Amerika Serikat (AS) menghancurkan lima kapal tanker minyak Iran pada Selasa, 8 September 2026, setelah Washington menuduh Garda Revolusi Iran menyerang kapal perang AS menggunakan rudal balistik dalam serangan terbaru sebelumnya.
Semarak.co – Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM menyatakan serangan itu menargetkan kapal tanker yang dianggap bagian jaringan perdagangan minyak rahasia untuk membiayai Garda Revolusi dan kelompok sekutunya di kawasan Timur Tengah.
Dilansir Associated Press (AP), Reuters dan Financial Times (9/9/2026), kelima kapal yang dihancurkan bernama Kivik, Charminar, Horizon 1, Riesco dan Derya. AS menyebut seluruh awak kapal telah dievakuasi sebelum serangan dilakukan, sehingga tidak ada korban jiwa dalam insiden itu.
Serangan terbaru itu memperluas konfrontasi Amerika-Iran yang telah berlangsung lebih dari enam bulan, sekaligus meningkatkan risiko gangguan perdagangan energi melalui kawasan Teluk dan Selat Hormuz secara signifikan bagi dunia.
Iran membalas dengan meluncurkan rudal menuju sasaran Amerika di Yordania. Militer Yordania mengatakan pertahanan udaranya berhasil mencegat 18 rudal balistik, sementara dua lainnya jatuh tanpa menimbulkan korban jiwa sejauh ini.
Ketegangan juga berdampak pada pelayaran internasional. Lalu lintas kapal komoditas melalui Selat Hormuz menurun tajam setelah Iran memeringatkan bahwa fasilitas energi sekutu Amerika dapat menjadi sasaran serangan berikutnya dalam konflik tersebut.
Pasar minyak turut bereaksi. Harga minyak mentah Brent sempat mendekati 100 dolar Amerika per barel, mencerminkan kekhawatiran bahwa konflik berkepanjangan dapat mengganggu pasokan energi dunia secara serius dalam waktu dekat.
Situasi semakin berbahaya karena Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi global. Setiap gangguan berkepanjangan berpotensi meningkatkan biaya pengiriman, inflasi serta tekanan ekonomi berbagai negara di dunia secara luas. (net/ap/rts/ft/kim/smr)





