Arab Saudi Siapkan Serangan Besar terhadap Houthi, Lebih dari 100 Ribu Pasukan disiapkan

Arab Saudi dilaporkan sedang mempersiapkan operasi militer terhadap kelompok Syiah Houthi di negara Yaman, menyusul meningkatnya serangan rudal dan drone serta perebutan kawasan strategis sepanjang Laut Merah.

Semarak.co – Menurut laporan kantor berita Inggris, Reuters (3/10/2026), Riyadh memertimbangkan operasi untuk merebut kembali wilayah sekitar Selat Bab el-Mandeb, jalur pelayaran penting yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden serta kawasan Samudra Hindia.

Bacaan Lainnya

Rencana tersebut dapat dilaksanakan dalam beberapa minggu mendatang, tetapi waktu pastinya belum ditentukan. Sejumlah pejabat mengatakan operasi mungkin dimulai lebih cepat atau ditunda hingga setelah pemilu Amerika Serikat pada November 2026.

Operasi akan mengandalkan pasukan Yaman yang berada di bawah pengawasan Riyadh. Arab Saudi diperkirakan memberikan dukungan melalui serangan udara, intelijen, persenjataan, serta bantuan operasional lainnya selama berlangsungnya operasi tersebut.

Pejabat regional dan pejabat dari Barat yang mengetahui persiapan serangan tersebut mengatakan terdapat dua pilihan utama. Pertama, serangan terbatas di sekitar Bab el-Mandeb untuk mengamankan jalur pelayaran strategis.

Pilihan kedua adalah operasi lebih luas dengan serangan serentak pada sejumlah front di wilayah Yaman. Kawasan yang disebut mencakup Al-Bayda, Marib, Taiz dan Al-Jawf, selain kawasan pesisir negara tersebut.

Jika opsi operasi besar dipilih, lebih dari 100.000 pasukan militer Yaman berpotensi juga dikerahkan. Jumlah tersebut akan bergantung pada sasaran, luas wilayah operasi, serta perkembangan pertempuran di lapangan.

Bab el-Mandeb menjadi perhatian utama Riyadh karena merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis dunia. Penguasaan kawasan tersebut memberikan posisi penting terhadap perdagangan dan pelayaran internasional.

Jalur tersebut semakin penting karena konflik regional membuat rute melalui Selat Hormuz menghadapi gangguan. Karena itu, keamanan Bab el-Mandeb menjadi kepentingan strategis bagi negara Kerajaan Saudi Arabia.

Kantor berita Britania Raya Reuters melaporkan Houthi sebelumnya bergerak maju sepanjang pesisir Laut Merah dan menguasai sejumlah wilayah serta kawasan dekat Bab el-Mandeb, sehingga meningkatkan kekhawatiran Riyadh.

Situasi tersebut juga mempersempit ruang diplomasi. Pejabat Barat dan Teluk mengatakan Riyadh menilai pembicaraan perdamaian baru sulit dilakukan selama Houthi mempertahankan kendali atas Bab el-Mandeb.

Ketegangan semakin meningkat setelah Houthi meningkatkan serangan menggunakan rudal dan drone terhadap wilayah Arab Saudi, termasuk sasaran yang berkaitan dengan infrastruktur energi di kerajaan tersebut.

Pada hari Sabtu, 3 Oktober 2026, kelompok Syiah Houthi yang didukung Iran mengklaim telah menyerang fasilitas Saudi Aramco di Riyadh menggunakan rudal balistik dan drone sebagai balasan terhadap serangan Saudi.

Seorang saksi kantor berita Reuters melaporkan melihat kepulan asap dan api besar di sekitar fasilitas Aramco di Riyadh. Namun, pemerintah Saudi belum memberikan konfirmasi segera mengenai serangan tersebut.

Aramco juga belum memberikan tanggapan langsung ketika Reuters meminta keterangan mengenai insiden tersebut. Karena itu, rincian kerusakan fasilitas maupun korban belum dapat dipastikan secara independen.

Serangan terhadap fasilitas energi menjadi perhatian serius karena infrastruktur minyak Arab Saudi merupakan bagian penting perekonomian kerajaan sekaligus memiliki pengaruh terhadap stabilitas pasar energi global.

Sebelumnya, kelompok Syiah dukungan Iran tersebut berani mengklaim menyerang fasilitas Aramco di Yanbu menggunakan rudal dan drone. Saudi Arabia mengatakan telah mencegat enam rudal balistik menuju Taif dan Yanbu.

Pihak Riyadh kini menghadapi dilema antara memperluas operasi militer atau menjaga keamanan di wilayahnya sendiri. Serangan lebih besar akan berpotensi meningkatkan tekanan terhadap fasilitas strategis serta kota-kota Saudi.

Amerika Serikat (AS) disebut memberikan dukungan intelijen kepada operasi Arab Saudi, termasuk informasi penargetan. Namun, Washington belum dipastikan akan terlibat langsung dalam operasi tempur melawan kelompok Houthi.

Turki dan Pakistan disebut memberikan bantuan militer serta penasihat, sementara beberapa negara Eropa menyediakan sistem pertahanan. Namun, sekutu Saudi diperkirakan tidak terlibat langsung dalam pertempuran.

Rencana operasi besar-besaran tersebut menandai meningkatnya kembali konflik tajam antara Saudi-Houthi setelah gencatan senjata 2022 relatif bertahan selama beberapa tahun sebelum ketegangan kembali meningkat pada 2026.

Jika operasi benar-benar dilaksanakan, pertempuran berpotensi kembali meluas di Yaman. Dampaknya juga dapat dirasakan pada keamanan pelayaran Laut Merah dan perdagangan internasional melalui kawasan tersebut.

Para pejabat yang mengetahui rencana tersebut belum memberikan kepastian mengenai tanggal serangan. Perkiraan waktunya masih berubah, mulai beberapa hari mendatang hingga setelah pemilu di negeri Paman Sam pada November 2026.

Dengan meningkatnya serangan dan persiapan militer, perhatian internasional kini tertuju pada Bab el-Mandeb. Perkembangan kawasan tersebut berpotensi menentukan arah konflik Saudi-Houthi dalam beberapa minggu mendatang. (net/rts/kim/smr)

Pos terkait