Harga minyak dunia mendekati 100 dolar Amerika Serikat per barel pada Senin, 7 September 2026, setelah serangkaian serangan Amerika Serikat (AS) dan Iran terhadap kapal tanker meningkatkan kekhawatiran pasokan energi global.
Semarak.co – Kantor Berita Inggris, Reuters (7/9/2026), melaporkan Brent naik sekitar 1,5% menjadi 97,60 dolar AS per barel, level tertinggi dalam tujuh minggu, sementara West Texas Intermediate bergerak sekitar 91 dolar AS per barel dalam perdagangan Senin pagi ini.
Kenaikan tersebut terjadi setelah pasukan militer negeri Paman Sam menyerang tiga kapal tanker minyak Iran, sementara Garda Revolusi Iran membalas dengan menargetkan kapal tanker serta kapal Amerika di kawasan Teluk akhir pekan.
Situasi itu membuat pelayaran melalui Selat Hormuz semakin berisiko. Data Kpler menunjukkan rata-rata hanya sepuluh kapal komoditas melintasi selat tersebut setiap hari selama sepuluh hari terakhir, menurut data pelayaran terbaru.
Angka itu menjadi yang paling rendah sejak bulan Mei 2026. Pada Sabtu (5/9/2026), hanya dua kapal melewati jalur strategis tersebut, sementara sebagian besar kapal memilih rute yang berada di sisi Iran untuk mengurangi risiko.
Selat Hormuz sangat penting bagi pasar energi dunia karena sebelum perang dimulai, sekitar seperlima pasokan minyak global biasanya melewati jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab setiap hari.
Tekanan harga minyak berpotensi meningkatkan biaya transportasi, produksi, listrik dan kebutuhan sehari-hari. Diesel juga telah mencapai rekor harga, memerbesar risiko inflasi di berbagai negara seluruh dunia bagi konsumen global.
Reuters mengutip Goldman Sachs yang memperkirakan minyak dapat melonjak hingga 120 dolar AS per barel jika serangan terhadap pelayaran meningkat. Kondisi itu membuat pasar energi global semakin rentan terhadap guncangan geopolitik. (net/rts/kim/smr)





