Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim telah meluncurkan serangan menggunakan 10 rudal balistik yang menyasar Pusat Komando dan Kontrol Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah serta Pangkalan Udara Al-Azraq di Yordania yang digunakan oleh militer AS.
Semarak.co – Serangan terjadi Kamis dan jadi bagian dari eskalasi konflik yang terus memanas antara Iran-AS. Hari itu menandai hari kedua aksi saling serang, di tengah ketegangan yang menguji gencatan senjata rapuh serta persaingan memerebutkan kendali Selat Hormuz yang strategis.
Dalam pernyataannya, IRGC telah memeringatkan bahwa seluruh pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah berpotensi menjadi sasaran apabila Washington kembali melancarkan serangan terhadap Iran.
“Jika militer AS yang teroris mengulangi agresinya, pangkalan AS lainnya di wilayah tersebut tidak akan aman dari tembakan berat kami,” demikian pernyataan IRGC yang dilansir SindoNews.com dari AFP pada Jumat (10/7/2026).
Pusat Komando Amerika Serikat di Timur Tengah diketahui bermarkas di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar. Sebelumnya, pemerintah Qatar juga dilaporkan sempat mengeluarkan peringatan darurat di tengah meningkatnya ancaman keamanan regional.
Sementara itu, militer Yordania menyatakan berhasil mencegat delapan rudal yang ditembakkan dari Iran menuju wilayahnya. “Sistem pertahanan udara Yordania mencegat dan menembak jatuh delapan rudal yang diluncurkan dari Iran menuju wilayah Yordania,” demikian pernyataan militer kerajaan tersebut, seperti dikutip AFP, Jumat (10/7/2026).
Militer Yordania menambahkan bahwa pecahan rudal sempat jatuh di sejumlah lokasi, namun tidak menyebabkan korban jiwa maupun kerusakan material. “Kami tidak akan mengizinkan pelanggaran wilayah udara Yordania oleh pihak mana pun,” tegas militer Yordania.
Juru bicara pemerintah Yordania, Mohammad al-Momani, mengatakan sirene peringatan sempat diaktifkan setelah rudal Iran memasuki wilayah udara negara itu. Menurutnya, seluruh rudal yang mengancam berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara.
Ini merupakan kali pertama Yordania mengumumkan pencegatan rudal Iran sejak 11 Juni. Saat itu, militer kerajaan mengaku berhasil menembak jatuh 20 rudal setelah IRGC menyatakan telah menargetkan fasilitas militer AS di Yordania sebagai balasan atas serangan Amerika terhadap Iran.
Wilayah Al-Azraq diketahui menjadi lokasi pangkalan udara militer Yordania yang sebelumnya digunakan oleh personel militer Amerika Serikat, Jerman, Belgia, dan Prancis dalam operasi koalisi melawan kelompok Islamic State (ISIS).
Meski demikian, pemerintah Yordania menegaskan bahwa negaranya tidak menjadi tuan rumah pangkalan militer asing. Kehadiran personel militer dari sejumlah negara disebut berlangsung berdasarkan perjanjian kerja sama pertahanan dan program pelatihan.
Pada awal April, militer Yordania mengungkapkan bahwa sejak pecahnya konflik kawasan pada 28 Februari, sedikitnya 281 rudal dan drone dari Iran telah mengarah ke wilayah kerajaan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 261 berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara.
Otoritas Yordania juga menyebutkan bahwa serangan-serangan yang dilancarkan mereka tersebut telah menyebabkan 30 orang mengalami luka-luka. Seluruh korban dilaporkan telah menjalani perawatan dan dipulangkan dari rumah sakit. (net/snc/afp/kim/smr)





