Rakyat Suriah Dukung Kuat Asy Syaraa, Setahun Setelah Jatuhnya Assad

Saat warga Suriah pekan ini memeringati satu tahun jatuhnya Bashar Al Assad, sebuah survei yang dilakukan di dalam negeri menemukan dukungan yang sangat besar untuk presiden baru dan menempatkan Arab Saudi sebagai mitra internasional yang paling populer.

Semarak.co – Mantan Presiden Suriah, Bashar Al Assad diketahui telah melarikan diri dari negara itu pada 8 Desember 2024, setelah serangan kilat oleh pasukan oposisi yang mencapai Damaskus, mengakhiri 14 tahun perang.

Kampanye tersebut dipimpin oleh Ahmad Asy Syaraa, yang sekarang menjabat sebagai presiden negara itu dan telah terus berupaya menstabilkan negeri Syam Suriah dan membangun kembali hubungan negara Timur Tengah itu dengan mitra internasional.

Upaya-upaya tersebut diakui dalam survei yang baru-baru ini diterbitkan yang menemukan bahwa 81 persen dari mereka yang ditanya yakin pada presiden dan 71 persen pada pemerintah nasional, seperti dilansir arrahmah.id dari arab news dan majalah foreign policy pada 12/12/2025.

Ada juga dukungan kuat untuk lembaga-lembaga kunci, dengan lebih dari 70% mendukung militer dan koresponden lainnya 62% mendukung pengadilan dan sistem hukum yang berlaku bagi konstitusi dan penegakan hukum Suriah.

Survei tersebut dilakukan selama Oktober dan November oleh Arab Barometer, sebuah jaringan penelitian nirlaba yang berbasis di AS. Survei tersebut menanyakan lebih dari 1.200 orang dewasa dipilih langsung secara acak di seluruh negeri, tentang pendapat mereka soal berbagai isu, termasuk kinerja pemerintah, ekonomi, dan keamanan.

Dukungan kuat yang ditunjukkan untuk Presiden Suriah Asy Syarat, berada pada tingkat yang akan membuat iri sebagian besar pemerintah Barat dan muncul ketika Suriah menghadapi banyak tantangan berat yang dihadapi.

Biaya pembangunan kembali negara itu diperkirakan lebih dari 200 miliar dolar AS oleh Bank Dunia, ekonomi telah hancur dan negara tersebut telah menghadapi wabah kekerasan sektarian yang membuat situasi mencekam.

Asy Syaraa telah berupaya mengakhiri isolasi internasional negara Suriah, membangun dukungan dari negara-negara di kawasan tersebut dan berhasil melobi Amerika Serikat untuk mencabut sanksi yang diberlakukan.

Pendukung utama adalah Arab Saudi, yang telah menawarkan dukungan politik dan ekonomi. Survei tersebut menempatkan Kerajaan sebagai negara asing paling populer dengan 90% memandang Arab Saudi secara positif.

Qatar juga populer, dengan lebih dari 80% memandang emirat itu secara positif dan 73% mengagumi Turki. Sebagian besar responden (66%)  juga memandang AS secara positif, sebuah apresiasi terhadap keputusan Presiden Trump untuk melonggarkan sanksi dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari warga Suriah.

Setelah bertemu Presiden Asy Syaraa di Washington bulan lalu, Trump mengumumkan penangguhan sebagian sanksi setelah sebelumnya melonggarkan banyak bagian dari rezim sanksi terhadap negara tersebut.

Survei menemukan 61% memiliki pandangan positif terhadap Trump, angka yang lebih tinggi daripada di sebagian besar Timur Tengah. Namun, antusiasme terhadap upaya Washington agar Suriah menormalisasi hubungan dengan Israel jauh lebih rendah.

Hanya 14% yang mendukung langkah tersebut dan hanya 4% yang memiliki opini positif terhadap Israel. Selama kekacauan akibat jatuhnya Assad, militer Israel menduduki mayoritas wilayah selatan Suriah dan secara teratur melancarkan serangan terhadap negara tersebut dalam setahun terakhir.

Lebih dari 90% warga Suriah mengatakan bahwa mereka memandang pendudukan Israel atas wilayah Palestina dan serangan terhadap Iran, Lebanon, dan Suriah sebagai ancaman kritis terhadap keamanan mereka.

Dalam artikel yang diterbitkan bersama di majalah Foreign Policy, Salma Al-Shami dan Michael Robbins dari Arab Barometer mengatakan hasil survei tersebut memberikan alasan untuk optimis tentang masa depan Suriah.

“Kami menemukan bahwa rakyat negara itu penuh harapan, mendukung demokrasi, dan terbuka terhadap bantuan asing,” kata mereka. “Mereka menyetujui dan mempercayai pemerintah mereka saat ini.”

Namun, para penulis juga mengatakan hasil itu memberikan beberapa alasan untuk khawatir, terutama mengenai keadaan ekonomi dan keamanan internal. Dukungan terhadap pemerintah juga menurun tajam di wilayah yang mayoritas dihuni  kelompok etnis-agama Alawiyah.

Dinasti Assad yang memerintah Suriah selama lebih dari 50 tahun termasuk dalam minoritas Alawiyah dan anggota kelompok itu memegang banyak posisi kekuasaan selama pemerintahan Suriah tersebut berlangsung.

Survei menunjukkan bahwa warga Suriah memandang ekonomi sebagai masalah utama, dengan hanya 17 persen yang puas dengan kinerjanya dan banyak yang khawatir tentang inflasi, lapangan kerja, dan kemiskinan.

Sekitar 86% mengatakan bahwa pendapatan mereka tidaklah mencukupi pengeluaran mereka dan 65% mengatakan bahwa mereka sangat kesulitan dalam membeli bahan makanan pada bulan-bulan sebelumnya.

Ada juga kekhawatiran tentang keamanan, dengan 74% mendukung upaya pemerintah untuk mengumpulkan senjata dari kelompok bersenjata dan 63% memandang penculikan sebagai ancaman kritis.

Menandai peringatan jatuhnya presiden Bashar Al Assad pada Senin silam, Asy Syaraa mengatakan bahwa pemerintah sedang berupaya membangun Suriah yang kuat, memerkuat stabilitas negara, dan menjaga kedaulatannya. (net/aid/an/fp/kim/smr)

Pos terkait