Pelaksanaan Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik yang diselenggarakan Kementerian PANRB masuk tahap wawancara dan ini dilakukan secara virtual atau online. Foto: humas PANRB

Tahap presentasi dan wawancara Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (KIPP) 2020 masih berlangsung. Di hari keenam, Selasa (7/7/2020) tahap wawancara, sebanyak enam inovasi dari wilayah Yogyakarta dan dua inovasi dari Kepulauan Sumatera saling unjuk kebolehan dihadapan Tim Panel Independen (TPI) secara virtual.

semarak.co– Diawali Provinsi D.I. Yogyakarta dengan inovasi Melintasi Batas Ruang Kelas Bersama Jogjabelajar Class yang diinisiasi Balai Teknologi Komunikasi Pendidikan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olah Raga.

Gubernur D.I Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubowono menjelaskan bahwa Jogjabelajar Class merupakan salah satu layanan di portal Jogjabelajar (JB) yang berfungsi layaknya kelas maya sebagai ruang pembelajaran untuk membantu pemerataan dan peningkatan mutu pendidikan di wilayah Provinsi D.I Yogyakarta.

JB merupakan layanan pembelajaran daring yang bisa diakses melalui https;//jogjabelajar.org atau https://jogjabelajar.jogjaprov.go.id yang memuat berbagi konten, seperti JB Media, JB Budaya, JB Tube, JB Radio, serta JB Class.

Awalnya, JB Class hanya dirancang sebagai suplemen untuk melengkapi pembelajaran konvensional untuk memfasilitasi tatap muka antara guru dan siswa yang bisa dipantau secara langsung oleh orang tua.

Adanya JB Class ini juga merupakan adaptasi dari gaya belajar bagi generasi milenial ke bawah yang serba digital yang dikembangkan agar para guru dan siswa bisa berkomunikasi di luar jam pembelajaran formal yang dirancang sesuai dengan kebutuhan.

“Di 2020 ini, keberadaan JB Class menjadi andalan dalam proses kegiatan belajar mengajar. Layanan kelas maya melalui Jogjabelajar Class menjadi penting semenjak pandemi Covid-19 merebak yang tidak memungkinkan pembelajaran berlangsung secara normal” jelas Sri Sultan dalam rilis Humas PANRB, Selasa malam (7/7/2020).

Masih dari Provinsi D.I Yogyakarta dengan inovasi Jogjaplan: Perencanaan Pembangunan D.I Yogyakarta yang ORDINATE (Konsisten, Responsif, Dinamis, dan Akuntabel) dengan e-Planning.

Diinisasi oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) D.I Yogyakarta, inovasi yang masuk ke dalam kategori Khusus ini telah berjalan sejak 2010 dan masuk sebagai Top Inovasi pada penyelenggaraan KIPP 2015.

“Aplikasi Jogjaplan juga telah mendukung capaian Pemprov D.I Yogyakarta dalam inovasi perencanaan pembangunan lima tahun terakhir,” kutip humas PANR dalam rilisnya yang di share melalui WA Group JURNALIS PANRB.

Keberlanjutan aplikasi ini menjamin perencanaan pembangunan daerah yang memenuhi prinsip ORDINATE dan mengintegrasikan perencanaan strategis dengan bisnis proses e-planning untuk menjamin konsistensi dalam penyelenggaraan RPJMD Provinsi D.I Yogyakarta.

Jogjaplan diciptakan untuk membangun instansi publik yang efektif dan akuntabel, meningkatkan akuntabilitas, meningkatkan transparansi, serta menyediakan akses informasi untuk perencanaan pembangunan D.I Yogyakarta.

Dalam perjalanannya, Jogjaplan telah mengalami pengembangan untuk memenuhi kebutuhan perencanaan pembangunan akibat perubahan regulasi dan kebutuhan publik, seperti dalam merespon kondisi pandemi global saat ini.

Pemerintah Kota Yogyakarta juga hadir dengan inovasi Gandeng Gendong yang merupakan gerakan untuk memberdayakan masyarakat dengan melibatkan seluruh elemen pembangunan dengan tujuan peningkatan ekonomi masyarakat dalam penanggulangan kemiskinan.

Dalam pelaksanaannya, inovasi ini melibatkan sinergi aktor 5K, yakni Kampung, Kampus, Komunitas, Korporat, dan Pemerintah Kota Yogyakarta. Inovasi ini juga merupakan perwujudan Segoro Amarto atau Semangat Gotong Royong Agawe Majune Ngayogyakarta yang berarti semangat Yogyakarta.

Dalam pemaparannya, Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi mengatakan bahwa konsep yang ditawarkan inovasi ini, mengutamakan pemberdayaan masyarakat, budaya, dan potensi lokal, sesuai untuk diterapkan di Kota Yogyakarta.

Sehingga gotong royong menuju kemajuan Yogyakarta yang merupakan gerakan kemandirian masyarakat dapat meningkatkan kesejahteraan dan keberdayaan masyarakat yang sesuai dengan visinya, yakni Bersama Bersatu Memberdayakan dan Menyejahterakan Masyarakat.

Konsep ini membawa Pemkot Yogyakarta untuk saling bersinergi dan bekerja sama dengan seluruh stakeholder dalam mencapai kesejahteraan masyarakat Kota Yogyakarta.

Hal ini terbukti dengan menurunnya jumlah penduduk miskin di Kota Gudeg ini selama tiga tahun terakhir. Pada tahun 2017, persentase penduduk miskin sebesar 7,64 persen, tahun 2018 sebesar 6,98 persen dan menjadi 6,84 persen pada tahun 2019.

Gelimasjiwo (Gerakan Peduli Masyarakat Sehat Jiwo) merupakan inovasi dari Puskesmas Kasihan II di Kabupaten Bantul yang selanjutnya masuk ke dalam Top 99 KIPP 2020. Inovasi berfokus kepada pemulihan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat.

Melalui Gelimasjiwo, ODGJ dilayani dengan konsep one for all, dimana sejak saat penemuan, berobat, hingga dapat kembali produktif dengan kemudahan akses yang didampingi kader serta puskemas. Gelimasjiwo juga menjadi satu-satunya lembaga kesejahteraan sosial untuk pendamping disabilitas mental/ODGJ yang mendapat kepercayaan dari program Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial.

Bupati Bantul Suharsono mengatakan bahwa inovasi ini juga untuk mengentaskan pemasungan ODGJ yang kerap kali dilakukan. Keberhasilan dari Gelimasjiwo juga terlihat dari pemulihan ODGJ melalui rehabilitasi meningkat pesat sebesar 430 persen sejak inovasi ini berjalan pada 2017, dari hanya 20 orang menjadi 86 orang.

Langka sukses ini juga diikuti dengan penemuan dan penanganan ODGJ yang melampaui target, kenaikan sebesar 80,39 persen dalam pengobatan ODGJ, serta berjalannya rujukan gawat darurat kejiwaan 24 siaga pada Puskesmas Kasihan II.

Selanjutnya giliran Kabupaten Kulonprogo dengan inovasi PanganKu yang dilahirkan oleh Dinas Pertanian dan Pangan. Inovasi ini bertujuan untuk membangun kepercayaan publik atas potensi yang dimiliki Kabupaten Kulonprogo serta memberikan nilai tambah bagi petani produsen pangan untuk meningkatkan kesejahteraannya. Inovasi ini merupakan transformasi dari inovasi ‘Mengganti Raskin menjadi Rasda.

Melalui PanganKu, penyaluran beras, telur, ikan, Sayur dan buah dilakukan oleh 18 Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), tiga kelompok Tani, 187 kelompok Wanita Tani, dan 34 kelompok Ternak kepada 49.184 keluarga penerima manfaat yang disalurkan melalui 111 e-Warung.

Hal ini merupakan perwujudan slogan Bela Beli Kulonprogo. Dengan begitu, pemberdayaan masyarakat ini telah mendorong peningkatan ekonomi di masyarakat Kulonprogo sendiri.

“Transformasi inovasi ini telah mampu mempercepat penurunan angka kemiskinan sebesar 2 persen per tahun, sehingga pada tahun 2019 jumlahnya menjadi 17,3 persen dan meningkatnya uang yang beredar di masyarakat hingga mencapai 10 miliar rupiah per bulan,” papar Bupati Kulonprogo Sutedjo dalam rilis Humas PANRB.

Gelang Si Cantik atau Gerakan Literasi Mengangkat Prestasi dengan Membaca, Menulis, dan TIK dari Kabupaten Sleman menjadi inovasi terakhir dari wilayah Yogyakarta pada sesi presentasi dan wawancara hari ini.

Inovasi ini bertujuan untuk meningkatkan literasi dengan membaca, menulis, dan pemanfataan teknologi informasi dalam berliterasi sehingga diharapkan siswa menjadi literat dan berprestasi. Inovasi yang lahir di SMP Negeri 4 Pakem pada tahun 2016 ini telah menjadikannya sekolah rujukan terkait dengan Gerakan Literasi Sekolah.

Bupati Sleman Sri Purnomo menceritakan bahwa gerakan literasi ini telah mengantar SMP Negeri 4 Pakem ini memiliki prestasi dibidang yang berkaitan dengan literasi hingga kancah internasional dan telah menghasilkan buku-buku karya siswa serta guru dari SMP Negeri 4 Pakem.

Beralih ke Kepulauan Sumatra, Pemerintah Kota Jambi hadir dengan inovasi Bangkit Berdaya. Merupakan akronim dari Bangun Kelurahan secara Intensif dan Terpadu yang Berazaskan Swadaya.

Wakil Wali Kota Jambi Maulana menjelaskan bahwa inovasi ini mampu mengakselerasi pembangunan sehingga ketimpangan infrastruktur antarwilayah di Kota Jambi berkurang dengan meningkatkan gotong royong di masyarakat Kota Jambi.

Partisipasi masyarakat dilakukan dalam membangun sarana prasarana, utilitas publik, dan fasilitas sanitasi dimana Pemkot Jambi hanya memberikan stimulus yang berupa bahan material dan bangunan.

Program yang tersebar di setiap kelurahan di Kota Jambi ini telah menghasilkan fasilitas umum yang semakin membaik. Karena dibangun berdasarkan gotong royong, maka kesadaran masyarakat untuk menjaga fasilitas publik dan lingkungannya pun semakin tinggi.

“Hal ini juga kemudian berdampak pada peningkatan perekonomian masyarakat. Selain itu, inovasi ini diklaim telah berhasil untuk efisiensi APBD sebesar 45 persen,” ujarnya.

Menutup pada sesi presentasi dan wawancara hari, Wakil Bupati Natuna Ngesti Yuni Suprapti menjabarkan inovasi Si Beres Natuna yang diinisiasi Dinas Kesehatan Kabupaten Natuna.

Dengan inovasi Siap Bersalin Terima Bersih, Praktis, dan Ringkas di Natuna ini, pemerintah memberikan kemudahan untuk meningkatkan minat ibu hamil untuk melakukan persalinan di fasilitas kesehatan.

Dilatarbelakangi dengan masih maraknya stigma negatif mengenai persalinan yang menakutkan di fasilitas kesehatan, biaya yang mahal, serta jarak yang jauh, Si Beres Natuna hadir dengan memberikan pelayanan bersalin secara cuma-cuma yang diikuti dengan berbagai layanan gratis lainnya untuk meningkatkan minat melahirkan sesuai dengan prosedur.

Dengan layanan Si Beres Natuna ini, diharapkan dapat menurunkan Angka Kematian Ibu/Bayi (AKI/AKB) serta meningkatkan derajat kesehatan bagi ibu dan bayi. Hal ini dilakukan dengan antar jemput pasien, kunjungan rutin ke rumah, serta kemudahan pelayanan administrasi.

Prinsip yang digunakan untuk mengkampanyekan hal ini adalah dengan pelayanan paripurna, yakni pelayanan yang maksimal, menguntungkan pasien dan negara, merapikan administrasi kependudukan, serta memberikan rasa nyaman dan aman bagi pasien.

“Dengan adanya layanan ini, telah terjadi peningkatan signifikan dari masyarakat yang bersalin di Puskemas Ranai, yakni hanya sebesar 90,57 persen di tahun 2016, menjadi 97,44 persen pada tahun 2019,” pungkas Ngesti. (ald/smr)

LEAVE A REPLY