibayar sangat mahal oleh mereka. Dan ini mematikan momentum pasukan Bologna yang sedang berusaha keras untuk bangkit menyamakan kedudukan.
Pelatih Bologna Vincenzo Italiano menyadari kesalahan tersebut namun menolak untuk menyalahkan pemainnya secara terbuka. Ia memberikan pembelaan emosional bagi kipernya: “Ravaglia melakukan hal-hal hebat” di pertandingan sebelumnya.
“Dia mengalami sedikit masalah, tetapi itu tidak mengubah apa pun. Dia sangat peduli dengan klub ini, seolah-olah dia memiliki tato warna Bologna di kulitnya,” ujar manajer/pelatih Bologna Vincenzo Italiano dengan nada sedikit gusar.
Meski kecewa, Italiano mengakui superioritas Napoli di laga tersebut dan memuji performa lawan. “Napoli menampilkan performa fantastis, kami memberikan semua yang kami miliki, tetapi tidak dapat meningkatkan level kami untuk menandingi mereka,” ujar Italiano dengan sportif.
Ia menyadari bahwa timnya kalah kelas menghadapi juara bertahan liga yang sedang dalam performa puncak. Kekalahan ini menjadi pelajaran berharga bagi Bologna yang baru pertama kali tampil di ajang Supercoppa.
Meski kalah, mereka telah menunjukkan semangat juang tinggi dan kualitas untuk mencapai final. Italiano kini memiliki tugas berat untuk mengangkat moral timnya agar kesalahan individu di laga besar tidak menghantui perjalanan mereka di sisa musim.
Conte kembali membuktikan dirinya sebagai jaminan mutu dalam meraih trofi, menekankan bahwa di final, kemenangan adalah satu-satunya hal yang penting. Ia merefleksikan pengalaman pahitnya sendiri kalah di berbagai final untuk memotivasi timnya agar tidak merasakan hal yang sama.
Bagi Antonio Conte yang dikenal bertangan dingin, bermain bagus saja tidak cukup jika tidak diakhiri dengan mengangkat piala. Dalam konferensi pers, Conte memberikan pandangan filosofis yang tajam mengenai memori sepak bola.
“Saya bisa memberi tahu Anda bahwa tidak ada yang repot-repot mencari finalis yang kalah, karena saya sudah kalah banyak sebagai pemain dan pelatih… Ketika Anda kalah di Final, itu meningkatkan tekad Anda, dan Anda mencoba untuk tidak mengalami momen-momen buruk itu lagi,” tegasnya.
Mentalitas “menolak kalah” inilah yang berhasil ditanamkan Conte ke dalam skuad Napoli. Mereka tampil sangat efisien dan pragmatis, menyelesaikan turnamen dengan rekor sempurna: mengalahkan AC Milan dan Bologna dengan skor identik 2-0 tanpa kebobolan.
Conte menyebut perjalanan timnya sebagai “turnamen yang tanpa cela”. Keberhasilan ini melengkapi koleksi trofi Conte dan menegaskan status Napoli sebagai kekuatan dominan saat ini. Trofi Supercoppa ini menjadi “ceri di atas kue” setelah perjalanan luar biasa mereka meraih Scudetto.
Conte memastikan bahwa sejarah akan mencatat kampiun Serie A musim ini, Napoli versi ini sebagai pemenang, bukan sekadar tim yang bermain indah. Tapi lebih dari itu. Selain indah, dia juga efektif tanpa membuang-buang peluang.
Conte Menolak Label Penguasa Baru
Meski baru saja meraih double bersejarah (Scudetto & Supercoppa), Conte menolak dengan keras anggapan bahwa Napoli kini adalah penguasa tunggal sepak bola Italia. Ia tetap merendah dan realistis melihat persaingan yang ada, terutama mengingat banyaknya perubahan dalam skuadnya.
Sikap ini diambil untuk menjaga para pemainnya tetap menapak bumi dan waspada. Conte bersikeras bahwa timnya belum siap untuk mendominasi total seperti dinasti Juventus di masa lampau yang sarat prestasi mengesankan.
“Saya tidak bisa mengatakan kami siap untuk menguasai, karena kami bahkan belum dekat untuk siap. Kami memenangkan gelar musim lalu dengan skuad yang sangat terbatas, kami memperkenalkan banyak pemain baru musim panas ini,” jelas Conte.
Conte bahkan menetapkan target yang sangat moderat untuk kompetisi liga, yakni hanya berusaha bertahan di zona Liga Champions Eropa yang masih sulit dijangkau. “Memprediksi empat besar akan sangat sulit,” tambahnya.
Antonio Conte sadar betul bahwa musim kompetisi masih sangat panjang dan konsistensi di kompetisi Serie A Italia adalah tantangan yang jauh lebih berat daripada memenangkan turnamen dalam format yang pendek.
Pernyataan diplomatis ini mungkin merupakan strategi psikologis Antonio Conte untuk melepaskan tekanan yang teramat berat dari pundak pemainnya, demikian dilansir goal.com dari AFP pada 23 Desember 2025.
Dengan memosisikan diri sebagai tim yang masih “belajar” dan “belum siap”, ia berharap Napoli bisa tampil lepas tanpa beban ekspektasi berlebih. Namun, dengan dua trofi di tangan, sulit bagi publik untuk tidak melihat Napoli sebagai standar emas sepak bola Italia saat ini. (net/gc/afp/kim/smr)





