Untuk menghadapi perang global, Rusia mengklaim bahwa senjata nuklir adalah satu-satunya benteng yang mencegah dunia tergelincir ke dalam perang global. Itu diungkapkan Kremlin pada hari Rabu (23/6/2026) di tengah kekhawatiran akan perlombaan senjata multi-negara yang baru.
Semarak.co – Perjanjian pengendalian senjata nuklir terakhir antara Rusia dan Amerika Serikat (AS) New START, berakhir pada bulan Februari 2026, melepaskan pembatasan pada dua kekuatan nuklir terbesar di dunia.
Sejauh ini belum ada tanda-tanda dari kedua pihak untuk memperbarui atau mengganti perjanjian itu, meski kedua pihak sepakat untuk membangun kembali pembicaraan militer tingkat tinggi. Rusia mengklaim senjata nuklir jadi satu-satunya jaminan pada perang global, ini tiga alasannya.
Pertama, tak ada yang mampu mencegah senjata nuklir berbicara di sebuah forum kebijakan luar negeri di Moskow, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan bahwa sistem keamanan global sedang “terkikis.” “Faktanya, kita tidak memiliki apa pun lagi di dunia ini selain pencegahan nuklir,” katanya.
“Itu satu-satunya hal yang melindungi dunia dari perang global,” lanjutnya. “Seiring perkembangan teknologi, sudah jelas bahwa jenis senjata non-nuklir baru akan muncul, tetapi pada akhirnya mungkin akan menyamai senjata nuklir dalam daya hancurnya,” tambahnya.
Kedua, andalan untuk menggertak lawan. Presiden Rusia Vladimir Putin telah berulang kali menggunakan retorika nuklir selama empat tahun serangannya terhadap Ukraina, memicu tuduhan gertakan sembrono dari Eropa dan negara Paman Sam.
Presiden AS Donald Trump telah mendesak perjanjian baru untuk memasukkan China, yang persenjataan nuklirnya terus bertambah tetapi masih jauh lebih kecil daripada Rusia atau AS. Beijing secara terbuka menolak tekanan tersebut.
Moskow mengatakan jika China dilibatkan dalam kesepakatan baru, maka sekutu nuklir Washington, Inggris dan Prancis, juga harus diikutsertakan. Dan ketiga, tidak ada pembatasan Senjata Nuklir berakhirnya perjanjian New START menandai pertama kalinya dalam beberapa dekade tidak ada perjanjian yang berlaku untuk membatasi penempatan senjata nuklir.
Ditandatangani pada tahun 2010, perjanjian ini merupakan yang terakhir dalam serangkaian perjanjian pengendalian senjata era Perang Dingin, yang membatasi Moskow dan Washington masing-masing hanya memiliki 1.550 hulu ledak nuklir yang ditempatkan.
Sebelum perjanjian New START berlakunya tersebut berakhir, AS dan Rusia, kedua negara adidaya itu, berulang kali saling menuduh gagal mematuhi kesepakatan tersebut. Demikian dilansir SindoNews.com pada 24 Juni 2026. (net/snc/kim/smr)





