Apa Sih Tolok Ukur Keberhasilan Rumah Tangga

29

Oleh Anonym *

semarak.co-Sebagian besar masyarakat mengatakan, ada 2 hal yang jika terjadi maka Rumah Tangga tersebut terbilang sukses:

1) Punya anak;

2) Banyak harta.

Bukan. Bukan itu. Pertama, Rumah Tangga Aisyah Radhiallaahu anha tidak dikaruniai anak, lalu apakah kita akan berkata Suami-Isteri tersebut tidak harmonis? Tidak bahagia?

Kedua, Rumah Tangga Fatimah Radhiallaahu ‘anha sangat minim harta. Sang Istri pernah menahan laparnya selama beberapa hari hingga kuninglah wajah beliau. Lalu, apakah kita berani mengatakan bahwa Rumah Tangga mereka hancur berantakan? Tidak. Bahkan mereka adalah dijamin masuk Surga اَللّهُ

‎ماشاء الله

Benar, sebagai Isteri jangan bermudah-mudah menuntut kalimat perpisahan hanya karena kedua sebab di atas.  Sebab ummahatul mukminin tidak pernah memberatkan suaminya dengan perkataan tercela.

Juga, sebagai seorang suami jangan bermudah-mudahan mengatakan “aku tak punya harta, aku tak pantas untukmu. Duhai Isteriku. Taukah para Suami, kalimat tersebut justru enggan didengar oleh Istri kalian.

Sebab para sahabat tidak tercermin dalam diri mereka sifat keputus-asaan. Tolak ukur keberhasilan Rumah Tangga seorang Muslim ialah:

Ketika setelah menikah, bertambah taqwa mereka kepada اَللّهُ

Ketika setelah menikah, bertambah amalan-amalan sunnah mereka

Ketika setelah menikah, bertambah kesabaran mereka di tiap taqdir اَللّهُ

Ketika setelah menikah, bertambah ghiroh mendatangi majelis2 ‘ilmu اَللّهُ

Pun, setelah menikah, bertambah takutlah mereka mengingat hari dimana mereka akan terpisah dan menghadap sidang Rabbnya yang paling adil.

Bertambah berharaplah mereka kepada Rabbnya agar bisa dikumpulkan lagi dalam Jannah اَللّهُ tanpa hisab ‎بارك الله فيكم و اهلكم

Anak bukan jaminan hidup kita Bahagia. Sangat menginspirasi buat saya kisah ini. Kisah nyata untuk renungan yang dikemas dengan judul: #Hancurnya_Hati_Seorang_Ibu

Di Kabupaten Rokan Hulu, Riau ada seorang janda karena suaminya telah meninggal dunia. Dengan gajinya sebagai GURU, dia membesarkan anak laki-laki satu²nya seorang diri. Anaknya sangat patuh pada orangtuanya.