Pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) menipis, China desak Republik Iran untuk membuka Selat Hormuz. Menteri Luar (Menlu) China, Wang Yi menelepon Menlu Iran Abbas Araghchi pada hari Rabu 15 April 2025 lalu, meminta memulihkan lalu lintas perdagangan di Selat Hormuz.
Semarak.co – China mendesak Republik Islam Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz usai mengalami penurunan pasokan minyak mentah.
Menteri Luar Negeri China Wang Yi menelepon Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Rabu (15/4).
Dalam percakapan di telepon tersebut, Menlu China meminta Menlu Iran untuk segera memulihkan lalu lintas perdagangan di Selat Hormuz. “Kedaulatan, keamanan, serta hak dan kepentingan sah Iran sebagai negara pesisir Selat Hormuz harus dihormati dan dijunjung tinggi,” kata Wang.
Seperti dilansir CnnIndonesia.com dan dikutip Middle East Monitor (17/4/2026), Kemenlu China menyebut, “(Namun) kebebasan dan keamanan navigasi di selat internasional ini harus dipastikan. Memulihkan lalu lintas normal di selat ini merupakan seruan bersama dari komunitas internasional,” kata Wang.
Percakapan telepon Wang dan Araghchi dilakukan saat Iran dan Amerika Serikat (AS) menjalankan gencatan senjata dua pekan sejak tanggal 8 April 2026. Saat awal gencatan senjata, Iran setuju membuka Selat Hormuz, namun kemudian membatalkannya.
Karena Israel masih terus menyerang milisi Hizbullah di Lebanon. Sejak diserang AS-Israel, Iran secara efektif menutup Selat Hormuz. Penutupan itu telah mengakibatkan banyak negara mengalami krisis energi, lantaran Selat Hormuz bertanggung jawab atas 20% pasokan minyak dan gas dunia.
China merupakan salah satu negara yang ikut diterjang krisis energi. Data bea cukai menunjukkan impor China pada bulan Maret turun 2,8%. Analis di JLC Network Technology, Han Zhengji, mengatakan kepada South China Morning Post (SCMP).
Meskipun China sudah berupaya mengisi kekosongan stok (BBM) dengan pengiriman dari Afrika dan Amerika Selatan, volume keseluruhan telah berkurang karena dampak konflik terhadap logistik yang sangat signifikan.
“Situasi di Timur Tengah dapat memerketat pasokan minyak mentah China pada bulan April, meskipun dampaknya akan diredam oleh upaya berkelanjutan Beijing untuk mendiversifikasi sumber impornya,” kata Han.
Dalam perbincangan telepon dengan Araghchi, Wang Yi menekankan, Beijing mendukung upaya memertahankan gencatan senjata dan perundingan damai, yang menurutnya sejalan dengan kepentingan dasar rakyat Iran serta mencerminkan harapan bersama negara-negara di kawasan dan dunia.
Menteri Luar Negeri China Wang Yi pun menyatakan kesiapan negaranya (pemerintah China) untuk terus mendorong upaya damai (gencatan senjata) dan mempromosikan peningkatan hubungan antar negara di kawasan (Selat Hormuz) tersebut. (net/cic/afp/scmp/kim/smr)





