Diperkirakan 35.000 anak dan orang dewasa sebagian atau sepenuhnya kehilangan pendengaran mereka akibat pemboman selama serangan genosida Zionis Israel selama dua tahun di Gaza, menurut survei organisasi nirlaba lokal yang dikutip Le Monde.
Semarak.co – “Gangguan pendengaran dapat disebabkan oleh cedera pada kepala atau leher, trauma otak yang menyebabkan gendang telinga pecah dan kerusakan pada sistem pendengaran,” ungkap Dr. Ramadan Hussein, audiolog yang bekerja dengan Atfaluna Society for the Deaf, dikutip dari Pritzen Post (9/1/2026).
“Tetapi juga dapat disebabkan paparan gelombang suara, bahkan jika seseorang tidak mengalami cedera fisik, Gangguan pendengaran ini, paling sering, tidak dapat dipulihkan,” tambahnya dilansir arrahmah.id dari Pritzen Post pada 11 Januari 2026.
Salah satu anak yang pendengarannya terpengaruh oleh pemboman adalah seorang gadis berusia 12 tahun bernama Dana. Dia sedang beristirahat di kamarnya di Gaza ketika satu rudal Israel menghantam gedung tepat di seberang kamarnya, menurut laporan tersebut.
Ayah Dana menekankan ledakan itu sangat dahsyat, dengan pintu kamarnya terlepas dan jendela-jendela hancur. Meskipun selamat dari ledakan, Dana kehilangan pendengarannya. Para spesialis di organisasi Atfaluna mengkonfirmasi Dana sakit “gangguan pendengaran yang sangat parah”.
“Karena kekuatan ledakan, saraf pendengaran rusak parah, mungkin hancur total.” Dalam kasus lain, seorang bayi usia lima hari terlempar dan terkubur di bawah pasir ketika satu rudal Israel menghantam 1 meter dari tenda keluarganya di daerah al-Mawassai, Khan Yunis.
Ibunya, Safa al-Qara, mengatakan, “Kami menemukannya berkat kakinya yang mencuat. Ia dalam keadaan yang mengerikan; kami pikir ia akan meninggal.” Empat bulan setelah kelahirannya, ibunya menyadari “ada sesuatu yang salah.”
Gerakan yang “menarik perhatiannya, bukan suara.” Ia kemudian didiagnosis memiliki tingkat pendengaran nol. Laporan itu menyatakan, ia sangat membutuhkan alat bantu dengar atau implan koklea untuk menghindari keterlambatan perkembangan yang parah — tugas yang mustahil di wilayah yang terkepung tersebut karena Israel telah memblokir masuknya beberapa peralatan medis dan obat-obatan.
“Selama hampir setahun, tidak satu pun alat bantu dengar yang masuk ke Jalur Gaza,” ujar Dr. Hussein memperingatkan. “Bahkan mereka yang sudah memilikinya pun akan segera tidak dapat menggunakannya, karena baterai juga dilarang.” (net/aid/pp/kim/smr)





