Ilustrasi peneliti berupaya menciptakan vaksin virus corona. Foto: Shutterstock/am di internet

Vaksin COVID-19 yang dikembangkan Universitas Oxford Amerika Serikat (AS) dapat memberikan hasil dari percobaan tahap akhir sebelum akhir tahun ini. Namun belum jelas apakah hasil tersebut akan dikeluarkan sebelum hari Natal atau setelahnya.

semarak.co-Kepala Peneliti Uji Coba Vaksin Oxford Andrew Pollard mengaku optimistis pihaknya dapat mencapai titik itu sebelum akhir tahun ini terkait memberikan hasil percobaan tahun ini.

Pollard mengatakan hasil apakah vaksin tersebut efektif atau tidak kemungkinan akan dapat diketahui tahun ini, dan setelah itu, data akan ditinjau kembali dengan teliti oleh para pengawas. Setelah itu, keputusan politik akan dibuat terkait siapa yang akan mendapatkan vaksin tersebut.

“Bagian kami – kami semakin dekat ke sana namun belum sampai ke titik itu,” kata Pollard yang merupakan direktur Oxford Vaccine Group, seperti dikutip Reuters, Rabu (4/11/2020).

Ketika ditanya apakah dia memperkirakan vaksin akan mulai didistribusikan sebelum hari Natal, dia mengatakan “ada peluang kecil untuk itu memungkinkan namun saya tidak tahu.”

BACA JUGA :  PT KAI Daop 1 Jakarta Tambah 4 Perjalanan KA Lagi Mulai 30 Juli 2020

Dilanjut Pollard, “Uji coba kami hanyalah satu dari banyak yang dilakukan di berbagai belahan dunia, yang sebagian mungkin akan memberikan laporan sebelum akhir tahun, jadi langkah-langkah tersebut perlu terjadi untuk berbagai produk yang berbeda.”

Vaksin Oxford/AstraZeneca diperkirakan akan menjadi salah satu vaksin dari perusahaan farmasi besar pertama yang diajukan untuk persetujuan regulasi, di samping kandidat dari Pfizer dan BioNTech.

Vaksin yang berhasil dipandang sebagai capaian yang signifikan dalam pertempuran melawan virus corona jenis baru, yang telah menewaskan lebih dari 1,2 juta orang, menutup sebagian besar ekonomi global, dan menjungkirbalikkan kehidupan normal bagi miliaran orang.

Jika berhasil, vaksin akan memungkinkan dunia untuk kembali ke spektrum normalitas usai kekacauan akibat pandemi. Pollard mengatakan Badan Pengawas Obat dan Makanan AS telah menetapkan standar untuk vaksin menjadi setidaknya 50 persen efektif – tingkat yang akan membawa dampak perubahan terhadap pandemi.

“Tetapi untuk dapat secara ilmiah menguji 50 persen jauh lebih sulit – Anda membutuhkan lebih banyak kasus yang terjadi dalam uji coba,” kata Pollard lagi.

BACA JUGA :  Buntut Kematian George Floyd, Banyak Selebriti AS Turun ke Jalan dalam Aksi Protes

Ditambahkan Pollard, “Jadi saya pikir kita semua berharap vaksin akan lebih efektif daripada angka itu, yang berarti kita akan mendapat jawaban lebih cepat. Tingkat kemanjuran yang sebenarnya tidak diketahui saat ini tidak ada seorang pun yang mengabaikan uji coba mereka dan melihat datanya sejauh ini.”

Regulator kesehatan Brazil Anvisa mengizinkan Johnson & Johnson (J&J) melanjutkan uji klinis vaksin eksperimental COVID-19, demikian pernyataan kantor pemerintah Brazil, pada Selasa (3/11/2020).

Vaksin J&J merupakan satu dari empat vaksin yang sedang diuji cobakan di Brazil, yang mengalami wabah terparah COVID-19 ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan India. Brazil juga melaporkan kematian COVID-19 tertinggi kedua di dunia.

Uji klinis J&J di Brazil dihentikan sementara sejak 12 Oktober, sehingga panel keamanan dapat mengevaluasi penyakit tertentu pada seorang partisipan dalam riset Tahap 3, yang rencananya melibatkan 60.000 orang. Uji klinis vaksin di AS juga dilanjutkan bulan lalu.

Anvisa mengatakan ketika uji klinis dihentikan, 12 partisipan di Brazil, yang semuanya berasal dari Rio de Janeiro, menerima satu dosis vaksin atau plasebo. Riset di negara Amerika Selatan itu dilakukan di 11 negara bagian dan diperkirakan bakal melibatkan hingga 7.560 orang berusia 18 tahun ke atas, demikian Anvisa. (net/smr)

LEAVE A REPLY