Ibu kota Ukraina, Kyiv, kembali diterjang serangkaian serangan udara Rusia pada hari Selasa, 1 September 2026, dan menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai sejumlah warga, ketika ketegangan perang memasuki fase semakin intensif.
Semarak.co – Serangan tersebut menjadi hari keenam berturut-turut ketika Kyiv menghadapi gelombang serangan udara, memerlihatkan peningkatan tekanan militer Rusia terhadap kawasan perkotaan dan infrastruktur strategis Ukraina dalam beberapa hari terakhir.
Dilansir Kantor Berita Inggris, Reuters (1/9/2026), yang melaporkan bahwa serangan menggunakan kombinasi rudal balistik, rudal jelajah, drone berjenis jet serta ratusan drone dan umpan, sehingga sistem pertahanan udara Ukraina menghadapi ancaman berlapis.
Enam pekerja perusahaan kereta api negara Ukrzaliznytsia termasuk korban tewas setelah fasilitas perkeretaapian Kyiv di Ukraina terkena serangan. Seorang warga negara India juga dilaporkan meninggal dalam serangan tersebut.
Di wilayah Boryspil, sebelah timur Kyiv, serangan menghantam bangunan permukiman dan sejumlah fasilitas lainnya. Empat orang dinyatakan tewas, sementara 13 orang dilaporkan mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.
Serangan juga menyebabkan kebakaran dan kerusakan pada bangunan permukiman serta fasilitas kereta api. Ratusan petugas darurat dikerahkan untuk memadamkan api, menyelamatkan korban dan membersihkan puing.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy kembali menyerukan penguatan pertahanan udara, sementara Menteri Luar Negeri Andrii Sybiha meminta tekanan ekonomi lebih besar terhadap Moskwa serta tambahan bantuan dari sekutu internasional.
Kyiv menghadapi kekurangan pencegat Patriot buatan Amerika Serikat (AS), senjata penting untuk menghadapi rudal balistik. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap kemampuan Ukraina melindungi kota dari serangan berikutnya.
Serangan Rusia turut menghantam wilayah Odesa, termasuk fasilitas pelabuhan dan penyeberangan perbatasan menuju Rumania. Kerusakan tersebut berpotensi mengganggu ekspor Ukraina melalui jalur Laut Hitam dan Danube.
Di tengah eskalasi tersebut, upaya diplomatik untuk mengakhiri perang masih menghadapi kebuntuan. Perselisihan wilayah dan perkembangan konflik internasional turut mempersulit prospek negosiasi damai antara kedua pihak.
Situasi terbaru menunjukkan bahwa perang Rusia-Ukraina masih memberikan dampak besar terhadap kehidupan masyarakat sipil. Kyiv kini memerkuat kesiagaan menghadapi kemungkinan serangan lanjutan dalam beberapa hari mendatang. (net/rts/kim/smr)





