Koperasi dan Pendemi Covid 19

Opini oleh Agung Sudjatmoko

semarak.co -Pendemi covid 19 telah terjadi di hampir negara-negara seluruh dunia. Munculnya wabah ini telah merubah peta ekonomi dunia. Sistem perdagangan internasiinal, hubungan politik, sistem komunikasi internasional dan sistem sosial dan politik di seluruh negara mengalami diatrupsi hebat.

Perubahan itu memberikan dampak luar biasa atas tata ekonomi dan sosial. Pada tataran mikro dalam lingkup lokal, pendemi telah menyadarkan arti penting kesadaran bersama saling menjaga, hubungan antar manusia, lingkungan, sanitasi dan kesehatan,dan yg tidak kalah adalah dinamika ekonomi masyarakat.

Pada aspek kesehatan kita disadarkan covid 19 menjadi indikator tingkat kesehatan, ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan di tingkat nasional, provinsi dan kabupaten/kota. Pada perspektif ekonomi telah terjadi rontoknya tatanan ekonomi di masyakat dan dunia usaha.

Berbagai kesulitan perusahaan mempertahankan kinerja bisnis menyebabkan, penutupan operasi/produksi, kebangkrutan, kesulitan suply dan distribusi membawa dampak pemutusan hubungan kerja (PHK), peningkatan jumlah pengangguran, gejolak sosial dan meningkatkan kriminalitas di kalangan masyarakat. Ini fenomena 3 bulan setelah munculnya wabah covid 19.

Pada tataran global covid 19 membawa dampak yang sama bahkan telah merontokan sistem perdagangan dunia yang sangat mendasar jatuhnya harga minyak dan lalu lintas perdagangan antar negara.

Banyak ahli meramalkan pendemi covid 19 akan menyebabkan krisis global yang akan merubah tatanan dunia baru. Kekuatan ekonomi suatu negara tidak cukup tanggung menghadapi pendemi global. Perlu perubahan tata ekonomi dan interaksi dunia untuk menjaga keseimbangan ekonomi, sosial dan lingkungan.

Kondisi Koperasi

Koperasi sebagai badan usaha juga mengalami dampak covid 19. Usaha koperasi mengalami penurunan omset, laba dan pelaksanaan kegiatan organisasi baik penyelenggaraan rapat anggota maupun pendidikan anggota.

Koperasi sektor jasa keuangan sangat merasakan dampak karena maningkatkan NPL, karena ketidakmampuan anggota membayar pinjaman, serta pengambilan simpanan anggota di koperasi.

Sudah banyak koperasi yang mengalami kesulitan mencari dana pinjaman karena kebutuhan likuiditas koperasi. Kondisi ini jika di biarkan akan menyebabkan kesulitab koperasi untuk bangkit kembali. Sangat dasyat dampak pendemi covid 19 untuk bisnis dan usaha koperasi.

Saya melihat data dan fakta bawa koperasi kredit yang di bangun atas dasar pelaksanaan prinsip koperasi dengan benar mengalami kenaikan NPL sebesar 14,8%, padahal biasanya NPL kopdit tersebut berkisar diangka 5%.

Kejadian ini terjadi pada akhir tahun 2019 dimana dampak kovid 19 sudah terjadi walaupun kejadianya di Wuhan China. Tetapi banyak anggota kopdit tersbut yang berlatar belakang buruh pabrik. Kontribusi partisipasi anggota dari kelompok buruh pabrik inilah yang menyumbang tingginya NPL karena kelompok ini memberikan kontribusi 7% atas NPL.

Wabah covid yang sangat dasyat ini selain merontokan siatem bisnis yang telah ada. Diatrupsi ekonomi, sosial, dan sendi kehidupan bermasyarakat dan bernegara terjadi secara cepat.

Ini sebagai momentuk untuk negara menata ulang sistem bernegara yang lebih efisien, terbuka dan berorintasi pada pemabangunan manusia secara paripurna. Meletakan strategi pembangunan yang tepat membutuhkan  percepatan meningkatkan kualitas serta kesehatan manusia.

Di tengah pendemi covid 19 ini, di lain pihak memberikan peluang bisnis yang besar. Bappenas pendemi memberikan peluang usaha yaitu:  a) telemedicine untuk melayani kesehatan masyarakat berbasis online, b) smart manufacturing dimana dengan menggunakan teknologi tinggi bisnis akan terus berkembang seperti cetak 3D untuk memproduksi masker, produk ventilator portable dan peralatan medis menghadapi pendemi dan lain sebagainya, c) e commerce, d) digital payment, e) digitalisasi dan industri 4.0, f) perubahan pola rantai pasok ke arah digital supply network, g) perubahan tren konsumen berbasis teknologi dan kepentingan kesehatan untuk kesejahteraan.

Koperasi Bangkit

Kehancuran tatanan sosial, ekonomi, dan lingkungan telah menyadarkan kita untuk melakukan perubahan. Sebelum terjadinya pendemi covid 19, saat terjadi distrupsi ekonomi dan sosial  karena revolusi industri, semua pelaku usaha harus melakukan perubahan untuk mengadaptasi perubahan.

Saat ini lebih menyadarkan lagi bahwa koperasi harus segera mengadaptasi teknologi, membangun digitalisasi manajemen, membangun sistem komunikasi dg anggota berbasis teknologi dan lebih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan akan kesehatan, kesejahteraan dan kepedulian pada lingkungan. *

*Penulis Dosen di Universitas Binus, Mantan Ketua Harian Dekopin

LEAVE A REPLY