Kesepakatan Selat Hormuz Kembali Menjauh, Ketegangan AS-Iran Meningkat

Harapan tercapainya kesepakatan Amerika Serikat (AS) dan Republik Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz kembali meredup. Perundingan menghadapi tuntutan baru yang berpotensi memerumit upaya diplomatik kedua negara itu dan dunia internasional.

Semarak.co – Presiden AS Donald Trump mengatakan Republik Iran harus membayar kompensasi atas kerugian dan kematian terkait konflik. Tuntutan tersebut menambah persoalan baru dalam negosiasi pembukaan jalur pelayaran strategis dalam waktu dekat ini.

Bacaan Lainnya

Iran sebelumnya mengajukan sejumlah persyaratan kepada Washington sebelum bersedia membuka kembali Selat Hormuz. Teheran menuntut perubahan sikap Amerika sebagai bagian penting dari pemulihan lalu lintas kapal secara bertahap dan hati-hati.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling strategis dunia. Seperti dilansir kantor berita Inggris, Reuters (11/9/2026), gangguan berkepanjangan dapat memengaruhi pengiriman minyak, biaya transportasi, asuransi kapal, serta harga bahan bakar global bagi banyak negara lain.

Kantor berita Reuters melaporkan bahwa ekspor minyak melalui Selat Hormuz turun menjadi sekitar tiga juta barel per hari pada pekan berakhir tujuh Agustus 2026, dibandingkan 4,4 juta barel sebelumnya dalam beberapa hari terakhir ini.

Situasi itu membuat pasar energi kembali gelisah. Harga minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate melonjak, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap kemungkinan gangguan pelayaran yang berkepanjangan di pasar energi global dunia.

Perundingan sempat menunjukkan kemajuan setelah Paman Sam menyatakan terdapat perkembangan positif dalam pembicaraan yang melibatkan Iran dan Oman. Negara timur tengah itu berperan penting sebagai mediator diplomatik kedua pihak dalam perkembangan terbaru.

Namun, tuntutan kompensasi terbaru dari Trump kembali memerlebar jarak antara Washington dan Teheran. Kedua pihak, secara diplomatik, masih berbeda pendapat mengenai beberapa hal, seperti, antara lain, keamanan pelayaran, kompensasi serta persyaratan politik lainnya.

Trump juga mengklaim bahwa AS memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz. Menurut pernyataan terbaru Washington, AS sebelumnya melakukan operasi untuk membersihkan ranjau yang diyakini menghambat pelayaran di kawasan itu.

Pernyataan itu menunjukkan Washington tidak hanya mengandalkan diplomasi. Kehadiran militer Amerika di kawasan tetap menjadi faktor penting dalam memberikan tekanan kepada Iran selama krisis berlangsung di kawasan tersebut saat ini.

Di sisi lain, Teheran tetap menjadikan pembukaan Selat Hormuz sebagai bagian dari negosiasi lebih luas mengenai hubungan dengan Washington dan penghentian konflik yang berlangsung sebelumnya hingga kini secara bertahap.

Kebuntuan negosiasi langsung memengaruhi pasar energi. Investor mengkhawatirkan gangguan lebih lama terhadap jalur perdagangan minyak dan gas, sehingga harga energi berpotensi kembali meningkat secara signifikan dalam kondisi itu sekarang.

Kenaikan harga minyak dapat memberikan efek berantai terhadap biaya transportasi, produksi industri, listrik serta harga berbagai barang. Negara yang bergantung impor energi menjadi paling rentan dalam jangka pendek.

Risiko juga tidak hanya berasal dari jalur strategis Selat Hormuz. Gangguan yang terjadi di Laut Merah dan Bab el-Mandeb turut serta meningkatkan premi asuransi serta memerbesar risiko terhadap arus energi internasional bagi perdagangan energi global.

Meski peluang kesepakatan menghadapi hambatan, jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Pembicaraan melalui Oman menunjukkan kedua pihak masih memiliki kepentingan menemukan mekanisme untuk memulihkan pelayaran melalui jalur diplomasi langsung dan damai.

Masalah utama sekarang adalah bagaimana Washington dan Teheran menyelesaikan perbedaan mengenai kompensasi, keamanan pelayaran serta tuntutan politik yang lebih luas tanpa memicu eskalasi konflik baru secara damai dan terukur kembali.

Dengan harga minyak meningkat dan perdagangan melalui Selat Hormuz terganggu, tekanan terhadap kedua pihak semakin besar. Dunia kini menunggu apakah diplomasi mampu mencegah krisis energi global untuk kepentingan bersama. (net/rts/kim/smr)

Pos terkait