Ketegangan Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat usai Presiden Trump mengancam fasilitas nuklir bawah tanah Iran yang dikenal sebagai Pickaxe Mountain atau “Gunung Kapak”. Pernyataan itu disampaikan di tengah berlanjutnya operasi militer Washington terhadap sejumlah target strategis Iran.
Semarak.co – Dalam wawancara yang berlangsung di Ruang Oval, Senin (13/7), Trump menyatakan AS siap menghancurkan fasilitas itu apabila diperlukan. Meski mengeluarkan peringatan keras, ia tetap membuka peluang penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi jika Teheran bersedia melanjutkan perundingan.
Trump mengatakan pemerintahannya terus memantau aktivitas di kompleks tersebut. Ia juga mengklaim program nuklir Iran telah mengalami kemunduran akibat tekanan militer dan berbagai operasi yang dilakukan dalam beberapa waktu terakhir.
Fasilitas “Gunung Kapak” berada di dekat kompleks nuklir Natanz, salah satu pusat utama pengayaan uranium Iran. Lokasi itu dibangun jauh di dalam pegunungan dengan perlindungan batuan yang sangat tebal sehingga diyakini mampu bertahan dari serangan bom penghancur bunker paling canggih.
Sejumlah laporan intelijen Barat menduga Iran tengah mengembangkan fasilitas pengayaan uranium cadangan di lokasi itu. Namun, pemerintah Iran membantah tuduhan dan menegaskan kompleks itu cuma digunakan untuk memproduksi serta merakit mesin sentrifugal generasi terbaru.
Di saat bersamaan, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan dimulainya gelombang baru operasi militer terhadap Iran. Serangan itu menjadi malam ketiga berturut-turut yang menyasar berbagai instalasi militer di beberapa wilayah negara tersebut.
Militer AS menyebut operasi dilakukan menggunakan amunisi berpemandu presisi. Target yang dihantam meliputi sistem pertahanan pantai, lokasi peluncuran rudal, pangkalan pesawat nirawak, hingga fasilitas angkatan laut yang dinilai mendukung kemampuan tempur Iran.
Menurut pejabat Amerika, operasi tersebut difokuskan untuk melemahkan jaringan pengawasan militer, drone, serta peluncur rudal Iran. Washington juga menegaskan serangan dirancang secara terbatas dengan tujuan meminimalkan korban sipil.
Sementara itu, media Iran Irna, melaporkan serangkaian ledakan terjadi di berbagai wilayah, termasuk Bandar Abbas, Pulau Kish, Pulau Qeshm, Pulau Abu Musa dan Kota Jam di Provinsi Bushehr. Ledakan terjadi hampir bersamaan dengan berlangsungnya operasi militer AS.
Laporan dari otoritas Iran, seperti dilansir Arrahmah.id dari CNN, Al Jazeera dan media lain (14/7/2026), menyebut sedikitnya empat orang mengalami luka-luka akibat serangan di Kota Omidiyeh, Provinsi Khuzestan. Selain itu, tiga kapal di Pelabuhan Pulau Kish dilaporkan terbakar setelah serangan pada Senin malam.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Trump menegaskan peluang perundingan damai masih terbuka. Ia mengungkapkan bahwa kedua negara sempat mendekati kesepakatan, namun proses negosiasi belum mencapai hasil akhir karena masih terdapat sejumlah perbedaan.
Perkembangan konflik juga berdampak pada jalur pelayaran internasional. Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab menyatakan dua kapal tanker nasional diserang rudal jelajah di jalur selatan Selat Hormuz, mengakibatkan satu orang tewas dan delapan lainnya terluka.
Pemerintah UEA mengecam insiden tersebut sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional. Di sisi lain, Garda Revolusi Iran menyatakan telah menyerang fasilitas militer di Bahrain dan menegaskan akan terus mempertahankan kepentingannya di kawasan Selat Hormuz.
Rangkaian perkembangan ini menunjukkan konfrontasi antara Washington dan Teheran masih berada pada fase yang sangat sensitif. Meski peluang diplomasi belum sepenuhnya tertutup, kedua pihak terus meningkatkan tekanan militer sehingga risiko eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah tetap tinggi. (net/aid/alz/am/cnn/mrs/kbi/nn/an/kim/smr)





