Mereka Yang Rayain, Lu Yang Nge-Gas

51

Oleh Ustadz Felix Siauw Official

semarak.co-Akhir tahun masehi sudah tiba dan seperti biasa banyak yang bertanya, mungkin karena saya pernah berada dalam posisi yang merayakan. Biasa, “Bagaimana hukumnya memberi selamat Natal atau ikut dalam perayaan Natal, meski kita tidak ikut dalam keimanan mereka?”, dan yang semisalnya.

Dari dulu saya menyampaikan dengan jelas, bahwa perkara ini termasuk “tasyabbuh” atau menyerupai kebiasaan yang bukan kebiasaan Muslim. Rasulullah melarang kita untuk menyerupai orang yang bukan Muslim, apalagi ikut dalam perayaan dan ibadah mereka, sederhana, bagimu agamamu, bagiku agamaku.

Bisa jadi banyak yang beralasan, ini “cuma ucapan”, kita tetap beriman kok. Ya silakan bila ingin punya pendapat lain, tugas saya hanya sampaikan fatwa ulama. Yuk belajar untuk mencukupkan diri dengan Islam. Pelajari dulu Islam dengan matang, supaya kita punya dasar ketika melakukan sesuatu atau berkata sesuatu

Lalu ada yang bilang, “Ah kamu intoleran! Kita hidup bersama mereka, kan nggak enak kalau nggak ngucapin hari raya mereka!?”, begitu biasanya.

Memang aneh, perayaan orang lain, keyakinan orang lain, yang nge-gas malah dia, yang merayakan santai-santai aja, mungkin lebih toleran dari yang nge-gas itu. Ayah saya, tidak pernah mempermasalahkan anaknya yang tak mengucapkan selamat natal, baginya kalau itu memang keyakinan agama, mereka hormati juga.

Tapi yang baper kan Muslim yang selah paling toleran, lalu mempermasalahkan kaum Muslim yang hanya ingin membiarkan Natal, tanpa ikut dan mengucapkan. Lagipula, kita selalu menghormati kawan-kawan Nasrani yang ingin merayakan Natal, kita pun beriman pada Yesus Kristus, Isa Almasih dalam Al-Qur’an.