Pelayat berduka dari kejauhan sementara penggali kubur menggunakan alat pelindung diri (APD) akan menguburkan jenazah terinfeksi virus corona pada bagian khusus pemakaman di pinggiran Saint Petersburg, Rusia, Selasa (5/5/2020). Foto: indopos.co.di

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin ingatkan warga untuk tidak bepergian dari tanggal 11-25 Januari 2021. Hal ini berkaitan dengan semakin banyak tenaga kesehatan yang meninggal akibat pandemic Covid-19.

semarak.co-Menkes prihatin dengan jumlah tenaga kesehatan yang wafat selama pandemic ini. Karena itu dia meminta kepada warga masyarakat untuk mengurangi mobilitas selama dua pekan mulai 11 Januari 2021. Menkes memaparkan fakta bahwa ada lebih dari 500an tenaga kesehatan yang meninggal dunia.

“Setiap liburan panjang angka meningkat. Rumah sakit penuh. Sampai saat ini, ada lebih dari 500 tenaga kesehatan yang wafat,” ujar Budi dalam konferensi pers setelah rapat kerja terbatas dengan para Gubernur yang dilangsungkan di Jakarta, Rabu (6/1/2021).

Karena itu, Menkes Budi meminta warga untuk tidak berpergian sejak 11-25 Januari mendatang. “Mari kita lindungi dan kawal. Cukup 500 yang wafat jangan tambah lagi. Jangan lupa pakai masker,” ujarnya.

Sementara Menteri Perekonomian Airlangga Hartarto pada kesempatan yang sama menjelaskan tentang pembatasan kegiatan yang akan dituangkan dalam peraturan daerah. Peraturan tersebut berdasarkan beberapa kriteria.

“Nanti pak gubernurnya akan membuatkan pergub atau kabupaten/kota dengan perkada atau nanti pak menteri dalam negeri akan membuat edaran ke seluruh pimpinan daerah dan tadi sudah disampaikan dalam rapat antara bapak presiden dan seluruh gubernur se-Indonesia,” kata Menko Airlangga Hartarto.

Ketua Tim Mitigasi PB IDI Adib Khumaidi mengatakan, kematian tenaga medis dan kesehatan di Indonesia tercatat paling tinggi di Asia, dan 5 besar di dunia. Bahkan, sepanjang Desember 2020, tercatat 52 tenaga medis dokter meninggal akibat Covid-19.

BACA JUGA :  Luar Bisa Lonjakan per Hari Ini Positif Covid-19 Hingga 8.369 Kasus, Giliran Papua Naik Tertinggi dengan 1.775 Orang

Angka ini naik hingga lima kali lipat dari awal pandemic. Kenaikan jumlah kematian tenaga medis dan tenaga kesehatan merupakan salah satu dampak dari berbagai aktivitas dan mobilitas seperti berlibur, pilkada, dan aktivitas berkumpul bersama teman dan keluarga yang tidak serumah.

Meski pemerintah sudah menyiapkan vaksin gratis untuk masyarakat secara bertahap, bukan berarti vaksin tersebut dapat menjadi obat Covid-19.

“Vaksin dan vaksinasi adalah upaya yang bersifat preventif dan bukan kuratif. Meski sudah ada vaksin dan sudah melakukan vaksinasi, kami menghimbau agar masyarakat tetap menjalankan protokol kesehatan dengan ketat. Karena risiko penularan saat ini berada pada titik tertinggi, di mana rasio positif Covid pada angka 29,4 persen,” ujarnya saat dikonfirmasi, Sabtu (2/2/2021).

Adib melanjutkan, situasi tidak terkendali dapat terjadi jika masyarakat tidak membantu mematuhi protokol kesehatan. “Kami juga mengingatkan kepada pemerintah dan pengelola fasilitas kesehatan, agar memperhatikan ketersediaan alat pelindung diri (APD) bagi para tenaga medis dan kesehatan,” paparnya.

Serta juga memberikan tes rutin, kata Adib, untuk mengetahui status kondisi kesehatan terkini para pekerja medis dan kesehatan. Adib menuturkan, perlindungan bagi tenaga medis dan kesehatan ini adalah mutlak diperlukan. “Kami (para tenaga kedis dan kesehatan) kini bukan hanya menjadi garda terdepan namun juga benteng terakhir,” papar dr Adib.

BACA JUGA :  Kementerian PANRB Terima Penghargaan BPS Awards 2020 sebagai Mitra Terbaik

Ketua Perhimpunan Obstetri dan Ginekolog Indonesia (POGI) dr Ari Kusuma Januarto SpOG(K) menambahkan, seluruh ibu hamil juga diminta menaati protokol kesehatan.

Mengingat, laporan ibu hamil sampai saat ini separuhnya merupakan orang tanpa gejala, maka sebaiknya menahan diri tidak keluar rumah demi keselamatan diri dan bayi dalam kandungan.”Ibu hamil memiliki imun yang lebih rendah selama masa kehamilan,” terang dia.

Sehingga sangat rawan tertular atau terpapar virus, lanjut dr Ari, serta diharap mengikuti protokol testing sesuai di fasilitas kesehatan dan mengikuti anjuran dokter atau bidan menangani.

Meski belum ada penelitian Covid-19 dapat menular pada janin dalam kandungan, ketika seorang ibu hamil sudah terkonfirmasi positif, maka bayi yang baru dilahirkan dapat berpotensi tertular juga karena kontak fisik.

“Maka dari itu lindungi keselamatan diri, bayi dalam kandungan dan bayi baru lahir, dan seluruh orang di sekitar Anda. Dengan tidak keluar rumah serta menerapkan protokol kesehatan dengan disiplin dan ketat,” imbau dr Ari.

Petugas medis dan kesehatan yang meninggal terdiri dari 237 dokter, 15 dokter gigi, 171 perawat, 64 bidan, 7 apoteker, dan 10 tenaga lab medik. Para dokter yang wafat tersebut terdiri dari 101 dokter umum (4 guru besar), dan 131 dokter spesialis (7 guru besar), serta 5 residen, yang keseluruhannya berasal dari 25 IDI Wilayah (provinsi) dan 102 IDI Cabang (Kota/Kabupaten).

BACA JUGA :  BNI Syariah Salurkan Pembiayaan Rp175 Miliar ke PT Pertamina Trans Kontinental

Jawa Timur menjadi provinsi dengan jumlah kematian dokter tertinggi.

Berikut ini data kematian dokter dan tenaga kesehatan berdasarkan provinsi:

  1. Jawa Timur: 46 dokter, 2 dokter gigi, 52 perawat, 1 tenaga lab medik;
  2. DKI Jakarta: 37 dokter, 5 dokter gigi, 24 perawat, 1 apoteker, 1 tenaga lab medik
  3. Jawa Tengah: 31 dokter, 24 perawat, 3 tenaga lab medik;
  4. Sumatera Utara: 24 dokter dan 3 perawat;
  5. Jawa Barat: 24 dokter, 4 dokter gigi, 23 perawat, 4 apoteker, 1 tenaga lab medik;
  6. Sulawesi Selatan: 11 dokter dan 6 perawat;
  7. Banten: 8 dokter dan 2 perawat;
  8. Bali: 6 dokter, 1 tenaga lab medik;
  9. Aceh: 6 dokter, 2 perawat, 1 tenaga lab medik;
  10. Kalimantan Timur: 6 dokter dan 4 perawat;
  11. DI Yogyakarta: 6 dokter dan 2 perawat;
  12. Riau: 5 dokter, 2 perawat;
  13. Kalimantan Selatan: 4 dokter, 1 dokter gigi, dan 6 perawat;
  14. Sumatera Selatan: 4 dokter dan 5 perawat;
  15. Sulawesi Utara: 4 dokter, 1 perawat;
  16. Kepulauan Riau: 3 dokter dan 2 perawat;
  17. Nusa Tenggara Barat: 2 dokter, 1 perawat, 1 tenaga lab medik;
  18. Bengkulu: 2 dokter;
  19. Sumatera Barat: 1 dokter, 1 dokter gigi, dan 2 perawat;
  20. Kalimantan Tengah: 1 dokter, 2 perawat, 1 apoteker;
  21. Lampung: 1 dokter dan 2 perawat;
  22. Maluku Utara: 1 dokter dan 1 perawat;
  23. Sulawesi Tenggara: 1 dokter, 2 dokter gigi, 1 perawat;
  24. Sulawesi Tengah: 1 dokter;
  25. Papua Barat: 1 dokter;
  26. Papua: 2 perawat;
  27. Nusa Tenggara Timur: 1 perawat;
  28. Kalimantan Barat: 1 perawat, 1 tenaga lab medik;
  29. Jambi: 1 apoteker;
  30. DPLN (Daerah Penugasan Luar Negeri) Kuwait 2 perawat, serta 1 dokter masih dalam koonfirmasi verifikasi. (rin/wsa)

 

sumber: WAGroup Keluarga Alumni HMI MPO/

LEAVE A REPLY