Situasi keamanan di Timur Tengah kembali memasuki fase yang semakin tegang setelah Amerika Serikat (AS) dan Arab Saudi melancarkan operasi militer di Irak, sementara Iran mengklaim telah menyerang pangkalan militer AS di Yordania.
Semarak.co – Rangkaian aksi saling balas, memunculkan kekhawatiran, konflik akan meluas ke lebih banyak negara di kawasan. AS menyatakan sistem pertahanannya berhasil mencegat seluruh rudal yang diluncurkan Iran ke arah pasukan AS di kawasan Timur Tengah.
Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyebut tidak ada rudal yang berhasil mencapai sasaran. Namun, seperti dilansir Arrahmah.id pada 29 Juli 2026, pihak militer AS tidak mengungkap jumlah rudal maupun lokasi pasti peluncurannya.
Di saat hampir bersamaan, Washington bersama Arab Saudi mengonfirmasi telah melakukan serangan udara terhadap sejumlah target di Irak. Operasi itu disebut menyasar kelompok-kelompok bersenjata yang dianggap memiliki hubungan dengan Iran.
Pemerintah AS menegaskan serangan dilakukan sebagai respons atas berbagai aksi yang sebelumnya mengancam kepentingan AS di kawasan. Militer AS juga mengingatkan, setiap serangan baru terhadap personel AS maupun fasilitas energi Arab Saudi akan dibalas dengan tindakan yang lebih besar.
Arab Saudi mengakui ikut terlibat dalam operasi militer berkoordinasi dengan CENTCOM. Kemenhan Saudi menyatakan sasaran operasi merupakan kelompok bersenjata yang dituding menyerang fasilitas minyak kerajaan. Riyadh menegaskan tak menginginkan perang yang lebih luas, tetapi siap memertahankan keamanan nasionalnya.
Di Irak, kelompok Al-Hashd Asy-Sya’bi atau Popular Mobilization Forces (PMF) mengonfirmasi bahwa sejumlah markas mereka telah menjadi sasaran serangan udara. Serangan tersebut dilaporkan terjadi di Provinsi Ninawa, Basrah dan Wasith.
PMF mengklaim sedikitnya 20 orang tewas serta 32 lainnya mengalami luka-luka. Jumlah korban disebut masih mungkin bertambah seiring proses evakuasi di lokasi. Perdana Menteri Irak Ali Al-Zaidi segera menggelar rapat darurat Dewan Keamanan Nasional menyusul memburuknya situasi.
Pemerintah Irak berupaya mencegah konflik regional semakin meluas ke wilayah negaranya. Sebelumnya, Arab Saudi juga mengaku berhasil menembak jatuh sejumlah drone yang disebut berasal dari kelompok pro-Iran di Irak.
Namun, beberapa faksi bersenjata Irak membantah tuduhan tersebut dan menegaskan tidak terlibat. Koalisi yang menamakan diri Perlawanan Islam di Irak justru mengisyaratkan bahwa serangan drone dilakukan kelompok Houthi dari Yaman.
Seorang pejabat militer Iran juga membantah keterlibatan Teheran dalam peluncuran proyektil dari negara lain menuju Arab Saudi. Menurutnya, tidak semua serangan terhadap kepentingan AS di kawasan dapat dikaitkan dengan Iran.
Di sisi lain, Garda Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan telah meluncurkan rudal balistik ke pangkalan militer Paman Sam di Yordania. Republik Iran menyebut serangan itu sebagai bentuk balasan terhadap tekanan militer Washington.
Media Amerika melaporkan seluruh rudal tersebut berhasil dicegat sebelum mencapai target. Sementara militer Yordania juga mengklaim telah menghancurkan lima rudal militer Iran yang mengarah ke wilayah negaranya.
Lokasi sasaran yang dimaksud tidak dijelaskan secara rinci. IRGC memeringatkan bahwa serangan lanjutan akan dilakukan apabila militer Paman Sam terus meningkatkan aktivitas militernya di kawasan itu.
Yordania mengungkapkan, sepanjang Juli mereka telah mencegat puluhan rudal balistik dan drone yang berasal dari Iran maupun dari arah Irak. Perkembangan terbaru ini dinilai memerbesar risiko meluasnya konflik di Timur Tengah.
Keterlibatan langsung Arab Saudi dalam operasi bersama AS menjadi salah satu perkembangan yang paling mendapat perhatian. Para analis menilai sasaran utama operasi itu adalah melemahkan kemampuan kelompok bersenjata di Irak dalam melancarkan serangan drone dan rudal.
Sementara itu, laporan Associated Press (AP) yang mengutip kajian Center for Strategic and International Studies (CSIS) menyebut stok rudal pencegat Patriot dan THAAD milik AS terus berkurang dampak dari konflik yang berkepanjangan.
Kondisi tersebut dinilai dapat memengaruhi kemampuan Washington dalam menghadapi serangan apabila eskalasi di Timur Tengah yang berlangsung sengit dan membara pasca ditandatanganinya nota kesepahaman (MoU) antara AS-Iran, terus meningkat. (net/aid/ap/axs/csis/kim/smr)





