Iran Ancam Membumihanguskan Fasilitas Minyak Negara Teluk Redaksi9 Maret 2026 09:459 Maret 2026 12:35 Konflik antara Iran dan Israel kembali memanas setelah serangan udara Tel Aviv menghantam sejumlah fasilitas energi di sekitar ibu kota Teheran. Ketegangan ini memicu ancaman balasan dari Iran terhadap fasilitas minyak negara-negara di kawasan Teluk.Semarak.co – Fasilitas minyak negara-negara di kawasan Teluk dan meningkatkan kekhawatiran gangguan besar terhadap ekonomi global. Menurut laporan The Guardian, serangan udara yang dilakukan militer Israel menghantam sedikitnya lima lokasi energi di sekitar Teheran pada Minggu. Ledakan tersebut memicu bola api besar dan kepulan asap hitam yang menyelimuti langit kota. Perusahaan distribusi minyak Iran melaporkan empat pekerja tewas akibat serangan terhadap fasilitas penyimpanan bahan bakar.Bacaan LainnyaJika Ekonomi Terguncang Akibat Perang Iran, Negara Sekutu ini Minta Ganti Rugi ke ASPresiden Prancis Macron akan Bantu Lebanon Siapkan Negosiasi dengan IsraelDelegasi Tiba di Islamabad Rabu Pagi Ini: AS dan Iran dikabarkan Sepakat Bertemu Ledakan juga terdengar hingga kota Karaj yang berada di dekat ibu kota. Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) memeringatkan bahwa Iran siap membalas jika serangan terhadap infrastruktur energi terus berlanjut. “Jika Anda bisa menoleransi harga minyak lebih dari 200 dolar AS per barel (sekitar Rp3,1 juta per barel), lanjutkan permainan ini,” ujar juru bicara IRGC, seperti dikutip media pemerintah Iran, dan dilansir CbncIndonesia.com pada Senin (9/3/2026). Ancaman tersebut memicu kekhawatiran pasar energi global, mengingat Iran menyumbang sekitar 4% produksi minyak dunia, dengan sebagian besar ekspornya dikirim ke China. Di tengah meningkatnya ketegangan, pemerintah AS berupaya menenangkan pasar energi. Menteri Energi AS, Chris Wright, menegaskan bahwa Washington tidak akan menargetkan infrastruktur energi Iran. “Serangan terhadap fasilitas minyak Iran dilakukan oleh Israel. Amerika Serikat tidak akan menargetkan infrastruktur energi Iran,” kata Wright kepada CNN International. Ia menilai potensi gangguan terhadap pasokan minyak dan gas global kemungkinan hanya berlangsung sementara. “Gangguan pasokan energi kemungkinan hanya akan berlangsung singkat, paling lama beberapa minggu,” ujarnya. Di sisi lain, dinamika politik di Iran juga berubah cepat. Para ulama yang memiliki kewenangan memilih pemimpin tertinggi Iran mengumumkan bahwa Mojtaba Khamenei terpilih sebagai pemimpin tertinggi baru menggantikan ayahnya, Ali Khamenei. Dalam pernyataan yang disiarkan media pemerintah, majelis ulama menyebut keputusan tersebut diambil melalui “pemungutan suara yang menentukan” dan menyerukan rakyat Iran untuk bersatu mendukung kepemimpinan baru. Pengangkatan Mojtaba Khamenei menjadi momen bersejarah karena untuk pertama kalinya sejak Iranian Revolution, posisi pemimpin tertinggi Iran berpindah dari ayah kepada anak. Namun langkah tersebut berpotensi memicu ketegangan. Yakni ketegangan lebih lanjut dengan Donald Trump yang sebelumnya menyatakan hasil tersebut tidak dapat diterima. Trump bahkan memeringatkan bahwa pemimpin tertinggi Iran berikutnya “tidak akan bertahan lama”. Hal tersebut bahkan diperingatkan oleh Presiden AS Donald Trump bahwa pemilihan model kepemimpinan seperti gaya Iran tersebut tidak akan bertahan lama jika Teheran tidak mendapatkan persetujuan yang sah terlebih dahulu. (net/cic/cnn/kim/smr) Pos terkaitMenteri PANRB Rini: Digitalisasi Bukan hanya Modernisasi Sistem, tapi Instrumen Tingkatkan EfisiensiKemendikdasmen Luncurkan Program Penjaringan Data Guru Tertentu Belum Bersertifikat Pendidik 2026Menkop dan Menteri PPN/Bappenas Bahas Pengembangan Koperasi Sektor ProduksiDorong Kemandirian Ekonomi, BAZNAS Apresiasi Peluncuran Kampung Nelayan BSI Warloka PesisirJika Ekonomi Terguncang Akibat Perang Iran, Negara Sekutu ini Minta Ganti Rugi ke ASPresiden Prancis Macron akan Bantu Lebanon Siapkan Negosiasi dengan Israel