Sidang Senat Amerika Serikat yang bulat mengambil keputusan soal Muslim Uighur. Foto: indopos.co.id

Senat Amerika Serikat (AS) menyetujui rancangan undang-undang (RUU) yang meminta pemerintah Presiden Donald Trump memperkuat responsnya atas penindasan China terhadap kelompok minoritas Muslim Uighur di China.

semarak.co -Langkah tersebut merupakan tekanan terbaru di Washington untuk menghukum China saat Trump menuding Beijing memperburuk pandemi wabah virus corona jenis baru penyebab Covid-19. Senat, yang dipimpin Fraksi Republik mengesahkan RUU dengan suara bulat.

RUU yang disetujui Senat itu kemudian disampaikan kepada DPR yang dimotori Fraksi Demokrat, yang harus menyetujui RUU tersebut sebelum diajukan ke Gedung Putih agar ditandatangani menjadi undang-undang (UU) oleh Trump atau diveto sang presiden.

DPR sangat menyetujui UU yang mereka sendiri keluarkan tahun lalu untuk menanggapi perlakuan terhadap Muslim Uighur. UU itu berisi seruan agar sanksi dijatuhkan terhadap para pejabat tinggi China yang bertanggung jawab atas penindasan terhadap Muslim di Provinsi Xinjiag. Undang-undang itu membuat China berang.

AS memperkirakan lebih dari satu juta Muslim Uighur ditahan di kamp Xinjiang dalam beberapa tahun belakangan. China membantah perlakuan buruk terhadap Uighur dan mengklaim kamp tersebut memberikan pelatihan kejuruan.

Tekanan agar AS bersikap lebih keras mengenai Uighur muncul saat hubungan antara pemerintah Trump dan Beijing semakin buruk terkait pandemi global COVID-19. Washington menyalahkan China atas banyaknya dampak buruk krisis kesehatan lantaran dianggap kurang terbuka pada masa awal wabah corona.

Kalangan Muslim di AS, terutama dari generasi muda merindukan kegiatan yang dilakukan bersama komunitas pada bulan suci Ramadan di tengah pandemi Covid-19 saat aktivitas dengan jumlah orang banyak dilarang.

Dalam acara Ramadan Talk Kedutaan Besar Amerika yang digelar secara daring pada Jumat (15/5/2020), salah satu remaja Muslim bernama Yuhaniz Ally dari Kota Seattle, Negara Bagian Washington, mengaku hilangnya kegiatan komunitas, seperti shalat berjamaah di masjid setempat, menjadi salah satu tantangan baginya dalam menjalani ibadah puasa di tengah pandemi Covid-19.

“Suasana bulan Ramadhan ini menjadi agak sedih, begitu pula mendekati akhir dan pada saat hari raya Idul Fitri nanti, karena kami kemungkinan tak dapat berkumpul bersama-sama,” kata Yuhaniz yang merupakan salah seorang alumnus program beasiswa belajar Bahasa Indonesia itu.

Pernyataan serupa disampaikan mahasiswa Muslim asal Kota Dallas, Negara Bagian Texas, Muhammad Muhanna. Ia merasa kehilangan suasana kebersamaan komunitas di area tempat ia tinggal pada Ramadhan ini.

Suasana Ramadhan kali ini, katanya, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya saat anggota komunitasnya kerap berkegiatan bersama, seperti menjalani shalat berjamaah atau berbuka puasa bersama.

Selain kegiatan beribadah, Muhammad mengatakan dia juga sering berkumpul dengan teman-teman sesama Muslim usai menjalankan shalat tarawih berjamaah. “Kadang kami pergi ke kedai es krim atau berolahraga bersama hingga larut malam,” ujarnya.

Meski merindukan kegiatan bersama komunitas yang biasa dilakukan pada bulan Ramadhan pada ahun-tahun sebelumnya, baik Yuhaniz maupun Muhammad meyakini bahwa pada masa pandemi ini langkah terbaik yang harus dilakukan adalah mengikuti protokol kesehatan dari pemerintah setempat.

Terutama bagi Muhammad yang bekerja di rumah sakit, ketaatan itu diperlukan tak hanya untuk melindungi diri dan keluarga masing-masing, namun juga untuk melindungi mereka yang berada dalam kelompok rentan dari kemungkinan tertular, seperti masyarakat lanjut usia.

Di tengah keterbatasan untuk berkumpul dan mematuhi protokol kesehatan, kerinduan keduanya akan kegiatan di komunitas sedikit terobati dengan sejumlah aktivitas yang dilakukan secara daring, termasuk ceramah Ramadhan yang dilakukan oleh para imam dari masjid maupun dari rumah masing-masing.

“Untuk masjid saya itu livejuga shalat Jumat. Kami bisa lihat dan bershalat sendiri di rumah,” kata Muhammad yang merupakan mahasiswa Universitas Texas di Dallas.

Komunitas umat Muslim di Seattle dan Dallas juga menjalankan program pengumpulan dana untuk memberikan donasi dan makanan bagi mereka yang membutuhkan pada masa pandemi ini, juga bagi para pekerja medis yang berada di garda terdepan melawan COVID-19, sebagai bentuk dukungan dari komunitas Muslim di masing-masing kota. (net/lin)

2 KOMENTAR

  1. Maju terus Bang Heryanto, semoga SEMARAK.CO semakin menyemarakkan dunia medsos di tanah air. Khususnya di ibu Kota..
    Bravo…bang Heryanto…!!

LEAVE A REPLY