Menghukum Kebenaran: Francesca Albanese dan Harga Mengungkap Genosida Israel

Grafis Francesca Albanese. Foto: wagroupjurnaliskemenag

Oleh Anonym *)

Semarak.co – Jurnalis Chris Hedges menceritakan pengalamannya melakukan perjalanan bersama Pelapor Khusus PBB Francesca Albanese, yang kini terus-menerus menjadi sasaran serangan Israel dan Amerika Serikat karena mendokumentasikan apa yang ia sebut sebagai “ekonomi genosida” di Palestina yang diduduki.

Bacaan Lainnya

Beberapa hari setelah menerbitkan laporan pentingnya, Albanese dikenai sanksi oleh Amerika Serikat, aset keuangannya dibekukan dan pekerjaannya dikriminalisasi—langkah-langkah yang oleh Hedges digambarkan sebagai hukuman karena “berdiri teguh bersama kaum tertindas.”

Laporan tersebut menyebutkan puluhan perusahaan besar yang meraup keuntungan dari pendudukan dan genosida, serta menggambarkan kekuasaan Israel sebagai sebuah sistem dengan “pengawasan yang sangat minim dan tanpa akuntabilitas,” di mana kejahatan perang berubah menjadi ladang bisnis.

Karena hal itu, Albanese dibungkam, diisolasi, dan diancam, bahkan dilarang memasuki Amerika Serikat untuk memberikan pengarahan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa. Meskipun menghadapi represi, Albanese terus melanjutkan pekerjaannya, mendokumentasikan penyiksaan sistematis di penjara-penjara Israel.

“Keadaannya separah itu,” ujarnya.

“Ini adalah penyiksaan yang sistemik… orang-orang ditangkap, diperkosa, lalu dikembalikan.”

Ia menceritakan tentang para perempuan yang “kehilangan kata-kata” setelah mengalami kekerasan seksual berulang selama penahanan.

Albanese juga mengungkap peran media Barat dalam membungkam kebenaran Palestina. “Mereka tidak menulis satu baris pun tentang hal ini,” katanya merujuk pada media-media besar, sambil menuduh mereka sengaja menghalangi liputan yang menantang narasi Israel.

“Tidak ada lagi media yang benar-benar bebas,” ia memperingatkan.

“Apa yang terjadi pada rakyat Palestina dan pada mereka yang bersuara membela Palestina adalah padanan tahun 2025 dari pembakaran penyihir di alun-alun publik.”

*) penulis ditemukan, bila kelak ditemukan otomatis dilakukan koreksi.

 

Sumber: WAGroup Jurnalis Kemenag (postKamis8/1/2026/oebai)

Pos terkait