Siap Menjadi Pemimpin, Siap Menjadi Prajurit

Ilustrasi grafis untuk seorang pemimpin. Foto: wagrup fbm

Oleh Anonym *)

Semarak.co – Dalam perjuangan dakwah, setiap kader harus memiliki jiwa yang seimbang:

Bacaan Lainnya
  • siap memimpin ketika diberi amanah,
  • dan siap taat ketika menjadi anggota/prajurit.

Kemenangan dakwah tidak hanya lahir dari banyaknya pemimpin, tetapi juga dari banyaknya kader yang ikhlas mendukung dan taat dalam barisan.

—

  1. Kepemimpinan adalah Amanah

Allah ﷻ berfirman:

> إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa: 58)

Pemimpin dalam dakwah bukan jabatan untuk dibanggakan, tetapi amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

> كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

—

  1. Siap Menjadi Prajurit yang Taat

Dalam dakwah, tidak semua orang berada di depan. Ada yang menjadi penggerak utama, ada pula yang menjadi pendukung setia. Semua memiliki nilai di sisi Allah jika ikhlas.

Allah ﷻ berfirman:

> وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ

“Taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian berselisih sehingga kalian menjadi lemah dan hilang kekuatan kalian.” (QS. Al-Anfal: 46)

Ketaatan kepada pemimpin yang berada dalam kebenaran adalah bagian dari kekuatan jamaah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

> عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ

“Wajib atas seorang muslim untuk mendengar dan taat, pada perkara yang ia sukai maupun tidak sukai, selama tidak diperintahkan berbuat maksiat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

—

  1. Ukuran Kemuliaan adalah Keikhlasan, Bukan Jabatan

Sering kali manusia ingin tampil sebagai pemimpin, tetapi enggan menjadi pelaksana. Padahal dalam dakwah, yang paling penting bukan posisi, melainkan kontribusi dan keikhlasan.

Allah ﷻ berfirman:

> إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Bisa jadi seorang “prajurit dakwah” yang ikhlas lebih mulia di sisi Allah daripada seorang pemimpin yang mencari pujian manusia.

—

  1. Teladan Para Sahabat

Para sahabat Nabi ﷺ siap berada di posisi apa pun:

  • Kadang memimpin pasukan,
  • Kadang dipimpin orang lain,
  • Kadang berada di depan,
  • Kadang menjadi pelaksana tugas biasa.

Mereka tidak sibuk mengejar posisi, tetapi sibuk mencari ridha Allah.

—

Penutup

Kader dakwah sejati adalah:

  • siap memimpin tanpa sombong,
  • siap dipimpin tanpa membangkang,
  • siap tampil tanpa riya,
  • siap bekerja di belakang layar tanpa kecewa.

Karena tujuan dakwah bukan mencari kedudukan, tetapi memenangkan agama Allah.

> اللَّهُمَّ اسْتَعْمِلْنَا فِي طَاعَتِكَ وَلَا تَسْتَبْدِلْنَا

“Ya Allah, gunakanlah kami dalam ketaatan kepada-Mu dan jangan Engkau gantikan kami.”

*) penulis belum ditemukan sampai artikel ditayangkan. Jika kelak ada yang mengklaim dengan bukti yang valid, otomatis akan dilakukan koreksi. Redaksi

 

Sumber: WAGroup FBM Jakarta Barat (post Juni 2026/)

Pos terkait