Rusak Negosiasi AS dengan Iran: Eks CIA Tuding Kesengajaan Trump-Netanyahu

Eks analis di badan intelijen Amerika, Central Intelligence Agency (CIA) menuding Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sengaja merusak negosiasi dengan Republik Islam Iran untuk menghentikan perang dan tercapainya perdamaian langgeng.

Semarak.co – Mantan analis Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA), Larry Johnson, menuding Presiden AS Donald Trump dan PM Israel, Benjamin Netanyahu telah mengambil langkah-langkah yang berpotensi merusak proses negosiasi dengan Iran.

Bacaan Lainnya

Tuduhan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan militer di Timur Tengah, ketika upaya diplomasi antara Washington dan Teheran belum membuahkan kesepakatan final. Demikian dilansir Arrahmah.id dari CNBC (11/6/2026).

Johnson menyampaikan pandangannya dalam wawancara yang dikutip CNBC (10/6/2026) setelah serangan AS dan Israel terhadap target di Iran serta Lebanon memicu kekhawatiran bahwa jalur diplomasi yang sedang dibangun akan semakin sulit dipertahankan.

Menurutnya, tindakan militer yang terus berlangsung berisiko menghilangkan kepercayaan yang dibutuhkan dalam proses perundingan. Mantan analis CIA tersebut menilai,berbagai operasi militer yang dilakukan ketika pembicaraan masih berlangsung mengirimkan sinyal yang bertentangan kepada Iran.

Ia berpendapat bahwa negosiasi membutuhkan konsistensi kebijakan, sementara tekanan militer yang terus meningkat justru dapat memperbesar peluang kegagalan diplomasi. “Serangan terhadap Iran dan Lebanon berpotensi merusak diplomasi yang sedang berlangsung,” kata Johnson.

Menurut Johnson, tindakan tersebut dapat memerkuat pandangan di Teheran bahwa Washington tidak sepenuhnya berkomitmen pada penyelesaian melalui meja perundingan. Dalam beberapa hari terakhir, Trump menegaskan bahwa dirinya tetap ingin mencapai kesepakatan dengan Iran.

Meskipun terjadi berbagai insiden keamanan, termasuk serangan rudal dan ketegangan di Selat Hormuz. Bahkan, Trump menyatakan, Netanyahu tidak akan banyak pilihan selain menerima kesepakatan yang dinegosiasikan AS apabila perundingan berhasil mencapai hasil akhir.

Sementara itu, Netanyahu tetap memertahankan sikap keras terhadap Teheran. Dalam sejumlah pernyataan publik, pemimpin Israel itu menegaskan bahwa Republik Iran tetap menjadi ancaman utama bagi keamanan kawasan.

Ia juga menyatakan bahwa Israel akan terus mengambil langkah yang dianggap perlu untuk menghadapi pemerintah Iran maupun kelompok-kelompok sekutunya di Timur Tengah. Hingga kini, Gedung Putih maupun kantor PM Israel belum memberikan tanggapan langsung terhadap tudingan Larry Johnson.

Namun perdebatan mengenai apakah tekanan militer membantu atau justru menghambat negosiasi dengan Iran diperkirakan akan terus menjadi isu utama dalam dinamika politik dan keamanan Timur Tengah dalam beberapa waktu ke depan. (net/aid/cnbc/kim/smr)

Pos terkait