Pertumbuhan Ekonomi Jadi Ancaman Baru Eropa, Menyusul Gelombang Panas yang Menyiksa

Gelombang panas ekstrem yang tengah menerjang, menjadi ancaman baru bagi pertumbuhan ekonomi Eropa. Bahkan, kini, mulai membebani aktivitas ekonomi di berbagai negara, terutama Jerman sebagai ekonomi terbesar di kawasan tersebut.

Semarak.co – Para ekonom dan organisasi internasional memeringatkan gelombang panas yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim kini tidak lagi dipandang sebagai peristiwa sementara, melainkan risiko makroekonomi struktural yang dapat mengancam investasi dan produksi.

Suhu pada bulan Juni 2026 yang memecahkan rekor di sejumlah negara Eropa membuat Prancis, Inggris, Swiss dan Jerman mengalami bulan Juni terpanas dalam beberapa tahun terakhir. Gelombang panas di Prancis bahkan mengingatkan lagi peristiwa musim panas 2003 yang menyebabkan sekitar 70 ribu kematian.

Dilansir Voi.id dari Antara dari Anadolu, pada Selasa, 30 Juni 2026, rumah sakit di beberapa negara Eropa melaporkan kondisi kritis akibat gangguan pada sistem pendingin dan infrastruktur teknologi informasi, sementara Prancis terpaksa menghentikan sementara operasi dua reaktor nuklirnya.

Kepala Riset Makro dan Kepala Ekonom Jerman di ING, Carsten Brzeski, Senin (29/6/2026), menulis gelombang panas yang memecahkan rekor di Eropa telah berubah dari sekadar peristiwa cuaca menjadi variabel makroekonomi yang mengguncang perekonomian kawasan, mengingatkan pada dampak pembatasan aktivitas saat pandemi COVID-19.

Menurut Brzeski, jalan-jalan yang sepi, sekolah yang ditutup, gangguan layanan kereta api dan penghentian reaktor nuklir di negara Prancis akibat kekurangan air pendingin meninggalkan dampak jangka panjang terhadap kesehatan masyarakat maupun ekonomi Eropa.

“Ternyata termometer telah menjadi indikator utama pertumbuhan ekonomi. Gelombang panas menghadirkan risiko penurunan baru bagi pertumbuhan Eropa,” katanya. Risiko terkait panas, imbuhnya, selama ini dianggap sebagai masalah Eropa Selatan.

Tetapi data terbaru, lanjut Brzeski, menunjukkan bahwa Jerman berpotensi menempati peringkat ketiga di Eropa dalam kerugian ekonomi kumulatif akibat udara panas hingga 2030. “Bukan karena musim panas Jerman akan setara dengan Sevilla,” katanya.

“Tetapi karena infrastruktur, perumahan, serta sektor padat karya seperti konstruksi dan logistik dibangun untuk iklim yang lebih sejuk dan belum mampu beradaptasi,” ujar Brzeski mengutip laporan Climate Analytics.

Laporan Climate Analytics Januari 2026 yang disusun atas permintaan Bank Dunia dan menyebut Jerman masih kekurangan langkah komprehensif untuk menghadapi tekanan panas, sementara perencanaan adaptasi tertinggal dari perkembangan ilmu pengetahuan.

Ia juga menambahkan survei bisnis Komisi Eropa semakin sering menunjukkan cuaca sebagai faktor yang membatasi produksi. Dalam beberapa musim panas terakhir, Spanyol dan Jerman tercatat mengalami gangguan paling besar akibat gelombang panas.

Meski harga energi lebih rendah dapat sedikit membantu rumah tangga dan pelaku usaha, ia menilai panas ekstrem tetap jadi hambatan besar bagi pertumbuhan ekonomi karena ancaman gangguan pasokan, penurunan permukaan air, kerusakan infrastruktur transportasi, serta penurunan produktivitas tenaga kerja.

Ia mengutip studi 2021 yang memerkirakan tahun dengan gelombang panas terburuk di Eropa, 2003, 2010, 2015 dan 2018, menyebabkan kehilangan output ekonomi sebesar 0,3-0,5% PDB hanya akibat turunnya produktivitas tenaga kerja, bahkan melebihi 1% di wilayah paling terdampak.

“Jika ditambah biaya pendinginan, kenaikan biaya kesehatan, perbaikan infrastruktur darurat, serta dampak terhadap transportasi, jalur air dan pertanian, maka dampak negatif terhadap ekonomi menjadi jauh lebih besar,” kata Brzeski.

Inflasi pangan berlipat ganda

Para ekonom memerkirakan dampak inflasi terbesar dari panas ekstrem terasa di sektor pertanian dan harga pangan karena kekeringan menurunkan hasil panen. Sebelumnya, Bank Sentral Eropa (ECB) memerkirakan gelombang panas dan kekeringan mendorong inflasi pangan sekitar 0,4-0,9 poin persentase, dan dampaknya berpotensi berlipat ganda dalam 30 tahun.

Brzeski menyebut panas ekstrem kini menjadi risiko ekonomi struktural bagi Eropa. Ia mengutip analisis Allianz Trade yang memerkirakan Jerman menghadapi risiko kehilangan PDB kumulatif sebesar 131 miliar dolar AS (sekitar Rp 2,34 kuadriliun) pada periode 2026-2030.

Suhu di atas 30 derajat Celsius diperkirakan dapat menyebabkan kerugian ekonomi hingga 240 miliar dolar AS (sekitar Rp 4,28 kuadriliun) di Prancis, 147 miliar dolar AS (sekitar Rp 2,62 kuadriliun) di Italia dan 120 miliar dolar AS (sekitar Rp2,14 kuadriliun) di Spanyol.

Semua akibat penurunan produktivitas dan kenaikan biaya energi. Namun Jerman diperkirakan akan menanggung beban yang sangat besar. Data resmi menunjukkan gelombang panas yang sebelumnya dianggap sebagai biaya sementara dan dapat dipulihkan.

Kini menimbulkan kerusakan jangka panjang ekonomi Eropa karena panas ekstrem secara langsung menekan output PDB dan memicu tekanan inflasi melalui gangguan rantai pasok. “Makalah bersama Universitas Mannheim dan ECB tahun lalu juga menghitung kerusakan ekonomi.”

“Akibat gelombang panas, kekeringan, dan banjir musim panas 2025. Menurut kajian itu, ekonomi Eropa kehilangan sekitar 0,3% output dan kerugian kumulatifnya bisa mencapai 0,8% pada 2029 akibat hilangnya produktivitas, gangguan rantai pasok, dan penurunan pendapatan pariwisata,” ujar Brzeski .

Ia menambahkan, laporan Bank Dunia menyerukan langkah-langkah mendesak untuk mengatasi risiko penurunan produktivitas pekerja dan kerusakan infrastruktur, termasuk pemberian insentif pajak guna mendorong investasi sektor swasta dalam sistem isolasi bangunan, peneduh dan pendingin udara.

Menurut Brzeski, adaptasi terhadap panas ekstrem kini bukan lagi sekadar kebijakan lingkungan, melainkan kebutuhan ekonomi untuk menjaga produktivitas dan daya saing Eropa, kini, dan masa yang akan datang. Bencana tiada yang tahu.(net/vid/ant/and/kim/smr)

Pos terkait