Militer Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan terhadap Iran
setelah insiden penembakan sebuah kapal kontainer di Selat Hormuz. Washington menuduh pasukan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyerang kapal sipil yang melintas di jalur strategis tersebut.
Semarak.co – Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan serangan terbaru diluncurkan pada Minggu (12/7) pukul 23.15 GMT atau sekitar pukul 02.45 waktu Teheran. Operasi militer itu disebut dilakukan atas arahan Presiden Donald Trump sebagai respons terhadap tindakan Iran.
Dalam pernyataannya, CENTCOM menegaskan bahwa AS
mengambil langkah untuk melemahkan kemampuan Iran dalam melancarkan
serangan terhadap kapal sipil maupun komersial di Selat Hormuz.
Washington menilai keamanan pelayaran internasional harus tetap terjaga.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, mengatakan Iran harus menanggung konsekuensi atas tindakannya. Menurut dia, keputusan Teheran menyerang kapal yang melintas di Selat Hormuz menjadi alasan utama dilakukannya operasi militer terbaru oleh Paman Sam.
Sementara itu, Garda Revolusi Iran sebelumnya mengumumkan penutupan
Selat Hormuz hingga waktu yang belum ditentukan. Keputusan tersebut
diambil setelah pasukan Iran melepaskan tembakan peringatan ke sebuah kapal yang disebut menggunakan jalur pelayaran tidak sah.
Dalam keterangan yang dikutip kantor berita IRNA, seperti dilansir CnnIndonesia.com (12/7/2026), Garda Revolusi menyatakan kapal tersebut akhirnya berhenti setelah terkena tembakan peringatan. Iran juga menegaskan Selat Hormuz akan tetap ditutup hingga intervensi di kawasan berakhir.
Iran turut memeringatkan akan menyerang pangkalan-pangkalan musuh
di kawasan apabila terjadi aksi militer lanjutan terhadap negaranya.
Pernyataan tersebut menandai meningkatnya eskalasi konflik yang dalam beberapa hari terakhir terus diwarnai aksi saling serang.
Ketegangan terbaru ini dinilai semakin mengancam upaya penyelamatan jalur diplomasi antara AS dan Iran. Salah satu hambatan terbesar dalam perundingan adalah status Selat Hormuz, di mana Teheran ingin memertahankan kendali, sementara Washington menuntut kebebasan navigasi tanpa pembatasan. (net/cnn/irn/kim/smr)





