Presiden Republik Iran Masoud Pezeshkian pada hari Ahad, 18 Januari 2026, mengeluarkan peringatan, serangan Amerika Serikat ke negaranya akan memprovokasi sebuah respons keras dari pemerintah negaranya.
Semarak.co – “Dan jika serangan (Amerika Serikat) itu sampai mengakibatkan terbunuhnya Pemimpin Tertinggi Republik Iran Ayatollah Ali Khamenei itu berarti akan sama dengan perang berskala besar terhadap bangsa Iran,” kata Presiden Iran.
Ancaman yang dilontarkan oleh Pezeshkian, seperti dilansir Republika.co.id dari Times of Israel, muncul di tengah petunjuk dari pihak pengadilan Iran yang akan tetap melaksanakan eksekusi terhadap orang-orang yang terbukti sebagai dalang kerusuhan.
Pada hari Ahad itu, akses internet di Iran sempat diaktifkan kembali, namun kemudian kembali diputus total setelah salah satu operator seluler besar di Iran, Irancell, dinilai tak patuh atas kebijakan pemutusan akses internet yang telah ditetapkan.
Lewat unggahannya di X, Presiden Masoud Pezeshkian mengatakan, ” Sebuah serangan terhadap pemimpin tertinggi kami (Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei) adalah sama dengan sebuah perang berskala besar dengan bangsa Iran.”
Dalam unggahannya tersebut, Pezeshkian juga menyalahkan Amerika Serikat dan sekutunya atas kondisi sulit yang dialami rakyat Iran. Meski telah berulang kali menebar ancaman akan menyerang Iran, Trump belakangan menunda aksi militer apapun terhadap Iran.
Namun, AS hingga kini terus mengirim aset-aset militer mereka menuju kawasan Timur Tengah, termasuk beberapa kapal induk. Dilaporkan media Israel, Ynet, Presiden AS Donald Trump sebenarnya sudah siap mengeksekusi rencana serangan Iran pada Rabu atau Kamis malam pekan lalu.
Lewat suatu serangan yang dahsyat, cepat dan dalam waktu yang singkat, diharapkan berujung pada tergulingnya rezim Iran yang dipimpin Ayatollah Ali Khamenei. Namun, para penasihat Trump dan para jenderal di Pentagon tidak mampu memberikan jaminan.
Bahwa serangan yang diinginkan Trump dapat langsung menggulingkan Khamenei. Sebuah operasi militer yang singkat dan kuat memerlukan persiapan ekstensif, contohnya yang terjadi di Venezuela yang didahului dengan persiapan selama beberapa pekan.
“Yang pasti adalah serangan terhadap Iran akan memicu serangan balasan. Pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah akan dibombardir Iran, Israel pun akan dipaksa untuk ikut berkonfrontasi dan menerima kiriman berondongan rudal dan drone.”
“Dan industri energi sekutu Amerika Serikat di Teluk juga akan diserang Iran. Serangan balasan Iran akan mengerek harga minyak dunia dan ongkos produksi, termasuk di Amerika Serikat,” demikian laporan yang dimuat Ynet.
Sementara itu, seorang sumber di Istana Gedung Putih yang dikutip New York Times (NYT), mengungkap bahwa, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berhasil meyakinkan Donald Trump untuk menunda serangan ke Iran.
Israel tak yakin rezim Iran saat ini bisa digulingkan tanpa melalui sebuah aksi militer jangka panjang. Sumber lain menyebut, atas dasar itulah, Israel khawatir serangan balasan Iran lewat hujan rudal nantinya tak mampu dibendung oleh Israel.
Permintaan Netanyahu agar Trump menunda serangan terhadap Iran juga dikuatkan laporan NYT pada Kamis (15/1). Dalam laporannya, NYT juga menyebutkan, tidak hanya Israel, tapi juga beberapa negara Arab khawatir Iran akan melancarkan serangan balik terhadap mereka yang memiliki pangkalan udara AS.
Laporan New York Times (NYT) mengutip seorang sumber pejabat senior Amerika Serikat dan mengatakan, Netanyahu “meminta Presiden Trump untuk menunda rencana serangan militer negara Paman Sam terhadap Iran.
Namun, NYT tidak menerangkan alasan mengapa Netanyahu, yang biasanya sangat mendukung rencana serangan AS terhadap Iran, kini malah meminta Trump menunda serangan. NYT juga tidak mengelaborasi subjudul artikelnya yang menyebut Israel takut atas serangan balasan Iran. (net/rci/yt/nyt/kim/smr)





