Washington meningkatkan tekanan terhadap Republik Iran melalui sanksi ekonomi baru yang menyasar jaringan perdagangan internasional, sementara sejumlah mitra utama Teheran berpotensi terkena dampak kebijakan tersebut.
Semarak.co – Amerika Serikat (AS) memerluas tekanan ekonomi terhadap Iran melalui paket sanksi baru yang menyasar jaringan perdagangan, pelayaran, teknologi, emas, penerbangan, aset digital serta pendukung keuangan pemerintah Teheran secara langsung dan luas.
Langkah tersebut diumumkan Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebagai Economic D-Day, dengan tujuan memersempit ruang gerak ekonomi Iran dan memutus berbagai jalur pembiayaan bagi pemerintah Teheran dalam negeri secara menyeluruh.
Washington juga meminta negara lain mengurangi hubungan dagang dengan Iran, sehingga kebijakan tersebut berpotensi menekan sejumlah mitra penting Teheran, termasuk dua negara Muslim yang menjadi sekutu utama AS tersebut.
Data perdagangan resmi 2024 menunjukkan China menjadi tujuan ekspor terbesar Iran, dengan nilai sekitar 14,58 miliar dolar Amerika Serikat, terutama melalui pembelian energi dan berbagai komoditas utama dari Iran sepanjang tahun.
Irak menempati posisi berikutnya dengan nilai ekspor sekitar 11,7 miliar dolar Amerika, karena negara Persia, Iran memasok gas, listrik, pangan, bahan bangunan serta produk manufaktur untuk pasar Irak dan sekitarnya secara rutin.
Uni Emirat Arab (UEA) menjadi tujuan ekspor Iran senilai sekitar 7,16 miliar dolar Amerika, sekaligus jalur penting perdagangan ulang dan keuangan sebelum hubungan kedua negara memburuk tajam dalam beberapa waktu terakhir.
Turki menerima ekspor Iran sekitar 6,1 miliar dolar Amerika, mencakup gas, produk petrokimia, pangan serta bahan konstruksi, dengan perdagangan berlangsung melalui perbatasan darat kedua negara secara rutin dan langsung strategis.
Afghanistan berada di urutan kelima tujuan ekspor Iran dengan nilai sekitar 2,3 miliar dolar Amerika, terutama untuk bahan bakar, pangan, konstruksi, serta akses perdagangan melalui pelabuhan Iran menuju kawasan regional luas.
Dari sisi impor, seperti dilansir SindoNews.com dari media Arab berpengaruh, Al Jazeera (27/8/2026), Uni Emirat Arab menjadi pemasok terbesar Iran dengan nilai sekitar 21 miliar dolar Amerika, disusul China 17,8 miliar dan Turki 11,1 miliar dolar Amerika pada 2024.
Jika tekanan ekonomi terus diperluas, jaringan perdagangan Iran dapat menghadapi biaya transaksi lebih tinggi, hambatan logistik, serta risiko pembayaran, tetapi efektivitas sanksi bergantung pada respons para mitra dagang utama dunia. (net/snc/alz/kim/smr)





