Jet Tempur F/A-18 Amerika Serang Kapal Tanker Iran: Kata AS Perang Berakhir, Mana Janjinya?

Pengingkaran terhadap perjanjian damai atau mengakhiri perang Iran, masih terus berlangsung. Padahal, Amerika Serikat (AS) telah mengumumkan perang berakhir. Tapi, apa yang terjadi?  Jet tempur F/A-18 Super Hornet AS masih menyerang kapal tanker minyak Iran di Teluk Oman.

Semarak.co Sebuah jet tempur F/A-18 Super Hornet negara Paman Sam telah menembaki dan melumpuhkan kapal tanker minyak berbendera Iran di Teluk Oman pada Rabu (6/5/2026) waktu setempat. Ini kontradiksi dengan pengumuman Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.

Bacaan Lainnya

Kala itu, menlu AS menyatakan perang Amerika-Israel terhadap Republik Iran telah berakhir karena tujuan telah tercapai. “Kami lebih memilih jalan perdamaian. Yang lebih disukai presiden (Donald Trump) adalah kesepakatan,” kata Rubio.

Serangan terhadap kapal tanker minyak Iran terjadi sesaat setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan melanjutkan kampanye pengeboman kecuali Teheran setuju untuk mengakhiri perang dengan syarat-syarat yang ditetapkan Washington.

Komando Pusat AS atau CENTCOM mengatakan kapal tanker tanpa muatan, yang diidentifikasi sebagai M/T Hasna, berusaha berlayar menuju pelabuhan Iran pada hari Rabu. Menurut CENTCOM, kapal itu melanggar blokade Angkatan Laut Amerika.

Pelanggaran blokade yang tetap berlaku meskipun keputusan mendadak Trump sehari sebelumnya untuk menghentikan sementara Project Fredom atau Proyek Kebebasan — sebuah operasi militer untuk mengawal kapal-kapal melalui Selat Hormuz.

CENTCOM mengatakan pasukan AS mengeluarkan beberapa peringatan sebelum jet tempur F/A-18 Super Hornet yang diluncurkan dari kapal induk USS Abraham Lincoln menembakkan beberapa peluru meriam 20mm ke kemudi kapal tersebut, mencegahnya melanjutkan perjalanan menuju Iran.

Trump sebelumnya mengeluarkan ultimatum baru kepada Teheran, memeringatkan, Operasi Epic Fury “yang sudah melegenda” hanya akan berakhir jika Iran menerima persyaratan yang menurutnya telah disepakati. Demikian dilansir Sindonews.com dari Axios dan Truth Social pada 7/5/2026.

“Jika mereka tidak setuju, pengeboman akan dimulai, dan sayangnya, akan jauh lebih tinggi dan lebih intensif daripada sebelumnya,” tulisnya pada unggahan di akun media sosial milik Donald Trump sendiri, Truth Social yang aktif di Amerika.

Trump tetap optimistis, mengatakan kepada PBS pada hari Rabu, ada “peluang yang sangat bagus” perang dapat berakhir sebelum perjalanannya yang direncanakan ke China. Namun, dia menegaskan kembali bahwa “Jika tidak, AS akan kembali membombardir mereka habis-habisan.”

Washington dan Teheran dilaporkan hampir mencapai kesepakatan satu halaman berisi 14 poin yang akan mengakhiri perang dan membuka periode 30 hari untuk negosiasi yang lebih rinci, menurut sumber AS yang dikutip Axios, Kamis (7/5/2026).

Kerangka kerja yang diusulkan dilaporkan akan mencakup moratorium Iran terhadap pengayaan uranium, peningkatan inspeksi, pencabutan sanksi AS secara bertahap, pelepasan dana Iran yang dibekukan dan pelonggaran pembatasan pengiriman secara bertahap.

Sumber di Pakistan yang dikutip Russia Today mengatakan kemajuan dalam proses perdamaian tetap “agak lambat”, dengan beberapa masalah yang belum terselesaikan masih dalam pembahasan. Teheran belum secara resmi menanggapi proposal AS.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan teks tersebut masih dalam peninjauan, dan memeringatkan bahwa negosiasi membutuhkan “itikad baik” dan tidak boleh berujung pada “dikte”, “penipuan”, “pemerasan” atau “pemaksaan”.

Para pejabat militer Iran juga menunjukkan sikap menantang sebelum laporan tentang insiden serangan terhadap kapal tanker muncul. Juru bicara Angkatan Bersenjata Iran Brigadir Jenderal Abolfazl Shekarchi telah memeringatkan.

Kata Jenderal Abolfazi Shekarchi mengancam, jika Washington menggunakan pembicaraan sebagai kedok untuk agresi lebih lanjut, pemerintah Iran akan merespons dengan tegas dan memberikan “kekalahan yang memalukan”. (net/snc/axs/rt/ts/kim/smr)

Pos terkait