Sekretaris Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Agung Danarto menyebutkan aset tanah yang dimiliki organisasi masyaraat (ormas) Islam itu mencapai tidak kurang dari 21 juta meter persegi.
semarak.co-Hal itu mengemuka dalam webinar Refleksi Akhir Tahun Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Malaysia PCIM Taiwan mengenai Nilai Strategis Big Data bagi Persyarikatan Muhammadiyah diikuti dari Kualalumpur, Malaysia Minggu (27/12/2020).
Diskusi menampilkan Agung Danarto dan Drs. M Agus Samsudin, MM (Ketua MPKU PP Muhammadiyah) sebagai pemantik. Sedangkan sebagai pembicara Sukadiono (Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya), Sonny Zulhuda (Ketua PCIM Malaysia dan Dosen IIU Malaysia).
Pembicara selanjutnya, Reza Ismail (Founder/CTO LedgerX International – Chulia Group) dan Andi Azhar (Ketua PCIM Taiwan, Kandidat Doktor di Asia University Taiwan) sedangkan moderator Ahmad Shidqi (MPIH PCIM Malaysia).
“Saya percaya tidak kurang dari jumlah tersebut. Suatu jumlah yang banyak. Ada yang sudah dimanfaatkan dan 50 persen belum dimanfaatkan. Dulu saya mengira tanah wakaf yang belum dimanfaatkan ukurannya kecil-kecil, ternyata setelah saya di PP tidak semuanya kecil, yang hektaran juga tidak sedikit, 9.000 meter di daerah cukup strategis,” kata Danarto.
Pada kesempatan tersebut Danarto menjelaskan Muhammadiyah sudah mendirikan Pusat Syiar Digital Muhammadiyah, website jejaring Muhammadiyah dan analisis media sosial. “Program ini sudah jalan tetapi untuk big data Walaupun sudah dicanangkan dan penanggung jawab ada sampai saat ini big data belum jalan,” terang dia.
Barangkali kalau di Muhammadiyah, lanjut Danarto, kalau tidak langsung dimanfaatkan data yang sifatnya murni terkadang semangat mencarinya susah sehingga perlu dipaksa bahwa big data sangat penting.
Dia mengatakan Muhammadiyah sebenarnya merupakan asosiasi puluhan ribu LSM yang semua bergerak secara semi otonom. “Secara struktural Muhammadiyah saat ini memiliki 13.693 Pimpinan Ranting, 4.850 Pimpinan Cabang, dan 461 Pimpinan Daerah,” paparnya.
Dalam struktur tersebut ada Organisasi Otonom (Ortom), kata dia, belum lagi ada Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang tersebar di berbagai daerah hingga pelosok. Dia mengatakan masing-masing entitas berjalan secara otonom, inisiatif sendiri dan membiayai sendiri sehingga big data penting.
“Ini sesuatu yang besar tetapi belum optimal. Dari entitas besar ini hanya masing-masing lidi untuk membersihkan halaman, walaupun lidi banyak tetapi tidak efektif bersihkan halaman. Yang dibutuhkan bagaimana lidi banyak dijadikan ikatan yang kemudian dipakai menyapu halaman. Ini perlu dukungan big data,” katanya. (net/smr)





