Mereka Kuat dan Punya Harga Diri Tinggi: Kata Trump Blak-Blakan Soal Iran

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengakui bahwa para pemimpin Iran memiliki harga diri yang sangat tinggi dan tetap kuat. Hal tersebut disampaikan presiden dari Partai Republik AS dalam program Meet the Press di NBC News yang dirilis pada hari Jumat (5/6/2026).

Semarak.co – Saat ditanya mengapa para pemimpin Republik Islam Iran belum juga bersedia menyepakati perjanjian damai meskipun berada dalam posisi sulit, Donald Trump menyatakan bahwa proses tersebut membutuhkan waktu.

Bacaan Lainnya

“Karena mereka kuat. Mereka bangga. Ada hal-hal yang tidak pernah mereka duga akan mereka lakukan, yang kini harus mereka lakukan. Mereka tidak punya pilihan dan itu membutuhkan sedikit waktu,” ujar Trump, sebagaimana dilansir Kompas.com dari Reuters (6/6/2026).

Presiden Trump menambahkan, meskipun sebagian besar fasilitas manufaktur drone dan rudal Iran telah hancur akibat serangan, Teheran diperkirakan masih memiliki sekitar seperlima dari total pasokan rudal mereka.

“Mereka memiliki beberapa rudal, mereka memiliki beberapa drone. Saya akan mengatakan dari segi persentase, mungkin 21% hingga 22% dari rudal mereka,” tutur Trump. “Itu jumlah rudal yang banyak, tetapi tidak seperti saat kali pertama kita menyerang.”

Pernyataan tersebut mengemuka di tengah eskalasi terbaru yang terjadi pada hari Sabtu (6/6/2026) kemarin. Pasukan militer AS dilaporkan melancarkan serangan terhadap situs radar pantai milik militer Republik Iran.

Langkah tersebut diambil setelah militer negara Paman Sam tersebut menembak jatuh empat drone yang diluncurkan oleh militer Iran menuju Selat Hormuz, yang diyakini militer AS tengah menargetkan lalu lintas maritim regional.

Komando Pusat AS atau Central Command (Centcom) melalui media sosial X mengonfirmasi, serangan balasan AS menyasar situs pengawasan Iran yang berada di Goruk dan Pulau Qeshm, yang terletak di Selat Hormuz.

Insiden ini diprediksi akan semakin memersulit upaya diplomatik untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama tiga bulan. Perang tersebut pecah sejak Israel dan AS melancarkan serangan udara ke Iran pada 28 Februari 2026.

Saat ini, AS dan Iran sebenarnya tengah terlibat dalam negosiasi tidak langsung untuk mengamankan kesepakatan sementara guna menghentikan perang. Lewat kesepakatan itu, isu-isu krusial termasuk program nuklir Iran akan ditunda untuk pembahasan pada perundingan berikutnya.

Sebagai bagian dari perjanjian damai, Teheran menuntut akses kembali ke miliaran dolar pendapatan minyak mereka, dispensasi atas sanksi ekspor minyak mentah, pencabutan blokade AS di pelabuhan-pelabuhan Iran, serta kendali atas Selat Hormuz.

Sebelum perang pecah antara AS dibantu Zionis Israel pada Februari lalu, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melintasi Selat Hormuz yang sangat strategis tersebut, yang kini telah diblokade oleh pemerintah Republik Islam Iran. (net/kpc/nn/rts/x/kim/smr)

Pos terkait