Penduduk lokal menyaksikan kerusakan di dekat lokasi ledakan di daerah pelabuhan Beirut, Lebanon, Rabu (5/8/2020). Perdana Menteri Hassan Diab menyatakan, sebanyak 2.750 amonium nitrat yang merupakan pupuk pertanian disinyalir menjadi penyebab insiden tersebut. Foto: internet

Banyak pekerja asing dan sopir hilang dan diperkirakan tewas sebagai korban dalam ledakan hebat di pelabuhan Beirut Lebanon yang belum teridentifikasi karena kesulitan mengenali para korban.

semarak.co– Gubernur Beirut Lebanon Marwan Abboud mengutip, pemerintah Suriah melaporkan bahwa sekitar 45 dari sedikitnya 158 orang yang sudah dipastikan tewas dalam ledakan itu adalah warga negara Suriah.

Warga Suriah, terang Marwan, merupakan kalangan terbesar di antara para warga negara asing yang berada di Lebanon. Mereka bekerja di sektor konstruksi, pertanian, dan transportasi.

“Banyak orang hilang yang tidak dapat kami identifikasi. Mereka adalah para sopir dan pekerja asing. Tidak ada yang mengidentifikasi mereka. Ini tugas berat yang membutuhkan waktu,” kata Marwan kepada saluran televisi Al Jadeed, Minggu (9/8/2020) seperti dikutip Reuters, Senin (10/8/2020).

Sementara itu, polisi Lebanon menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa yang melemparkan batu dan memblokir jalan dekat gedung parlemen di Beirut pada Minggu (9/8/2020), pada hari kedua demonstrasi anti pemerintah pascaledakan. Dampak dari kerusahan itu, dua menteri Lebanon telah menyatakan mundur.

Kobaran api muncul di pintu masuk ke Alun-alun Parlemen ketika para demonstran berupaya merangsek masuk ke lokasi yang dikelilingi dengan pagar betis, menurut gambar yang ditayangkan televisi. Para pengunjuk rasa juga membobol kantor kementerian perumahan dan transportasi.

Polisi antikerusuhan, dengan mengenakan rompi antipeluru dan memegang pentungan, bentrok dengan para demonstran ketika ribuan orang berkumpul di Alun-alun parlemen dan dekat Lapangan Syuhada, kata koresponden Reuters.

Dua menteri kabinet Lebanon mengundurkan diri di tengah kejatuhan politik karena ledakan di pelabuhan Beirut pada Selasa (4/8/2020) lalu, serta krisis ekonomi yang mendera Lebanon selama berbulan-bulan. Kedua menteri itu mundur dengan alasan bahwa pemerintah tidak melakukan reformasi.

Menteri Lingkungan Damianos Kattar mundur dari jabatannya pada Minggu (9/8/2020). Pemerintah kehilangan banyak kesempatan untuk melakukan reformasi, kata Kattar dalam pernyataan.

Kepergian Kattar mengikuti langkah Menteri Informasi Manal Abdel Samad, yang pada Minggu (9/8/2020) telah menyatakan mengundurkan diri pascaledakan.

Pada Sabtu (8/8/2020), kemarahan memuncak di beberapa lokasi di pusat kota Beirut. Jumlah pengunjuk rasa merupakan yang terbesar sejak Oktober ketika ribuan orang turun ke jalan untuk menuntut korupsi diakhiri, juga tata kelola pemerintahan yang buruk.

Sekitar 10 ribu orang pada Sabtu berkumpul di Lapangan Syuhada, yang berubah menjadi tempat bentrokan antara polisi dan para demonstran, yang berusaha mendobrak pagar pembatas di sepanjang jalan menuju gedung parlemen.

Beberapa demonstran menyerbu kantor-kantor kementerian serta gedung Asosiasi Bank Lebanon. Satu polisi tewas dan Palang Merah menyebutkan lebih dari 170 orang cedera dalam bentrokan itu. Ledakan lebih dari 2.000 ton amonium nitrat di pelabuhan Beirut pada Selasa menewaskan 158 orang dan melukai lebih dari 6.000 lainnya. (net/pos/smr)

LEAVE A REPLY