Kendati AS dan Iran Sama-Sama Klaim Menang Perang: Tapi Diam-Diam Mereka Terjebak dalam Kerugian Besar

Amerika Serikat (AS) dan Republik Iran dalam perang sengit empat bulan sama-sama mengklaim menang. Iran mengklaim bahwa perang dimenangkannya. Namun, AS pun tak mau kalah. Trump menganggap ini adalah perangnya AS. Tapi, diam-diam, terjebak dalam kerugian besar.

Semarak.co – Konfrontasi negara Paman Sam dengan Iran terus memanas, di tengah klaim kemenangan masing-masing pihak yang justru menyembunyikan kerugian besar di baliknya. Sebuah analisis yang dimuat di media Inggris The Guardian yang mengungkapkannya.

Bacaan Lainnya

The Guardian, media Inggris itu, seperti dilansir Arrahmah.id pada Jumat 5 Juni 2026, mengungkap paradoks dalam konflik yang terus berlangsung antara AS dan Iran. Kedua negara dinilai sama-sama merasa berada di posisi menang, padahal kenyataannya keduanya justru menanggung kerugian yang semakin besar.

Penulis artikel, Sanam Vakil — Direktur Program Timur Tengah dan Afrika Utara di lembaga riset Chatham House –menyebut, baik Washington maupun Teheran terus bertindak seolah mereka memperoleh keuntungan strategis dari konfrontasi yang terjadi.

Namun, di balik itu, sebenarnya, keduanya menghadapi tekanan politik, ekonomi dan strategis yang kian meningkat. Menurutnya, gencatan senjata yang mulai berlaku pada 8 April 2026 lalu tidak benar-benar membawa stabilitas.

Situasi di lapangan justru diwarnai gelombang eskalasi baru, termasuk serangan Amerika terhadap target Iran serta respons Teheran yang menyasar wilayah Kuwait dan Bahrain. Di saat yang sama, Israel juga meningkatkan operasi militernya di kawasan Lebanon.

Meski kedua pihak sejauh ini sudah berhasil menghindari perang terbuka, kondisi yang berlangsung di lapangan dinilai berpotensi berubah menjadi kebuntuan berkepanjangan dengan akan berdampak luas di kawasan dan dunia.

Empat Hambatan Utama

Sanam Vakil mengidentifikasi empat faktor utama yang menghambat tercapainya solusi politik. Pertama, krisis kepercayaan. Iran tidak meyakini bahwa Presiden AS Donald Trump mampu memberikan jaminan kesepakatan jangka panjang.

Teheran khawatir tuntutan AS akan terus berkembang, dari isu nuklir hingga menyentuh program rudal dan kebijakan regional. Kedua, ketiadaan komunikasi langsung yang efektif. Sejak pertemuan terbatas di Islamabad April lalu, belum ada jalur komunikasi yang mampu menghasilkan kesepahaman konkret.

Ketiga, perbedaan tujuan yang tajam. Iran menuntut kejelasan dan jaminan konkret, termasuk pencabutan sanksi dan mekanisme implementasi yang pasti. Sebaliknya, Trump disebut lebih menginginkan kesepakatan cepat yang dapat dijual sebagai kemenangan politik.

Keempat, dinamika politik domestik di kedua negara. Di AS, setiap kesepakatan dengan Iran berpotensi mendapat tentangan keras dari berbagai kubu politik. Sementara di Iran, kompromi setelah periode konflik dapat dianggap sebagai bentuk kelemahan, terutama oleh generasi politik baru.

Ilusi Kemenangan

Lebih jauh, artikel tersebut menyoroti bahwa kedua pihak sama-sama meyakini waktu berada di pihak mereka. Iran merasa berhasil bertahan dari tekanan Amerika dan sekutunya, serta menganggap posisinya semakin kuat dengan kemampuan menekan jalur strategis seperti Selat Hormuz.

Di sisi lain, AS melihat dirinya unggul secara militer dan berhasil melemahkan jaringan sekutu Iran di kawasan. Namun, Vakil menilai persepsi ini menyesatkan. Sebab, AS menghadapi beban politik dan ekonomi yang meningkat.

Ketidakstabilan yang terus berlangsung di kawasan Teluk yang tengah berkonflik keras/perang tak berkesudahan, membuat pasar energi global tetap dalam ketidakpastian dan meningkatkan risiko terhadap sekutu-sekutunya di kawasan Teluk/Timur Tengah.

Sementara itu, Iran meski bertahan, mengalami tekanan ekonomi berat. Tingkat inflasi dilaporkan melonjak hingga sekitar 77% pada Mei 2026, disertai melemahnya nilai mata uang nasional. Selain itu, dampak dari gelombang protes domestik sebelumnya masih membayangi situasi internal negara itu.

Peluang yang Masih Terbuka

Meski situasi tampak buntu (deadlock), Vakil menegaskan bahwa peluang untuk meredakan ketegangan masih ada. Namun, hal itu mensyaratkan adanya komunikasi langsung yang lebih efektif, road maps jelas, serta kesiapan kedua pihak untuk melakukan kompromi nyata.

Tanpa langkah-langkah strategis tersebut, gencatan senjata yang ada hanya akan menjadi jeda sementara dalam konflik panjang yang merugikan semua pihak. Tak cuma kawasan Teluk/Timur Tengah, namun juga merembet global ke seantero dunia. (net/aid/tg/kim/smr)

Pos terkait