Tes Kemampuan Akademik (TKA) SMP tengah berlangsung sejak 6 April hingga 16 April 2026, dan dibagi menjadi 4 gelombang. Salah satunya yang telah selesai TKA pada gelombang 2 adalah SMP Negeri 2 Wates Kulon Progo pada 8 dan 9 April 2026.
Semarak.co – Beberapa murid kelas IX mengaku lega setelah selesai mengerjakan TKA walau masih ada rasa cemas menunggu hasilnya yang direncanakan akan diumumkan pada Mei 2026.
“Kemarin waktu TKA deg-degan. Matematika itu banyak soal ceritanya, tapi tidak semua bacaannya itu menjelaskan inti soalnya. Waktu awal mengerjakan soalnya masih mudah, tapi semakin ke belakang semakin susah,” ujar Natasya, murid SMPN 2 Wates, kelas IX, dirilis humasmelalui WAGroup Mitra BKHumas Fortadik, Senin (13/4/2026).
Hal senada disampaikan Sahda, murid kelas IX, yang mengaku kekurangan waktu dalam mengerjakan soal-soal Matematika. “Dari 30 soal Matematika dengan waktu 75 menit itu kurang banget. Dan bacaannya itu banyak ada yang panjang,”keluhnya.
Berbeda halnya dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia, Natasya dan Sahda bersyukur bisa mengerjakan soal-soal dengan lancar. “Kalau Bahasa Indonesia, Alhamdulillah cukup. Dari 75 menit mengerjakan 30 soal itu aku masih ada sisa 20 menitan,” cerita Natasya.
“Aku juga lumayan ada sisa waktu 15 menitan. Karena alhamdulillah juga aku dapat soal yang lumayan gampang. Ya ada yang susah, ada yang gampang. Menurut aku jadi 50-50 dari gampang sama susah,” tambah Sahda.
Budi Maheni, Kepala SMP Negeri 2 Wates Kulon Progo bersyukur TKA telah terlaksana dengan baik, tertib, dan lancar. Pihaknya telah berupaya maksimal dalam mempersiapkan perangkat, sarana, dan prasana termasuk menyewa genset untuk antisipasi mati listrik saat TKA berlangsung, serta mengupayakan perangkat laptop.
Sekolahnya menyediakan total 43 unit PC dan laptop, 28 diantaranya merupakan meminjam laptop pribadi para guru. Semua dilakukan pihak sekolah untuk memastikan agar TKA terlaksana dengan baik dan diikuti 128 murid kelas IX SMP Negeri 2 Wates Kulon Progo di sekolahnya sendiri.
Budi menyatakan, TKA merupakan momentum murid untuk menguji kemampuan berpikir tingkat tinggi. Fokus pada literasi membaca dan numerasi di TKA selaras dengan upaya sekolah dalam berpartisipasi pada pemetaan mutu pendidikan nasional sekaligus membekali murid menghadapi tantangan global.
Persiapan TKA di SMP Negeri 2 Wates dilakukan beriringan dengan penguatan materi akademik daerah yaitu Asesmen Standarisasi Pendidikan Daerah (ASPD). Kehadiran TKA melengkapi potret kompetensi murid di Yogyakarta.
“Menurut saya, jika ASPD memberikan kedalaman penguasaan materi pada empat mata pelajaran kunci (Matematika, IPA, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris), maka TKA mempertajam cara murid bernalar atas materi tersebut,” ujar Budi.
Budi optimis dengan hasil yang nanti dicapai muridnya baik untuk TKA dan ASPD. Berdasarkan hasil tiga kali try out, sekolahnya berada peringkat 3 terbaik se-kabupaten Kulon Progo. “Semoga nanti hasil TKA anak-anak kami hasilnya juga memuaskan, anak-anak bisa lanjut ke sekolah sesuai impian mereka,” imbuhnya.
Keseruan Digitalisasi Pendidikan
SMP Negeri 2 Wates Kulon Progo menerima 1 unit Papan Interaktif (Interactive Flat Panel/IFP). Para murid di sekolah tersebut secara bergantian telah merasakan pembelajaran menggunakan Papan Interaktif.
Kirana Alfatikha Sari, murid kelas VIII menyatakan, kelas VIII paling sering mendapatkan menggunakan Papan Interaktif, ”Jujur kalau kelas VIII ini sudah lumayan banyak. Jadi kayak ada pelajaran prakarya, bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, dan Informatika. Sampai mungkin saya lupa berapa kali menggunakan IPF begitu,” katanya.
Sementara Keyfas Adella Puspa, kelas VII, mengaku baru dua kali menggunakan IFP untuk pelajaran Bahasa Jawa. Lalu Liana Ayu Fitriani, murid kelas IX, juga baru dua kali menggunakan IFP untuk pelajaran Bahasa Indonesia.
TKA Kini Dipahami sebagai Instrumen Penguatan Pembelajaran
Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMP di berbagai daerah mulai menunjukkan pergeseran penting dalam cara pandang murid, guru, hingga satuan pendidikan.
Dari yang semula dipersepsikan sebagai ujian yang menegangkan, TKA kini dipahami sebagai sarana untuk mengukur kemampuan diri sekaligus mendorong semangat belajar yang lebih kuat dan terarah.
Perubahan ini terlihat nyata di lapangan. Di Kabupaten Pelalawan, Riau, para murid SMP Negeri Bernas, mengaku sempat diliputi rasa cemas saat pertama kali mengikuti TKA. Namun, pengalaman langsung mengerjakan soal, justru mengubah persepsi tersebut.
“Awalnya deg-degan dan takut karena belum pernah dilakukan. Tapi setelah dikerjakan, ternyata tidak sesulit yang dibayangkan, ujar Fidelia Noviyanti Hutagaol, murid SMP Bernas kelas IX.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq menegaskan, perubahan cara pandang ini merupakan esensi dari pelaksanaan TKA itu sendiri. Menurutnya, TKA tidak dimaksudkan sebagai beban, melainkan sebagai instrumen untuk membaca kondisi pembelajaran secara utuh.
TKA itu seperti medical check-up dalam pendidikan. Kita perlu mengetahui kondisi sebenarnya. Apa saja yang perlu diperkuat dan diperbaiki. Dari situ, kebijakan bisa disusun berbasis data, bukan perkiraan”, ujar Wamen saat berdialog langsung dengan pihak SMP Bernas.
Pengalaman serupa juga dirasakan murid lainnya di SMP Negeri bernas. Mereka menilai soal TKA memiliki tingkat kesulitan menengah dan masih dapat dikerjakan dengan baik terutama setelah melakukan latihan dan pembahasan soal di sekolah.
Dari sisi satuan pendidikan, berbagai upaya dilakukan agar TKA tidak menjadi tekanan tambahan. Guru mengintegrasikan persiapan TKA ke dalam pembelajaran reguler di kelas. “Kami membahas soal soal TKA di jam pelajaran sehingga anak anak tetap belajar tanpa merasa terbebani”, ujar Savitri Oktavia, salah satu guru SMP Bernas.
Kepala SMP Negeri Bernas Marisah menegaskan, TKA membawa dampak positif terhadap perilaku belajar murid. Anak anak menjadi lebih giat belajar. Mereka ingin menunjukkan kemampuan terbaiknya.
“TKA ini sangat baik karena menguji potensi murid sekaligus kemampuan sekolah”, ujarnya. Ia juga menyampaikan bahwa seluruh murid kelas IX di sekolah tersebut mengikuti TKA tanpa kendala berarti dengan dukungan sarana prasarana yang memadai.
Alia dan Ferdiansyah, murid kelas IX SMP Bernas, sempat berbincang-bincang dengan Wamen Fajar melalui video call. Mereka menyampaikan bahwa soal TKA terasa menarik karena disajikan dalam bentuk cerita yang variatif. “Soalnya banyak cerita, jadi lebih menarik”, ungkap Alia.
Kepala SMP Negeri 4 Pekanbaru, Rukiah, menyampaikan bahwa pelaksanaan TKA berjalan lancar dengan tingkat partisipasi 100 persen. “Anak anak merasa materi yang diujikan sesuai dengan penguatan yang sudah diberikan di sekolah, baik numerasi maupun literasi,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa TKA menjadi instrumen penting untuk mengukur kemampuan individu murid, terutama sebagai bekal dalam jalur prestasi pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB).
Dari sisi murid, perubahan cara pandang terlihat semakin menguat. Muhammad Gafasyarianto, murid SMP Negeri 4 Pekanbaru, mengaku sempat merasa takut saat mendengar tentang TKA. Namun proses belajar dan latihan justru mengubah rasa takut tersebut menjadi motivasi.
“Awalnya takut, tapi setelah belajar dan latihan saya jadi semangat. TKA ini penting untuk mengetahui kemampuan diri kita”, ujarnya. Ia juga menyoroti bahwa soal TKA menuntut pemahaman yang mengintegrasikan literasi dan numerasi bukan hafalan saja. (hms/smr)




