Amerika Serikat (AS) menderita kekalahan total yang belum pernah terjadi sebelumnya. Salah satu komentator neokonservatif paling berpengaruh di AS, Robert Kagan, mengatakan bahwa ia percaya AS menderita “kekalahan total” dalam perang sedang berlangsung melawan Iran.
Semarak.co – Dalam pengakuannya, kesalahan yang patut diperhatikan bahwa AS telah menghancurkan kedudukan globalnya secara permanen. Dalam analisisnya, Kagan menyebut, pertama, kekalahan yang belum pernah terjadi dalam sejarah AS.
Kagan, salah satu pendiri Project for the New American Century dan peneliti senior di Brookings Institution, adalah salah satu pendukung vokal perang melawan Irak dan pendukung seumur hidup intervensi militer Amerika di Timur Tengah.
Namun dalam sebuah artikel baru-baru ini untuk The Atlantic, yang dilansir Sindonews.com pada 12/5/2026, Kagan memberikan penilaian suram tentang perang agresi saat ini terhadap Republik Islam Iran, yang diluncurkan pada 28 Februari 2026.
“AS menderita kekalahan total,” tulis Kagan, menggambarkan kekalahan tersebut sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Amerika dan yang “tidak dapat diperbaiki maupun diabaikan begitu saja.
Analisis kedua, kata Kagan, berbeda dengan Perang Vietnam dan Afghanistan. Meskipun ia mengakui bahwa kegagalan militer AS sebelumnya menggelontorkan biaya yang besar, Kagan menegaskan bahwa perang ini pada dasarnya berbeda sifatnya.
“Kekalahan di Vietnam dan Afghanistan memang mahal tetapi tidak menimbulkan kerusakan jangka panjang pada posisi Amerika secara keseluruhan di dunia,” tulis komentator terkemuka Amerika yang pendapat dan analisanya sangat detail dan tajam itu.
“Kekalahan dalam konfrontasi saat ini dengan Iran akan memiliki karakter yang sama sekali berbeda.” Ketiga, pemicunya adalah Selat Hormuz inti dari bencana ini. Kagan mencatat, adalah kemampuan baru Iran untuk mengendalikan Selat Hormuz, jalur air paling strategis di dunia, tanpa tantangan apa pun.
“Iran tidak hanya akan dapat menuntut bea untuk pelayaran, tetapi juga membatasi transit hanya kepada negara-negara yang memiliki hubungan baik dengannya,” tulisnya. Dengan secara dramatis menolak rencana komprehensif Iran untuk mengakhiri perang.
Trump menjebak AS di persimpangan tiga arah yang fatal: melanjutkan perang yang kalah, menerima kekalahan yang memalukan dengan syarat-syarat Iran, atau menghadapi eskalasi tanpa akhir. Keempat, solusinya mengakomodasi kepentingan Iran.
Menurut Kagan, Iran tidak tertarik untuk kembali ke status quo sebelum perang. Sebagian besar negara Teluk Persia, menurutnya, tidak akan punya pilihan selain mengakomodasi Teheran, yang secara efektif menjadikan Iran sebagai kekuatan regional yang dominan.
“Amerika Serikat akan membuktikan dirinya sebagai macan kertas, memaksa negara-negara Teluk (Persia) dan negara-negara Arab lainnya untuk mengakomodasi Iran,” tulis Kagan dalam artikel pernyataannya yang bikin heboh.
Ia juga menolak anggapan bahwa koalisi sekutu dapat memperbaiki situasi tersebut. “Jika AS dengan Angkatan Lautnya yang perkasa tidak mampu atau tidak mau membuka selat, maka koalisi kekuatan mana pun yang hanya memiliki sebagian kecil kemampuan AS pun tidak akan mampu melakukannya,” katanya.
Kelima, posisi geopolitik AS akan berubah. Kagan menggambarkan keruntuhan tersebut bukan sebagai kemunduran regional, tetapi sebagai kegagalan strategis global yang secara fundamental mengubah posisi Amerika di dunia.
“Posisi Amerika yang dulunya dominan di Teluk Persia hanyalah korban pertama dari banyak korban lainnya,” ia memeringatkan. “Sekutu Amerika di Asia Timur dan Eropa harus memertanyakan daya tahan Amerika jika terjadi konflik di masa depan.”
Yang memperparah penghinaan strategis ini adalah penipisan sumber daya militer AS.yang mengejutkan selama perang yang sedang berlangsung, yang telah banyak didokumentasikan di media AS. “Hanya beberapa minggu perang dengan kekuatan peringkat kedua telah mengurangi persediaan senjata Amerika,” katanya.
“Mengurangi persediaan senjata AS ke tingkat yang sangat rendah, tanpa solusi cepat yang terlihat,” tulis Kagan. Ia menambahkan bahwa AS kini mendapati dirinya tidak mampu mengendalikan konsekuensi dari perang yang telah mereka picu – perang yang telah mereka kalahkan.
“Sekutu Amerika pasti bertanya-tanya tentang daya tahan Amerika jika terjadi konflik di masa depan,” ujarnya dalam pernyataan tertulisnya yang dikutip sejumlah media, baik media Amerika, Eropa maupun Asia dan Timur Tengah. (net/snc/ta/kim/smr)





