MUI: Wukuf di Arafah Adalah Panggung Besar untuk Kontemplasi dan Muhasabah

Ketua MUI Bidang Fatwa Asrorun Niam.

Inti dari seluruh rangkaian ibadah haji adalah pelaksanaan wukuf di Padang Arafah. Secara hukum fikih, setiap jamaah diwajibkan untuk hadir secara fisik di hamparan padang pasir tersebut pada waktu yang telah ditentukan.

Semarak.co – Musyrif Diny, Asrorun Niam Sholeh menyatakan, tanpa kehadiran fisik di tempat dan waktu yang sakral ini, ibadah haji seorangĀ  akan tidak absah. Keutamaan Arafah muncul karena adanya perpaduan mutlak antara dua dimensi, yakni ruang dan waktu.

Bacaan Lainnya

“Yang pertama adalah tempat yang sudah ditentukan, tidak boleh kita keluar dari tempat yang ditentukan. Yang kedua adalah soal waktu. Keutamaan dua hal ini. Kalau kita berada di Arafah di luar waktu itu, ya seperti tanah biasa saja,” ujar Niam, dirilis humas MUI melalui link resmi mui.go.id dilansir WAGroup Jurnalis Kemenag, Selasa (26/5/2026).

Ketua MUI Bidang Fatwa ini menjelaskan bahwa Arafah adalah panggung besar untuk kontemplasi dan muhasabah (introspeksi diri).Ā  Niam menambahkan, secara spiritual, suasana wukuf merupakan miniatur atau simbolisasi dari Padang Mahsyar di hari kiamat kelak.

Hal ini menjadi sebuah momen, di mana seluruh manusia yang telah wafat akan dibangkitkan kembali dalam situasi dan kondisi yang sepenuhnya setara. Di Arafah, segala atribut duniawi dilepaskan. Jutaan jamaah bergerak dan berkumpul dengan mengenakan pakaian yang sama, dua helai kain putih tanpa jahitan bagi laki-laki.

“Tidak memiliki apa-apa kecuali badan dan pakaian yang melekat di badan dengan setara. Warna putih dua helai tanpa jahit itu sebagai simbol bahwa kita setara. Tidak ada kemuliaan karena jabatan, tidak ada kehebatan karena kekayaan,” kata Guru Besar Ilmu Fikih UIN Jakarta.

Ia menambahkan, kesuksesan dan kebahagiaan manusia di hadapan Allah SWT hanya diukur dari kualitas ketakwaan dan optimalisasi amal saleh masing-masing individu selama hidup di dunia.

“Bukan karena kebaikan orang lain, bukan karena martabat orang tua, dan juga bukan karena jabatan yang kita pikul. Yang ada adalah ketakwaan,” tegasnya.

Pengasuh Pondok Pesantren An-Nahdlah ini berharap pengalaman spiritual di Padang Arafah tidak menguap begitu saja setelah jamaah meninggalkan Tanah Suci. Prof Niam menegaskan bahwa momentum kontemplasi ini harus melahirkan kesadaran baru untuk terus membangun dan menjaga semangat kesetaraan antar-sesama manusia. (hms/smr)

Pos terkait