Pasar global kembali bergerak hati-hati pada Senin, 7 September 2026, ketika investor menimbang risiko inflasi akibat kenaikan harga minyak dan meningkatnya ketegangan Amerika Serikat (AS) dengan Iran dalam perdagangan dunia hari-hari ini.
Semarak.co – Harga minyak Brent naik 0,2% menjadi 96,45 dolar AS per barel, sementara minyak AS naik 0,4% menjadi 91,85 dolar AS, menambah kekhawatiran inflasi global dalam perdagangan pagi. Demikian dilansir Kantor Berita Inggris, Reuters pada 7 September 2026.
Kenaikan energi tersebut terjadi setelah ketegangan negara Paman Sam dengan Republik Iran meningkat, termasuk serangan terhadap aset-aset angkatan laut di kawasan Teluk yang kembali mengguncang pasar internasional dan investor pada pekan ini.
Reuters melaporkan investor juga mencermati kebijakan bank sentral, karena tekanan harga energi berpotensi memertahankan inflasi tinggi dan membuat pemangkasan suku bunga berlangsung lebih lambat dari perkiraan oleh pasar secara keseluruhan.
Di AS, pasar memerkirakan peluang Federal Reserve menaikkan suku bunga bulan September 2026 sekitar 57%. Data inflasi mendatang menjadi faktor penting menentukan keputusan kebijakan moneter berikutnya bagi investor saat ini.
Dolar AS justru belum menguat signifikan meskipun ekspektasi kenaikan suku bunga meningkat. Investor masih memerhitungkan ketidakpastian inflasi, konflik geopolitik serta kekhawatiran terhadap kondisi utang Amerika lebih lanjut bagi investor.
Di Eropa, pasar memerkirakan Bank Sentral Eropa menaikkan suku bunga menjadi 2,75% pekan ini. Kenaikan berikutnya juga diperkirakan mungkin terjadi apabila tekanan inflasi berlanjut sepanjang tahun mendatang bagi pasar.
Sementara itu, bursa Asia bergerak menguat. Nikkei Jepang naik sekitar 2% dan Kospi Korea Selatan 3%, kendati para investor tetap mewaspadai risiko energi global sepanjang pekan internasional Asia lainnya.
Pergerakan pasar menunjukkan konflik geopolitik kini semakin berpengaruh terhadap ekonomi dunia. Jika harga minyak terus meningkat, biaya transportasi, produksi dan kebutuhan masyarakat berpotensi ikut mengalami kenaikan di berbagai negara kian meluas.
Investor selanjutnya menunggu data inflasi AS yang akan memberikan petunjuk baru mengenai arah kebijakan Federal Reserve. Hasil tersebut berpotensi memengaruhi dolar, obligasi, saham dan komoditas global mendatang secara internasional. (net/rts/kim/smr)





