Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, kemungkinan telah meninggal dunia. Pernyataan itu kembali memicu perhatian dunia di tengah belum adanya kepastian mengenai kondisi maupun keberadaan Mojtaba.
Semarak.co – Keberadaan Mojtaba Ali Khamenei memang telah menjadi tanda tanya selama beberapa bulan terakhir. Hingga kini, belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Republik Islam Iran yang memastikan kondisi terkini pemimpin tertinggi negara Persia itu.
Media AS, New York Post, pada Rabu, 15 Juni 2026, seperti dilansir Detik.com, bahkan, mengutip penilaian intelijen negeri Paman Sam melaporkan bahwa Mojtaba terluka parah dan mengalami cacat fisik yang parah akibat serangan AS-Israel tersebut.
Mojtaba dilaporkan berada di kediaman yang sama dengan ayahnya ketika serangan udara AS dan Israel terjadi, tetapi selamat karena berada di ruangan berbeda. Pada saat itu, duta besar Iran untuk Siprus, Alireza Salarian, menyebut Mojtaba menderita cedera pada kaki, tangan dan lengannya dan sedang menjalani perawatan di rumah sakit.
Sejak serangan itu, Mojtaba belum pernah muncul di depan umum atau menyampaikan pidato apa pun. Bahkan, ia juga belum pernah tampil di publik sejak dilantik sebagai pemimpin tertinggi Iran pada bulan Maret 2026 lalu.
Mojtaba Tak Muncul di Pemakaman Ayahnya
Spekulasi terkait keberadaan Mojtaba pun berlanjut. Pasalnya, ia tidak hadir di acara pemakaman ayahnya, Ayatollah Ali Seyyed Khamenei. Saat seremoni pemakaman ayahnya digelar selama beberapa hari di kota-kota Iran dan Irak pada awal bulan ini, Mojtaba tidak tampak hadir.
Mojtaba Khamenei baru muncul setelah mendiang ayahnya dimakamkan pada 9 Juli 2026 lalu. Namun, ia tidak muncul secara fisik. Mojtaba hanya merilis pernyataan yang menegaskan akan membalas kematian ayahnya dalam perang tersebut.
“Pembalasan ini adalah kehendak bangsa kita dan harus dilaksanakan,” katanya dalam surat yang ditandatangani pada Jumat (10/7). “Masalah ini tidak bergantung pada keberadaan pribadi saya, maupun pejabat-pejabat lainnya. Baik kami hadir atau tidak, hal itu akan terjadi,” ucap Mojtaba.
“Kami berjanji untuk membalas darah pemimpin yang gugur dan semua martir dari dua perang ini dari para pembunuh kriminal dan tercela itu,” tegasnya. Sementara Trump mengklaim Mojtaba 90% meninggal dunia meski masih menjadi tanda tanya besar.
Hal itu lah yang lantas memancing Presiden Donald Trump menyampaikan pernyataan perihal Pemimpin Iran Mojtaba Khamenei tersebut. Trump menyebut yang bersangkutan kemungkinan besar sudah meninggal dunia akibat perang.
Dalam wawancara dengan media AS, Fox News, seperti dilansir Anadolu Agency, Selasa (14/7/2026), Trump kembali mengatakan bahwa kemampuan militer Iran telah sangat melemah.”Mereka (Iran-red) tidak memiliki Angkatan Laut,” ucap presiden dari Partai Republik itu.
“Mereka juga tidak memiliki Angkatan Udara. Semuanya sudah lenyap (sejak perang seketika). Pertahanan anti-pesawat mereka sudah musnah. Para pemimpin mereka semuanya telah tewas,” ujar Trump dalam wawancara tersebut.
Trump, dalam wawancara itu, sempat salah menyebut mendiang pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei sebagai “Khomeini”, atau Ruhollah Khomeini, yang merupakan pemimpin revolusi Iran yang wafat pada tahun 1989.
“Para pemimpin terbaik mereka telah tewas. Mereka sudah habis. Khomeini sudah tiada,” kata Trump, yang diduga salah menyebut nama mendiang Ali Khamenei yang tewas akibat gelombang serangan awal AS-Israel pada 28 Februari 2026 lalu.
“Putranya, 90% telah tiada (Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran Mojtaba Ali Khamenei),” klaim Presiden AS itu, merujuk pada Mojtaba Khamenei, pemimpin tertinggi Iran saat ini yang merupakan putra mendiang Ali Khamenei. (net/dc/nyp/fn/aa/kim/smr)





