Penguatan ketahanan keluarga menjadi salah satu kunci dalam mendampingi remaja menghadapi berbagai tantangan di era digital. Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (Wamendukbangga/Waka BKKBN) Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka saat jadi keynote speaker Webinar Nasional.
semarak.co – Yaitu dalam rangka HUT ke-70 PIA Ardhya Garini bertema Membentengi Remaja dari Krisis Era Digital: Kecanduan Gadget, Bahaya Narkoba, dan Perilaku Menyimpang yang dilaksanakan secara daring (dalam jaringan) atau online melalui Zoom Meeting, Rabu (9/9/2026).
“Jangan sampai waktu untuk tumbuh justru habis untuk scrolling. Karena itu, tugas kita bukan sekadar menjauhkan anak dari teknologi. Kita perlu membekali mereka dengan kemampuan untuk menggunakan teknologi secara sehat, aman, dan bertanggung jawab,” ujar Wamendukbangga Isyana.
Kemampuan tersebut tidak cukup dibangun melalui larangan semata, lanjut Wamendukbangga Isyana, tetapi membutuhkan pendampingan agar remaja mampu belajar mengendalikan diri, memahami risiko, serta menggunakan teknologi secara bijak.
Masa remaja merupakan fase penting dalam pembentukan identitas, karakter, kemandirian, relasi sosial, serta kemampuan mengambil keputusan yang akan memengaruhi masa depan. Pada fase ini, kemampuan kontrol diri remaja masih berkembang.
Dilanjutkan Wamendukbangga Isyana, sementara lingkungan digital menghadirkan berbagai stimulus secara terus-menerus melalui notifikasi, likes, video pendek, gim, dan beragam konten yang memberikan respons secara cepat.
Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian keluarga agar penggunaan teknologi tidak memberikan dampak negatif terhadap konsentrasi, emosi, perilaku, interaksi sosial, maupun pola tidur remaja. Keluarga tetap menjadi benteng pertama bagi remaja dalam menghadapi derasnya pengaruh lingkungan digital dan pergaulan dengan teman sebaya.
Orang tua perlu hadir dengan membangun komunikasi yang terbuka, mendengarkan, memahami pergaulan serta kehidupan digital anak, dan memberikan pendampingan sebelum persoalan muncul. Penguatan ketahanan keluarga juga perlu didukung melalui keterlibatan ayah dalam pengasuhan.
Antara lain melalui Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), serta peningkatan kapasitas keluarga melalui Bina Keluarga Remaja (BKR). Di sisi lain, remaja perlu mendapatkan ruang yang positif untuk belajar, berinteraksi, dan mengembangkan potensi melalui Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) dan Generasi Berencana (GenRe).
Kemendukbangga/BKKBN saat ini memiliki 41.103 PIK-R di seluruh Indonesia, yang terdiri atas 18.423 PIK-R jalur pendidikan dan 22.680 PIK-R jalur masyarakat, dengan sekitar 440 ribu anggota GenRe.
Melalui ekosistem tersebut, remaja didorong untuk membangun pertemanan yang positif, memperoleh informasi yang tepat, mengembangkan kapasitas diri, serta mempersiapkan pendidikan, karier, kesehatan reproduksi, dan kehidupan berkeluarga.
Peran konselor sebaya juga menjadi penting karena remaja kerap merasa lebih nyaman untuk berbagi cerita dan mencari dukungan dari teman seusianya. Wamendukbangga Isyana menegaskan, upaya membangun remaja yang tangguh membutuhkan kolaborasi antara keluarga, sekolah, pemerintah.
Lalu masyarakat, dan berbagai komunitas. Pembangunan sumber daya manusia untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045 harus dimulai dari keluarga melalui komunikasi yang terbuka, pendampingan yang berkelanjutan, serta penciptaan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak dan remaja.
“Indonesia Emas 2045 tidak dibangun nanti. Indonesia Emas 2045 kita bangun mulai hari ini, melalui anak-anak dan remaja yang sedang tumbuh di dalam keluarga kita,” tegas Wamendukbangga Isyana dirilis humas usai acara melalui WAGroup Jurnalis Kemendukbangga/BKKBN, Kamis (10/9/2026).
Sejalan dengan itu, sebagai narasumber Direktur Bina Ketahanan Remaja Kemendukbangga/BKKBN dr. Irma Ardiana, MAPS menyampaikan bahwa remaja merupakan kelompok strategis dalam pembangunan kependudukan karena akan menjadi bagian dari generasi usia produktif sekaligus penerus bangsa.
Namun, pada fase tersebut remaja menghadapi berbagai tantangan, antara lain tekanan akademik, ketidakpastian masa depan, rendahnya literasi kesehatan jiwa, paparan konten dewasa dan perilaku berisiko, serta semakin minimnya kelekatan dengan keluarga.
Kondisi tersebut dapat menjadi semakin kompleks ketika remaja berada dalam lingkungan pertemanan yang tidak sehat. “Remaja itu mengalami kelekatan yang minimal dengan keluarga. Mereka tingkat loneliness-nya tinggi. Dan ini juga diperparah dengan bahwa mereka berada pada sirkel-sirkel pertemanan yang tidak sehat,” ujar dr. Irma.
Tekanan teman sebaya atau peer pressure turut menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi perilaku berisiko pada remaja. Karena itu, orang tua perlu memahami lingkungan pertemanan anak sekaligus membangun komunikasi yang terbuka, hangat, dan berkelanjutan di dalam keluarga. (hms/bkn/smr)





