Iran menangkap ada indikasi pergerakan yang dilakukan Kuwait dan Bahrain untuk membantu militer Amerika Serikat (AS). Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) telah berjanji untuk menanggapi setiap serangan AS dengan respons yang lebih keras seiring berlanjutnya serangan balasan di Teluk.
Semarak.co – “Seperti yang telah kami prediksi, musuh adalah musuh yang melanggar komitmennya, licik dan tidak dapat dipercaya. Kapan saja, pada tahap negosiasi apa pun, mereka dapat mengambil tindakan tertentu,” kata juru bicara IRGC, Hossein Mohebi.
Seperti dilansir SindoNews.com kepada stasiun televisi pemerintah SNN TV (29/6/2026), jubir IRGC menyebut, “Apa pun tindakan yang diambil musuh dalam hal ini, kami telah menanggapinya, dan kami akan menanggapinya,” kata jubir IRGC Hossein Mohebi.
“Kami ulangi: Jika musuh melanggar komitmennya dan melanggar gencatan senjata, kami akan menanggapi lebih keras dari sebelumnya, dan kami tekankan bahwa kami akan menanggapi dengan lebih keras lagi,” ujar Hossein lagi.
“Kami menganggap langkah-langkah musuh tersebut sebagai hal yang wajar karena kami mengetahui sifat musuh,” kata Mohebi. Mostafa Khoshcheshm dari Universitas Teheran mengatakan Iran telah berulang kali memeringatkan negara-negara tetangganya tentang pemberian dukungan militer kepada AS dari wilayah mereka.
“Iran telah memberi waktu dan kesempatan kepada negara-negara pesisir Teluk Persia untuk menghentikan permusuhan AS dan pergerakan bermusuhan AS dari negara mereka. Saat ini, ketika saya berbicara dengan Anda, ada lebih dari selusin pesawat tanker AS di negara-negara ini,” cetus Khoshcheshm.
“Dan Amerika Serikat masih menggunakan wilayah-wilayah ini sebagai platform untuk menyerang Iran,” lanjut Khoshcheshm kepada Al Jazeera. “Mereka telah membangun kembali beberapa landasan udara dan itu juga melanggar gencatan senjata.”
“Karena kedua belah pihak seharusnya telah menghentikan semua pergerakan bermusuhan satu sama lain,” imbuhnya lalu juga mengatakan, berdasarkan hukum internasional, Iran berhak untuk mengendalikan sebagian Selat Hormuz sesuai keinginannya.
“Kita berbicara tentang perjanjian gencatan senjata setelah perang. Jadi di sini kita tidak berbicara tentang hal lain, menurut MoU tersebut AS telah secara eksplisit melanggarnya,” kata Khoshcheshm, berbicara di Teheran.
Presiden AS Donald Trump terus membuat pernyataan yang mengancam terhadap Iran, tetapi seorang analis mengatakan bahwa pernyataan tersebut tidak perlu dianggap terlalu serius. “Mungkin akan tiba saatnya kita tidak lagi mampu bersikap rasional,” katanya.
“Dan akan dipaksa untuk menyelesaikan secara militer pekerjaan yang telah kita mulai dengan sangat sukses. Jika itu terjadi, Republik Islam Iran tidak akan ada lagi,” tulis Trump di platform Truth Social miliknya pada hari Sabtu (27/6/2026).
Trump Melayani Audiens Domestik dan Internasional
Wolfgang Pusztai, seorang analis pertahanan dan mantan atase militer untuk Austria, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Trump “tidak hanya melayani Iran dan audiens internasional tetapi juga audiens domestiknya dengan pernyataannya”.
“Dia menggunakan argumen yang agak aneh sehingga saya tidak akan menganggap semua ini secara harfiah. Saya akan mengatakan, ancaman semacam ini cukup khas bagi presiden Amerika. Dia sangat menyadari, tekanan militer tambahan, beberapa serangan tambahan, tidak akan terlalu merugikan Iran,” kata Pusztai.
Trump mengirimkan pesan bahwa AS “siap meningkatkan tekanan militer lagi dan mungkin juga siap memperbarui blokade” Selat Hormuz, tambahnya. “Tentu ada risiko bahwa negara-negara Teluk terseret kembali ke dalam masalah ini,” kata Pusztai. (net/snc/alz/ts/st/kim/smr)





