Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) di satuan pendidikan nonformal menunjukkan tren positif. Ujian yang menjadi bagian dari sistem evaluasi pendidikan nasional berlangsung tertib, terstandar, dan semakin akuntabel di berbagai Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
Semarak.co – Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Tatang Muttaqin menjelaskan perbedaan model pelaksanaan antara PKBM mandiri dan kolaboratif menunjukkan TKA memberikan ruang adaptasi bagi satuan pendidikan nonformal.
“Pendekatan ini dinilai efektif dalam menjawab tantangan khas PKBM, seperti heterogenitas usia, kesibukan pekerjaan, serta keterbatasan sarana dan prasarana,” katanya, dirilis humas usai acara melalui WAGroup Mitra BKHumas Fortadik, Selasa malam (14/4/2026).
Tatang juga menegaskan bahwa pelaksanaan TKA yang semakin tertib dan terstruktur menandai pergeseran penting dalam sistem evaluasi pendidikan nonformal. Jika sebelumnya fleksibilitas menjadi ciri utama, kini keseimbangan antara fleksibilitas dan standar menjadi kunci.
TKA tidak hanya berfungsi sebagai alat evaluasi, tetapi juga sebagai instrumen strategis untuk meningkatkan kredibilitas lulusan pendidikan nonformal. Dalam konteks ini, peran Kemendikdasmen semakin penting dalam memastikan arah kebijakan, standar, dan mutu pendidikan nasional.
Model TKA Mandiri di PKBM Bina Cipta Ujungberung
Potret TKA Mandiri terlihat di PKBM Bina Cipta Ujungberung Bandung. Pelaksanaan TKA Paket B (setara SMP) pada 11–12 April 2026 berjalan lancar dengan tingkat kehadiran mencapai 100%. Sebanyak 26 warga belajar mengikuti ujian dalam dua sesi per hari.
Kepala PKBM Bina Cipta Ujungberung Santi Susilawati mengungkapkan bahwa keberhasilan tersebut tidak terlepas dari strategi penguatan komitmen peserta sejak awal. Dari jauh hari pihaknya sudah membangun komitmen dengan warga belajar agar hadir di setiap sesi.
Menurut Santi, penyesuaian jadwal pada akhir pekan menjadi langkah strategis yang tetap selaras dengan ketentuan nasional, namun responsif terhadap kebutuhan warga belajar.
Selain itu, pelaksanaan ujian juga diawasi secara berlapis oleh Dinas Pendidikan Kota Bandung, penilik PAUD dan Dikmas tingkat kecamatan, serta pengawas eksternal dari PKBM lain sehingga memastikan akuntabilitas dan integritas pelaksanaan.
Kesiapan teknis menjadi perhatian utama dalam pelaksanaan TKA mandiri. PKBM Bina Cipta Ujungberung melakukan simulasi dan gladi bersih, menyiapkan teknisi khusus, serta mengantisipasi kendala dengan menyediakan perangkat cadangan.
“Kami bahkan menambah kapasitas internet agar warga belajar lebih tenang saat mengerjakan. Kalau ada gangguan sistem, harus langsung ditangani,” jelas Santi menambahkan.
Ia menambahkan bahwa penerapan sistem ujian berbasis waktu yang ketat turut mendorong kedisiplinan peserta. Berbeda dengan praktik sebelumnya yang lebih longgar, kini peserta dituntut hadir tepat waktu karena sistem akan otomatis tertutup setelah batas waktu berakhir.
Santi menyebut pemahaman manfaat TKA menjadi faktor pendorong untuk meyakinkan pentingnya mengikuti ujian tersebut. Banyak peserta yang mengikuti ujian karena menyadari TKA dapat menunjang kebutuhan administratif dan profesional, seperti melanjutkan pendidikan, kenaikan jabatan, hingga seleksi aparatur sipil negara.
Tinjau Persiapan TKA SD, Wamendikdasmen Dorong Siswa Lebih Percaya Diri
Menjelang pelaksanaan TKA jenjang SD pada 20 hingga 30 April 2026, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, meninjau langsung kesiapan pelaksanaan TKA di satuan pendidikan di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat.
Wamen Fajar mengunjungi siswa kelas VI SD Dwijendra Mataram yang tengah melakukan latihan soal TKA mata pelajaran Matematika di kelas. Ia turut berinteraksi dan bergabung bersama siswa menggunakan Papan Interaktif Digital (PID) untuk mengerjakan soal cerita berbasis logika.
Fajar juga menegaskan bahwa TKA merupakan bagian dari proses belajar, bukan penentu kelulusan. “Jangan panik dan takut karena TKA tidak menentukan kelulusan. Ini untuk memetakan kemampuan individual murid, sehingga kita tahu kemampuan mereka di bidang literasi dan numerasi,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa hasil TKA dapat dimanfaatkan sebagai salah satu komponen dalam jalur prestasi untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya, sehingga peserta didik diharapkan dapat mengikuti asesmen dengan percaya diri dan jujur.
Pemanfaatan PID di kelas dan persiapan TKA juga dirasa memberikan dampak positif. Para siswa mengaku proses belajar menjadi lebih menarik dan menyenangkan, sementara guru menilai penggunaan media tersebut memudahkan penyampaian materi secara visual dan interaktif.
Kepala SD Dwijendra, Ni Nyoman Sukreni, menyampaikan bahwa kesiapan sekolah dalam menghadapi TKA telah mencapai hampir 100 persen, termasuk dari sisi sarana pendukung seperti perangkat dan jaringan internet. Ia menjelaskan bahwa sebanyak delapan siswa akan mengikuti TKA tahun ini.
Guru kelas VI, Ni Wayan Mega Whidya Sridani, yang menuturkan bahwa persiapan telah dilakukan sejak tahun lalu melalui penambahan jam pembelajaran khusus untuk materi Bahasa Indonesia dan Matematika, serta latihan soal berdasarkan kisi-kisi yang telah ditetapkan.
“Setelah simulasi, kami juga membuat soal dengan model serupa untuk melatih siswa. Persiapan ini sudah dilakukan sejak tahun lalu karena materi TKA mencakup pembelajaran dari kelas 4 hingga kelas 6,” jelasnya.
Dari sisi murid, kesiapan juga terlihat dari pengalaman belajar yang telah dilakukan. Siswa kelas VI, I Gede Swantara Yonas Amnifu, mengaku telah mengikuti pengayaan dan simulasi sebagai bagian dari persiapan. (hms/smr)





