Militer Amerika Serikat (AS) menyatakan bahwa pihaknya telah menghancurkan dua kapal kecil Iran setelah keduanya diduga berusaha mengambil alih kapal nirawak Saildrone milik Angkatan Laut AS di perairan Teluk Persia pada pekan ini.
Semarak.co – Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM mengatakan insiden telah terjadi ketika kapal-kapal kecil Iran mendekati Saildrone yang sedang menjalankan misi pengawasan. Pasukan AS kemudian melepaskan tembakan untuk mencegah pengambilalihan setempat.
Juru bicara CENTCOM Kapten Tim Hawkins mengatakan upaya pengambilalihan tersebut gagal setelah pasukan Amerika merespons secara paksa. Pernyataan itu menjadi laporan resmi Washington mengenai insiden tersebut kepada publik pada Selasa.
Namun, seperti dilansir dari situs AP (Apnews.com) dan Reuters (16/9/2026), versi Iran berbeda. Iran menyebut kapal yang dihantam merupakan kapal nelayan dan melaporkan adanya nelayan yang hilang setelah serangan. Klaim itu belum dapat diverifikasi secara independen hingga hari ini.
Saildrone merupakan kapal permukaan nirawak berukuran sekitar delapan meter yang dapat beroperasi secara otonom. Sistem itu membawa kamera, komunikasi dan sensor untuk pengawasan wilayah maritim serta pengumpulan data lebih lanjut.
Insiden terbaru menambah ketegangan di sekitar Selat Hormuz, jalur strategis yang sangat penting bagi perdagangan energi dunia. AP mnyebut, lalu lintas kapal komoditas melalui kawasan tersebut kini menurun tajam akibat konflik langsung.
Menurut data Kpler yang dikutip Reuters, hanya empat kapal komoditas melintasi Selat Hormuz pada Senin (14/9/2026) turun dari 10 kapal sehari sebelumnya dan jauh dibandingkan kondisi normal sebelum konflik di kawasan.
Ketegangan juga berdampak pada pasar energi. Reuters melaporkan harga minyak melonjak pada Selasa setelah gangguan pengiriman Saudi menambah kekhawatiran mengenai pasokan global dan keamanan jalur perdagangan internasional di seluruh dunia.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa operasi kapal nirawak kini menjadi bagian penting dalam persaingan keamanan maritim AS dan Iran, terutama di sekitar jalur pelayaran strategis kawasan yang semakin rawan tersebut.
Situasi itu berlangsung ketika upaya diplomatik mengenai Selat Hormuz menghadapi hambatan. Reuters melaporkan pembicaraan negara-negara Teluk dengan Iran ditunda, sementara serangan regional terus mengganggu aktivitas pelayaran komersial di kawasan Teluk. (net/ap/rts/kim/smr)





