Amerika Serikat (AS) dan Republik Iran dilaporkan hampir mencapai kesepakatan sementara untuk mengakhiri konflik dan memulai negosiasi nuklir, termasuk rencana memorandum 14 poin yang membahas gencatan senjata, Selat Hormuz dan pelonggaran sanksi. Siapa diuntungkan?
Semarak.co – Draf kesepakatan tersebut mencakup moratorium pengayaan uranium Iran selama 12–15 tahun, inspeksi nuklir lebih ketat, pertukaran pencabutan sanksi AS, serta kemungkinan pemindahan uranium ke luar negeri; negosiasi lanjutan direncanakan berlangsung 30 hari.
Perang Iran melawan AS diprediksi akan segera berakhir. Sebab, Iran dan AS kini hampir mencapai kesepakatan. Dilansir dari Tribunnews.com pada 6/5/2026, AS dilaporkan hampir mencapai kesepakatan sementara dengan Iran untuk mengakhiri perang dan memulai negosiasi nuklir.
Media Axios melaporkan pada Rabu (6/5/2026), mengutip dua pejabat AS dan dua sumber lain yang mengetahui perkembangan tersebut. Pemerintah Iran diperkirakan akan memberikan tanggapan terkait poin-poin penting dalam waktu 48 jam.
Laporan media Axios dan Kantor Berita Britania Raya, Reuters, itu menyebut kesepakatan tersebut menjadi titik terdekat yang pernah dicapai kedua belah pihak sejak perang berkecamuk dimulai, meski hingga kini belum ada kesepakatan final.
Sementara itu, seorang sumber Pakistan yang terlibat dalam upaya mediasi mengatakan kepada Reuters, bahwa Republik Iran dan pemerintah Paman Sam hampir saja menyepakati memorandum satu halaman untuk mengakhiri perang.
Pernyataan yang konon bersumber dari orang dalam (ordal), baik dari pihak Iran maupun AS, itu sekaligus menguatkan laporan Axios. “Kita akan segera menyelesaikan ini. Kita sudah hampir mencapai kesepakatan,” kata laporan dari sumber tersebut.
Kepemimpinan Iran Terpecah
Menurut Axios, Gedung Putih meyakini kepemimpinan di pemerintahan Iran sedang terpecah, yang dapat memersulit upaya mencapai kesepakatan damai. Meski begitu, beberapa pejabat AS tetap skeptis bahwa kesepakatan awal dapat benar-benar tercapai.
Laporan dari sumber itu yang dikutip media juga menyebut keputusan Presiden AS Donald Trump untuk menunda operasi “Proyek Kebebasan” di Selat Hormuz didasarkan pada kemajuan pembicaraan dengan penguasa Republik Iran.
Membuka Kembali Selat Hormuz
Usulan nota kesepahaman MoU (memorandum of understanding) satu halaman yang terdiri dari 14 poin disebut akan menandai berakhirnya permusuhan dan memulai masa negosiasi selama 30 hari ke depan untuk mencapai kesepakatan yang lebih rinci.
Perjanjian Damai Untungkan Siapa?
Amerika dan Iran dilaporkan hampir mencapai kesepakatan sementara untuk mengakhiri konflik dan memulai negosiasi nuklir, termasuk rencana memorandum 14 poin yang membahas gencatan senjata, Selat Hormuz dan pelonggaran sanksi.
Draf kesepakatan mencakup moratorium pengayaan uranium Iran selama 12–15 tahun, inspeksi nuklir lebih ketat, pertukaran pencabutan sanksi AS, serta kemungkinan pemindahan uranium ke luar negeri; negosiasi lanjutan direncanakan berlangsung 30 hari.
Berikut Rincian Potensi Pihak yang diuntungkan/dirugikan:
- AS dan Pemerintahan Trump: Ingin penghentian konflik untuk keamanan nasional dan stabilitas pasokan minyak.
- Iran: Potensi pencabutan sanksi ekonomi dan pencairan aset yang dibekukan.
- Kawasan Timur Tengah/Global: Stabilitas Selat Hormuz (jalur minyak).
- Mediator (Pakistan): Meningkatkan posisi diplomatik.
(net/tnc/axs/rts/kim/smr)





