Stasiun Jatake dijadwalkan mulai melayani penumpang akhir Januari 2026. Berlokasi di Pagedangan, Kabupaten Tangerang, stasiun ini berada di lintas Commuter Line Tanah Abang–Rangkasbitung, koridor utama pergerakan dan pusat aktivitas ekonomi Jakarta.
Semarak.co – Data BPS Januari 2026, Kabupaten Tangerang dihuni sekitar 3,46 juta jiwa, dengan 67,82 % usia produktif (15–59 tahun). Komposisi demografi tersebut membentuk pola mobilitas harian yang tinggi, khususnya bagi pekerja yang beraktivitas lintas wilayah menuju Jakarta.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyatakan, Kabupaten Tangerang merupakan salah satu mesin aktivitas kawasan metropolitan. Struktur ekonomi daerah menunjukkan basis kegiatan yang erat dengan mobilitas komuter.
“Produk domestik regional bruto (PDRB) per kapita Kabupaten Tangerang pada 2024 tercatat Rp54,73 juta, menandakan skala aktivitas ekonomi yang besar serta kebutuhan konektivitas yang andal untuk menopang produktivitas harian,” ujarnya, dirilis humas KAI Pusat melalui WAGroup Pewarta KAI Pusat, Kamis (22/1/2026).
Kondisi tersebut tercermin pada tren peningkatan jumlah pengguna Commuter Line Tanah Abang–Rangkasbitung dalam jangka panjang. Pada 2018, jumlah pengguna tercatat 54,17 juta orang, meningkat menjadi 55,63 juta orang pada 2019. Pandemi COVID-19 menekan mobilitas hingga 26,83 juta orang pada 2020.
Sejak 2021, pergerakan masyarakat kembali meningkat secara konsisten dengan 42,11 juta pengguna pada 2021, 43,32 juta pada 2022, meningkat menjadi 62,09 juta pada 2023, naik menjadi 70,00 juta pada 2024, dan mencapai 77,55 juta pengguna sepanjang 2025.
Pola tersebut menegaskan Commuter Line sebagai moda utama mobilitas ekonomi harian masyarakat penyangga Jakarta: pekerja sektor industri, jasa, logistik, hingga pelaku UMKM dan perdagangan yang membutuhkan akses cepat, terjangkau, dan terjadwal.
Anne Purba menjelaskan bahwa peningkatan kebutuhan transportasi massal berkorelasi erat dengan karakter demografi dan struktur aktivitas ekonomi Kabupaten Tangerang.
“Data BPS menunjukkan dominasi penduduk usia produktif dengan dinamika pasar kerja yang aktif. Stasiun Jatake dirancang untuk mempermudah akses masyarakat Pagedangan dan sekitarnya menuju pusat aktivitas ekonomi, dengan waktu tempuh yang lebih efisien dan biaya transportasi yang terjangkau,” ujar Anne.
Kawasan Tanah Abang sebagai pusat perdagangan tekstil dan grosir nasional memiliki keterkaitan ekonomi yang kuat dengan wilayah penyangga. Pedagang, pekerja sektor perdagangan, serta pelaku UMKM dari Kabupaten Tangerang melakukan perjalanan rutin menuju kawasan tersebut.
Kehadiran Stasiun Jatake memperpendek akses dari kantong-kantong permukiman dan kegiatan di Pagedangan dan sekitarnya, sehingga mendukung kelancaran aktivitas perdagangan dan produktivitas ekonomi harian.
Stasiun Jatake dibangun melalui skema creative financing antara KAI dan PT Bumi Serpong Damai Tbk (Sinar Mas Land) dengan konsep Transit Oriented Development (TOD). Stasiun ini berdiri di atas lahan seluas 2.435 meter persegi, memiliki bangunan tiga lantai, dan dirancang melayani hingga 20 ribu penumpang per hari.
Area parkir kendaraan roda dua, roda empat, dan sepeda telah disiapkan, serta tersedia lahan pengembangan lanjutan seluas sekitar 4.000 meter persegi untuk mendukung integrasi antarmoda.
Dari sisi desain, Stasiun Jatake mengusung konsep modern tropis dengan sirkulasi udara alami di area publik serta pemanfaatan panel surya untuk mendukung efisiensi energi. Pendekatan ini sejalan dengan kebutuhan stasiun yang tidak hanya fungsional, namun juga adaptif terhadap kenyamanan pelanggan.
Saat ini, Stasiun Jatake memasuki tahap uji fungsi dan simulasi operasional bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan. Tahap ini dilakukan untuk memastikan seluruh aspek keselamatan, keamanan, dan kesiapan layanan memenuhi standar sebelum stasiun mulai beroperasi.
“Stasiun Jatake memperkuat jaringan layanan Commuter Line dan mendukung pergerakan ekonomi masyarakat Kabupaten Tangerang sebagai wilayah penyangga Jakarta. Kami optimistis kehadiran stasiun ini meningkatkan efisiensi mobilitas dan produktivitas masyarakat secara berkelanjutan,” tutup Anne.
KAI Perkuat Perlintasan Sebidang, Ajak Masyarakat Jaga Nyawa dan Keselamatan
PT KAI menegaskan bahwa keselamatan perjalanan kereta api sangat bergantung pada kepatuhan seluruh pengguna jalan terhadap aturan di perlintasan sebidang. Setiap pengendara wajib berhati-hati, mematuhi rambu, serta mengutamakan perjalanan kereta api sesuai ketentuan yang berlaku.
Vice President Public Relations KAI Anne Purba menyampaikan, ketidakpatuhan terhadap prosedur keselamatan di perlintasan sebidang berpotensi menimbulkan risiko serius, baik bagi petugas kereta api maupun masyarakat.
“Masinis dan asisten masinis adalah petugas yang menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab dan memiliki keluarga yang menanti di rumah. Setiap pelanggaran di perlintasan sebidang berisiko menimbulkan dampak serius terhadap keselamatan mereka,” ujar Anne.
Anne menegaskan bahwa perlintasan sebidang merupakan ruang bersama yang menuntut kesadaran dan kepedulian antar pengguna jalan. “Berhenti sejenak, mematuhi rambu, dan memastikan kondisi aman merupakan sikap yang mencerminkan kepedulian terhadap keselamatan nyawa bersama,” tambahnya.
Sebagai pengingat, perlintasan kereta api di Indonesia telah diatur secara ketat dalam peraturan perundang-undangan. Pengguna jalan wajib mendahulukan perjalanan kereta api, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian serta Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
Hingga Desember 2025, KAI mencatat masih ada 276 titik rawan pada jaringan perkeretaapian. Untuk menekan risiko kecelakaan, KAI telah menutup 316 perlintasan sebidang berisiko tinggi sebagai langkah perlindungan keselamatan publik.
Selain pengamanan fisik, KAI secara konsisten membangun budaya keselamatan melalui pendekatan edukatif. Sepanjang tahun 2025, KAI melaksanakan 2.016 kegiatan sosialisasi keselamatan di sekitar jalur kereta api, 212 kegiatan edukasi ke sekolah, pemasangan 687 spanduk keselamatan, serta 655 kegiatan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
Anne mengimbau masyarakat untuk menjadikan keselamatan sebagai kebiasaan dalam aktivitas sehari-hari. “Berhenti sejenak, melihat kanan dan kiri, serta memastikan kondisi aman sebelum melintas adalah keputusan sederhana yang memiliki arti besar bagi keselamatan diri dan banyak orang,” tutup Anne. (hms/smr)





