Pemerintah Iran menegaskan tidak ada perundingan langsung dengan Amerika Serikat (AS) mengenai Selat Hormuz. Teheran menyatakan seluruh komunikasi yang berlangsung saat ini hanya dilakukan bersama Oman untuk membahas keamanan jalur pelayaran di kawasan strategis itu.
Semarak.co – Pemerintah Iran membantah klaim Presiden AS Donald Trump yang menyebut kedua negara akan segera memulai putaran baru perundingan. Menurut Teheran, hingga saat ini belum ada pembicaraan resmi maupun kontak diplomatik langsung dengan Washington terkait isu Selat Hormuz.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menjelaskan, dialog dengan Oman merupakan kerja sama bilateral antara dua negara yang sama-sama memiliki wilayah pesisir di Selat Hormuz. Pembahasan difokuskan pada keamanan pelayaran dan tidak melibatkan pihak AS.
Baghaei menegaskan situasi di Selat Hormuz telah berubah setelah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Karena itu, menurutnya, mekanisme pengelolaan jalur pelayaran harus disesuaikan dengan kondisi keamanan terbaru demi menjaga stabilitas regional.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi terpenting di dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati perairan sempit tersebut sehingga setiap perkembangan politik maupun militer di kawasan selalu menjadi perhatian pasar internasional.
Ketidakpastian mengenai keamanan Selat Hormuz berpotensi memengaruhi harga minyak dunia dan biaya distribusi energi. Sejumlah analis menilai setiap eskalasi konflik di kawasan Teluk dapat meningkatkan risiko terhadap rantai pasok energi global. Demikian dilansir Antara dari Reuters dan InvestorTrust (4/8/2026).
Di tengah situasi itu, Oman kembali memainkan peran sebagai mediator yang menjembatani komunikasi berbagai pihak di Timur Tengah. Negara itu selama ini dikenal memiliki hubungan diplomatik yang relatif baik dengan Iran maupun AS sehingga sering dipercaya menjadi fasilitator dalam isu-isu sensitif.
Meski peluang dialog tetap terbuka, pemerintah Iran menegaskan belum ada agenda perundingan langsung dengan Washington. Perkembangan selanjutnya akan sangat bergantung pada dinamika politik dan keamanan di kawasan dalam beberapa pekan mendatang. (net/ant/rts/it/kim/smr)





