Kendati Didesak Amerika, Suriah tetap Tolak Intervensi Hizbullah Lebanon

Mengapa Suriah tetap menolak untuk mengintervensi kelompok Hizbullah di Lebanon? Padahal, Amerika Serikat (AS) lewat Presiden AS Donald Trump telah mendesak pemimpin Suriah (Presiden Ahmad Asy Syaraa) untuk menghadapi kelompok milisi di Lebanon tersebut.

Semarak.co – Presiden Trump, beberapa hari lalu, menyarankan kepada pemimpin Suriah agar mengerahkan pasukan untuk memasuki Lebanon demi memerangi Hizbullah. Pernyataan kontroversial Trump tersebut muncul setelah spekulasi berpekan-pekan mengenai keterlibatan Damaskus.

Bacaan Lainnya

Kendati begitu, pemerintah Suriah berulang kali membantah memiliki intensi untuk terseret dalam konflik regional tersebut. Dalam pernyataannya pada Selasa (16/6/2026), Trump mengritik tajam strategi militer Zionis Israel dalam melawan Hizbullah di Lebanon.

Trump menilai Israel telah bertempur terlalu lama dan menyebabkan terlalu banyak korban jiwa sipil. Ia menyoroti serangan Israel ke Beirut dan pinggiran selatannya yang dinilai menargetkan blok apartemen yang dihuni warga sipil yang bukan seluruhnya anggota Hizbullah.

Wacana intervensi ini muncul di tengah mencairnya hubungan antara Washington dan Damaskus. Sejak Presiden Suriah saat ini, Ahmad Asy-Syaraa, yang berhasil menggulingkan rezim Bashar al-Assad pada Desember 2024.

Sejak itu, hubungan kedua negara (Amerika Serikat dan Suriah) mengalami perbaikan yang sangat signifikan. Semakin baik. Donald Trump dan Syaraa dilaporkan telah bertemu tiga kali dan disebut memiliki kecocokan hubungan personal.

Namun, di lapangan, seperti dilansir Arrahmah.id pada 18/6/2026, Syaraa dengan tegas menepis desas-desus intervensi tersebut. “Apa yang disebarkan mengenai Suriah masuk ke Lebanon tidak lebih dari sekadar rumor,” ujarnya pekan lalu.

Para pengamat dan internal Suriah memandang usulan Trump sebagai langkah yang sangat berbahaya. Setelah 14 tahun perang saudara yang menghancurkan, publik Suriah tidak memiliki selera untuk terlibat dalam konflik asing.

Penulis Suriah, Robin Yassin-Kassab, menyebut tindakan Amerika Serikat yang dilontarkan Presiden Trump tersebut sangat tidak bijak jika dilakukan demi kepentingan Zionis Israel, negara yang menduduki wilayah Lebanon dan Suriah.

Mengingat komposisi sektarian yang kompleks, tentara Suriah yang masuk ke wilayah Lebanon (selatan) dikhawatirkan akan dipersepsikan oleh kelompok (agama) Kristen, Druze dan sekte Syiah Lebanon sebagai pasukan jihadis Sunni.

Intervensi Suriah di Lebanon pada 1976 berakhir dengan kebencian publik yang mendalam. Setelah pendudukan militer selama puluhan tahun pasca-perang saudara, Suriah akhirnya dipaksa menarik pasukannya pada 2005 menyusul pembunuhan mantan PM Lebanon Rafik al-Hariri.

“Tidak mungkin pemerintah Suriah melakukan itu. Anda bisa mengritik Ahmed al-Sharaa (Ahmad Asy Syaraa) dalam banyak hal, tetapi dia tidak bodoh dan Anda harus bodoh untuk melakukan apa yang dibicarakan Trump,” tegas Yassin-Kassab.

Ketegangan antara Suriah dan Hizbullah memiliki sejarah yang panjang dan berdarah. Selama perang saudara Suriah, Hizbullah bersama kelompok bersenjata yang didukung Iran secara aktif melakukan intervensi membela rezim Bashar al-Assad.

Mereka terlibat dalam pertempuran sengit melawan Free Syrian Army dan kelompok pemberontak lainnya, bahkan turut berpartisipasi dalam pengepungan kota-kota oposisi yang menyebabkan terjadinya kelaparan massal di wilayah tersebut.

Saat ini, meski hubungan diplomatik AS-Suriah membaik, tantangan besar bagi kepemimpinan baru Suriah adalah menjaga kedaulatan tanpa harus kembali terseret dalam permainan proksi regional yang pernah menghancurkan negara mereka selama lebih dari satu dekade. (net/aid/ryk/kim/smr)

Pos terkait