Negara Paman Sam Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan operasi militer ke wilayah kedaulatan negara Persia, Republik Islam Iran pada hari Selasa (21/7/2026), memicu serangkaian ledakan di sejumlah kota strategis, termasuk Bandar Abbas, Shiraz, Chabahar, dan Bushehr.
Semarak.co – Gelombang serangan terbaru dari pasukan militer negeri Paman Sam ini semakin memerburuk ketegangan antara Washington dan Teheran serta memicu kekhawatiran dunia terhadap potensi meluasnya konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.
Laporan dari media pemerintah Iran, IRIB, menyebut ledakan pertama terdengar di Bandar Abbas, ibu kota Provinsi Hormozgan yang berada di pesisir selatan Iran. Kota pelabuhan ini memiliki posisi yang sangat strategis karena berada di dekat Selat Hormuz, jalur utama perdagangan minyak dunia.
Tak cuma Bandar Abbas. Kantor berita semi-resmi Fars juga melaporkan ledakan guncang Pulau Qeshm dan wilayah perairan sekitarnya. Bahkan suara ledakan ada di Kota Sirik yang masih berada di Provinsi Hormozgan, menandakan serangan menjangkau lebih dari satu titik di wilayah selatan Iran.
Di bagian lain negara itu, kantor berita resmi IRNA melaporkan, sebuah ledakan terjadi di Kota Shiraz, Provinsi Fars. Dalam laporan yang sama disebutkan sedikitnya 14 ledakan terdengar beberapa jam sebelumnya di Kota Chabahar dan Konarak yang berada di Provinsi Sistan dan Baluchestan.
Sementara itu, kantor berita Mehr melaporkan sistem pertahanan udara Iran diaktifkan di sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr. Aktivasi sistem pertahanan menunjukkan aparat keamanan Iran bersiaga menghadapi kemungkinan serangan lanjutan terhadap berbagai fasilitas penting negara.
Mehr juga melaporkan dua ledakan terjadi di Kota Isfahan. Namun, seperti dilansir MetroTvNews.Com dari Fars News Agency, IRNA dan Mehr News Agency pada hari Selasa, 21 Juli 2026, laporan itu langsung dibantah oleh Wakil Gubernur (Wagub) Provinsi Isfahan Bidang Keamanan dan Penegakan Hukum.
Wagub menegaskan bahwa tidak ada serangan maupun ledakan di wilayahnya. Perbedaan informasi ini menunjukkan situasi di lapangan masih berkembang dan belum seluruhnya dapat diverifikasi dengan jelas dan detail.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi korban jiwa maupun besarnya kerusakan akibat rangkaian serangan. Otoritas Iran juga belum mengumumkan apakah terdapat fasilitas militer atau infrastruktur penting yang mengalami kerusakan akibat ledakan di sejumlah wilayah.
Komando Pusat Militer AS (CENTCOM), mengonfirmasi telah melaksanakan gelombang opmil baru atas arahan panglima tertinggi. Menurut pernyataan, operasi itu merupakan bagian dari upaya untuk mengurangi kemampuan militer Iran yang dinilai mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia. Setiap gangguan keamanan di kawasan ini berpotensi memengaruhi distribusi minyak global, sehingga perkembangan konflik antara AS dan Iran terus menjadi perhatian masyarakat internasional.
Gelombang serangan ini menambah panjang daftar konfrontasi militer Washington dan Teheran beberapa pekan terakhir. Meski belum ada laporan korban maupun respons balasan dari Iran terkait serangan terbaru, situasi keamanan kawasan diperkirakan sangat dinamis dan berpotensi berkembang ke depan. (net/mtnc/irb/fna/irn/mna/cntm/kim/smr)





