Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengingatkan umat Islam agar tidak lagi terjebak dalam polemik berkepanjangan mengenai perbedaan mazhab, terutama antara Sunni dan Syiah.
Semarak.co – Kondisi dunia Islam saat ini menuntut sikap yang lebih bijak dengan mengutamakan persatuan dibanding memperbesar perbedaan internal. Berbagai konflik dan ketegangan geopolitik yang berkembang di Timur Tengah seharusnya menjadi peringatan bagi umat Islam untuk menguatkan solidaritas.
Ia menilai, perdebatan mazhab yang terus dipelihara justru dapat melemahkan posisi umat di tengah situasi global yang semakin kompleks. Dalam pandangannya, tantangan yang dihadapi dunia Islam saat ini jauh lebih besar dibandingkan sekadar perbedaan teologis.
“Karena itu, saya mengajak umat Islam untuk mengesampingkan polemik lama dan memprioritaskan kebersamaan. Lupakan semuanya. Lupakan perbedaan mazhab. Mari kita bersama-sama menghadapi Israel dan Amerika. Sudah, itu saja. Hidup atau mati”, ujarnya.
KH Said juga mengingatkan bahwa dalam perjalanan sejarah Islam, berbagai aliran dan kelompok pernah muncul dengan pandangan yang berbeda-beda. Namun, seiring waktu, sebagian besar dari kelompok tersebut tidak lagi eksis hingga masa kini.
“Dulu itu banyak sekali. Ada Khawarij, Jabariyah, Qadariyah, Murji’ah. Tapi yang hidup sampai sekarang tinggal dua ini, Sunni dan Syiah,” terang KH Said seperti indonesiasketsa.com, 14 Maret 2026 melalui WAGroup HMI-KAHMI MPO SEDUNIA (postSabtu14/3/2026/wakeup).
KH Said menilai, kenyataan bahwa hanya dua kelompok besar tersebut yang masih bertahan hingga sekarang seharusnya menjadi pelajaran bahwa perbedaan dalam Islam memang tidak bisa dihapuskan sepenuhnya.
Karena itu, menurut dia, pendekatan yang lebih tepat adalah mengelola perbedaan tersebut dengan sikap saling menghormati, bukan memperuncing konflik. Kekuatan umat Islam akan jauh lebih besar apabila mampu membangun persatuan lintas mazhab.
“Dengan solidaritas yang kuat, umat Islam dinilai dapat menghadapi berbagai tekanan politik global sekaligus memperkuat posisi mereka dalam percaturan dunia internasional,” pungkas KH Said Aqil Siroj. (net/isc/smr)





