Komunitas Salihara Arts Center resmi membuka pameran Figur pada Kamis, 1 Oktober 2026 di Galeri Salihara, Jalan Salihara Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Adapun pameran patung ini berlangsung dari 2 Oktober hingga 22 November 2026.
Semarak.co – Dikuratori Asikin Hasan, pameran ini menghadirkan karya dua belas pematung dari lintas generasi, yaitu G. Sidharta Soegijo, Nyoman Nuarta, Dolorosa Sinaga, Yani Mariani, Koko Sondaka, Bambang Winaryo, Dunadi, Purjito, Abdi Setiawan, Adi Gunawan, Alfiah Rahdini, dan Dzikra Afifah.
Asikin Hasan menilai bahwa pertemuan 12 pematung dalam pameran ini memperlihatkan perkembangan seni patung Indonesia melalui pengolahan medium, teknik, sekaligus cara baru dalam memaknai figur.
“Dari dua belas pematung dengan karya-karyanya di ruang pamer ini, kita tidak hanya melihat para pematung mematangkan penggunaan medium dan teknik, tapi juga tafsir baru atas figure,” ujar Asikin dirilis humas Komunitas Salihara melalui pesan elektronik redaksi semarak.co, Jumat (2/10/2026).
Figur menjadi titik berangkat yang mempertemukan kedua belas pematung dalam pameran ini. Mereka sama-sama menempatkan figur sebagai idiom utama, tetapi mengembangkannya melalui pengalaman, gagasan, teknik, dan pilihan material yang berbeda.
Karena itu, figur tidak selalu hadir sebagai gambaran tubuh manusia yang utuh dan menyerupai kenyataan, tetapi dapat muncul dalam bentuk yang terpiuh, menggelembung, terpotong, lentur, hingga berkembang menjadi instalasi.
Praktik seni patung berdasarkan kebebasan individu di Indonesia telah berlangsung sekitar tujuh dekade. Salah satu jejaknya dapat dilihat pada pameran patung figur di halaman depan kantor DPRD Yogyakarta pada era 1950-an.
Pameran tersebut menampilkan karya para pematung yang tergabung dalam Sanggar Pelukis Rakyat, di antaranya Hendra Gunawan, Edhi Sunarso, dan Trubus Soedarsono. Karya-karya tersebut dibuat dari batu andesit dengan teknik pahat yang dipelajari secara otodidak.
Seiring perkembangannya, seni patung Indonesia hadir dengan kemungkinan bentuk, teknik, dan material yang semakin beragam. Tradisi pahat kayu dan batu tetap berjalan berdampingan dengan penggunaan serat gelas, logam, hingga teknologi cetak digital trimatra.
Perkembangan ini turut mengubah cara pematung memperlakukan figur manusia. Figur tidak lagi semata-mata dibuat untuk menyerupai bentuk aslinya, tetapi dapat disimpangi, diperbesar, dipotong, atau diolah mengikuti gagasan artistik masing-masing.
Dalam Figur, perkembangan tersebut terlihat melalui karya pematung dari beberapa generasi. G. Sidharta Soegijo, sebagai salah satu pematung senior yang hadir dalam pameran ini, memiliki perjalanan panjang dalam mengembangkan seni patung figur sekaligus karya-karya abstrak dan eksperimental.
Pada dekade 1970-an, ia mempertemukan pematung dari Yogyakarta dan Bandung dalam sebuah pameran bersama di Jakarta. Dari pertemuan tersebut, Sidharta menggunakan istilah seni patung kontemporer Indonesia untuk menyebut perkembangan praktik seni patung yang saat itu tengah berlangsung.
Pilihan terhadap figur juga terlihat dalam perjalanan Nyoman Nuarta, yang sejak masa pendidikan memilih mengembangkan seni patung figur di tengah kecenderungan abstraksi yang berkembang di lingkungannya.
Dolorosa Sinaga mengolah figur melalui tubuh-tubuh ringkih dan sosok perempuan yang berkaitan dengan persoalan ketidakadilan, protes sosial, serta isu perempuan. Sementara itu, Yani Mariani mengeksplorasi gerak tubuh manusia melalui material.
Seperti serat gelas dan logam, menghadirkan figur yang tampak memutar, melayang, mengambang, atau hendak terbang. Pada generasi berikutnya, pendekatan terhadap figur berkembang melalui pengalaman dan eksperimen yang berbeda.
Koko Sondaka, Bambang Winaryo, Dunadi, dan Purjito memiliki pengalaman dalam mengembangkan patung figur, termasuk karya berskala besar untuk ruang publik. Abdi Setiawan mengolah pahatan kayu dengan perhatian pada kehidupan subkultur perkotaan.
Sedangkan Adi Gunawan mengeksplorasi figur-figur tambun dengan menghadirkan unsur humor dalam karya-karyanya. Kemungkinan lain ditawarkan oleh Alfiah Rahdini dan Dzikra Afifah. Alfiah menggunakan tubuhnya sendiri sebagai medium untuk menghasilkan cetakan negative.
Sementara Dzikra bekerja dengan tanah liat yang dibakar dalam bentuk potongan-potongan sebelum disusun kembali menjadi instalasi. Keduanya memperlihatkan bagaimana praktik seni patung dapat bergerak melampaui pemahaman konvensional mengenai patung sebagai objek tiga dimensi yang berdiri sendiri.
Melalui karya dua belas pematung tersebut, Figur memperlihatkan bahwa satu idiom dapat melahirkan beragam kemungkinan artistik. Figur tetap menjadi pangkal bertolak, tetapi pengalaman, pengetahuan, dan eksperimen masing-masing pematung membawa bentuknya ke arah yang berbeda.
Keragaman itu sekaligus menunjukkan bagaimana seni patung Indonesia terus berkembang, bukan hanya melalui penguasaan medium dan teknik, tetapi juga melalui cara baru dalam melihat dan menafsirkan figur.
Pameran Figur dapat dikunjungi hingga 22 November 2026 di Galeri Salihara, setiap Selasa sampai Minggu pukul 11.00–19.00 WIB, dengan kunjungan terakhir pada pukul 18.30 WIB. Tiket pameran seharga Rp25.000 untuk kunjungan Selasa–Jumat dan Rp35.000 untuk Sabtu–Minggu.
Anak dan pelajar hingga jenjang S1 dapat mengunjungi pameran secara gratis dengan datang langsung ke Galeri Salihara. Pada Senin dan hari libur nasional, Galeri Salihara tutup. (hms/slhr/smr)





