Iran Tangguhkan MoU dengan AS Setelah Insiden Kapal di Selat Hormuz

Ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat usai sebuah kapal mengalami kecelakaan saat melintasi jalur yang disebut tidak resmi. Di tengah insiden tersebut, Iran memutuskan menangguhkan komitmennya dalam nota kesepahaman (MoU) dengan Amerika Serikat (AS).

Semarak.co – Alasan penangguhan nota kesepahaman (MoU) antara pemerintah  AS dengan Republik Islam Iran untuk mengakhiri perang tersebut, adanya dugaan pelanggaran terhadap kesepakatan yang dulu ditanda-tangani  di Swiss beberapa bulan lalu.

Bacaan Lainnya

Televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa ada satu kapal mengalami kecelakaan pada hari Senin, 27 Juli 2026, seperti dilansir Arrahmah.id. Kapal tersebut disebut-sebut mencoba untuk melintasi Selat Hormuz yang vital itu melalui rute yang tidak diizinkan.

Media pemerintah juga menyebut beberapa kapal lain dipaksa berbalik arah menuju Teluk kembali. Mengutip sumber internal, enam kapal disebut berupaya melewati jalur selatan. Iran menilai rute tersebut ilegal dan tidak termasuk koridor resmi pelayaran.

Akibatnya, satu kapal mengalami insiden yang berbahaya, sementara kapal lainnya berhasil dipukul mundur. Pemerintah Teheran menegaskan bahwa koridor yang ditetapkannya merupakan satu-satunya jalur yang aman untuk dilewati.

Dalam konferensi pers, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengumumkan penangguhan MoU dengan Amerika Serikat. Ia mengatakan keputusan itu diambil karena Washington dinilai melanggar kerangka kesepakatan.

Baghaei menegaskan Iran tidak akan membiarkan pihak lain menentukan waktu perang maupun perdamaian. Ia menyebut seluruh kebijakan Teheran didasarkan pada kepentingan nasional. Ia juga mengritik pernyataan bersama Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan GCC.

Menurutnya, langkah tersebut bersifat destruktif dan memerburuk situasi di dalam kawasan. Ia turut menuding adanya keterlibatan oleh pasukan militer Inggris dan militer Bulgaria dalam agresi terhadap kedaulatan Republik Islam Iran.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menjelaskan bahwa koridor navigasi dibuat demi keselamatan pelayaran. Ia menyebut bahwa kawasan tersebut sempat dipenuhi ranjau selama konflik berlangsung.

Langkah tersebut diklaim sesuai Pasal 5 dalam MoU mengenai pembukaan kembali jalur Hormuz. Pemerintah Iran dan pemerintah negara Oman juga terus melakukan konsultasi teknis serta politik mengenai pengelolaan Selat Hormuz.

Pertemuan kedua negara membahas mekanisme operasional agar pelayaran tetap aman. Di sisi lain, Baghaei menyampaikan peringatan keras kepada Presiden Ukraina Vlodymyr Zelensky dan sejumlah pemerintah negara Eropa.

Peringatan itu berkaitan dengan insiden penyerangan terhadap sebuah kapal milik pelayaran Republik Iran. Teheran menegaskan bahwa pihak yang bertanggung jawab akan menghadapi konsekuensi atas tindakan tersebut. (net/aid/kim/smr)

Pos terkait